Home / Daerah

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:04 WIB

Andra Soni Soroti Ketahanan Pangan, Provinsi Banten Tembus Delapan Besar Lumbung Beras Nasional

BagusNews.Co – Gubernur Banten Andra Soni mengungkapkan Provinsi Banten saat ini menempati peringkat delapan besar nasional dalam produksi beras. Pencapaian tersebut menempatkan Banten dalam kategori daerah dengan ketahanan pangan yang sangat tangguh berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan.

​Hal itu disampaikan Andra Soni saat menghadiri kegiatan Tanam Perdana Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) di Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa, 5 Mei 2026.

​“Alhamdulillah, pada tahun 2025, luas panen padi di Provinsi Banten mencapai 345.421 hektare dengan total produksi mencapai 1,8 juta ton,” ujar Andra.

​Pencapaian tersebut mengukuhkan posisi Banten sebagai produsen padi terbesar kedelapan di tingkat nasional. Prestasi ini juga sejalan dengan pencapaian Indeks Ketahanan Pangan Banten yang terus dipertahankan selama enam tahun berturut-turut.

​Andra berharap, program modernisasi pertanian dari Kementan dapat memacu pertumbuhan sektor pertanian di wilayahnya. Terlebih, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di Banten mencatatkan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 9,60 persen. Pihaknya bersama jajaran pemerintah kabupaten dan kota menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi Kementan demi menjaga ketahanan pangan.

​“Sistem pertanian modern ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Berdasarkan penelitian, hasil panen yang awalnya 3,25 hingga 4,5 ton per hektare bisa meningkat menjadi 5,1 hingga 7,5 ton per hektare. Bahkan, pada kondisi optimal, produktivitasnya dapat menembus 10 ton per hektare,” jelasnya.

Baca Juga :  Percepatan Pembentukan Kopdes Merah Putih, Menko Zulhas : Koperasi Harus Jadi Soko Guru Ekonomi Rakyat

​Selain itu, Andra menilai mekanisasi pertanian akan menekan biaya produksi, dan pada akhirnya mendongkrak kesejahteraan petani.

​Peningkatan produksi ini juga diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki sekitar 3,5 juta penerima manfaat di Banten.

​“Bisa dibayangkan, 85 persen kebutuhan program MBG berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Mudah-mudahan potensi ini bisa kita manfaatkan. Apalagi saat ini perekonomian Banten tumbuh 5,37 persen dan Nilai Tukar Petani (NTP) juga mengalami kenaikan,” tambahnya.

​Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementan, Husnain, menjelaskan bahwa sistem PM-AAS dikembangkan dari hasil kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke sentra pertanian padi di Arkansas, Amerika Serikat. Sistem ini menerapkan metode tanam yang lebih rapat sehingga populasi padi menjadi lebih banyak.

​“Dengan populasi yang lebih banyak, hasil produksinya pun akan meningkat,” tutur Husnain.

​Saat ini, Kementan melaksanakan program percontohan PM-AAS seluas 100 hektare di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Penanaman ini merupakan tahap ketiga dari 15 lokasi percontohan yang tersebar di 14 provinsi. Sebelumnya, program serupa telah dijalankan di Luwu (Sulawesi Selatan) dan Sukamandi (Subang, Jawa Barat).

​Kepala Wilayah Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Banten, Andry Polos, melaporkan bahwa PM-AAS adalah model pertanian modern berbasis teknologi tinggi yang mengedepankan efisiensi dan presisi. Terdapat enam prinsip utama dalam PM-AAS, yaitu tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya melalui digitalisasi, mekanisasi pertanian, operasi skala luas, intensifikasi produksi, dan pendekatan spesifik lokasi.

Baca Juga :  Sesdilu Kemlu Dorong Ekspansi Akses Pasar Ekspor Udang di Provinsi Banten ke Afrika Melalui Mesir

​“Target produksi kami adalah 10 ton per hektare,” ungkap Andry.

​Terkait respons para petani, Andry menyebutkan adanya penerimaan yang sangat baik. “Meski pada awal sosialisasi responsnya agak kurang, mereka pada akhirnya menerima dan mendukung penuh program ini,” imbuhnya.

​Dukungan tersebut diamini oleh Ketua Kelompok Tani (Poktan) Masyarakat Guyub 1, Andi Kamal. Menurutnya, mekanisasi dan digitalisasi terbukti mampu memangkas biaya tanam dan perawatan. Langkah ini juga menjadi solusi di tengah minimnya minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian dibandingkan dengan di perusahaan.

​“Ibu-ibu yang biasanya menanam sudah pada tua. Sekarang dengan adanya alat tanam, prosesnya lebih hemat. Kalau tanam manual oleh ibu-ibu, biayanya bisa mencapai Rp2 juta per hektare untuk 25 pekerja. Namun, dengan alat mesin, biayanya hanya sekitar Rp200.000 per hektare,” ujarnya.

​Sebagai informasi tambahan, percontohan PM-AAS di Banten dilaksanakan di empat titik seluas 100 hektare dan melibatkan empat kelompok tani dengan total 90 anggota. Saat ini, produktivitas lahan tersebut berada di kisaran 6 hingga 6,5 ton per hektare dengan menggunakan benih padi varietas Inpari 32.(Red/Dede)

Share :

Baca Juga

Daerah

Tahun 2024, Pemprov Banten Tuntaskan Pembangunan Ruas Jalan Sumur – Ujung Jaya

Daerah

Gubernur Andra Soni Minta Pemkab Pandeglang Alokasikan Anggaran untuk Bangun Jalan Desa

Daerah

Al Muktabar: Perubahan KUA dan Perubahan PPAS pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2022 Berpedoman Pada Perubahan RKPD Tahun 2022

Daerah

Warga dan Kampung Siaga Bencana Kecamatan Angsana Rehabilitasi Rumah Ibu Maarti

Daerah

Gardu Ganjar Banten Dukung Festival Perahu Naga Peh Cun di Tangerang

Daerah

Srikandi Banten Ingin Rano Karno Pimpin kembali Banten

Daerah

Pj Gubernur Banten Raih Penghargaan Atas Upaya Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Dari Kemenaker RI

Daerah

Ratusan Awak Kabin Bandara Soekarno-Hatta Jalani Pemeriksaan Narkoba