BagusNews.Co – Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan garda terdepan pemerintah dalam pencegahan stunting, karena langsung dapat melihat kondisi balita setiap bulannya.
Di Kota Serang, ada tiga ribu kader posyandu yang dikerahkan Pemkot Serang untuk mencegah stunting. Para kader Posyandu tersebut berhimpun dalam Forum Kader Posyandu Kota Serang.
Ketua Forum Kader Posyandu Kota Serang Emi mengungkapkan, tiga ribu kader Posyandu di Kota Serang yang berasal dari masing-masing kecamatan berkomitmen untuk mencegah dan menurunkan angka stunting di ibukota Provinsi Banten.
“Dengan tiga ribu kader posyandu yang ada, kami optimis bisa melakukan pencegahan stunting. Apalagi bila Posyandu didukung dengan sarana dan prasarana yang lengkap,” kata Emi kepada wartawan usai melakukan audiensi dengan Walikota Serang Syafrudin, Selasa, 4 Juli 2023.
Emi melanjutkan, pencegahan stunting jauh lebih mudah dibandingkan penanganan, sebab pencegahan bisa dilakukan melalui sejumlah program yang dijalankan Posyandu, sehingga dapat meningkatkan edukasi dalam pencegahan gagal tumbuh atau stunting pada anak.
“Meskipun untuk menurunkan angka stunting di Kota Serang tidak mudah, karena butuh komitmen semua pihak. Kalau kami hanya minta Pemkot Serang melengkapi peralatan di setiap Posyandu, jangan sampai kami harus pinjem alat timbangan dan peralatan lainnya,” bebernya.
Menurut Emi, untuk mengetahui keberadaan stunting pada anak memang sulit, karena tidak sedikit orang tua yang enggan melaporkan mengenai kondisi kesehatan anak-anaknya kepada para kader posyandu.
“Bahkan masih banyak ibu-ibu yang malas membawa anaknya ke posyandu. Makanya kami berinisiatif melakukan pelayanannya dengan cara datang langsung kerumahnya masing-masing,” ujarnya.
Lebih jauh Emi menjelaskan, keberadaan stunting pada anak bukan hanya di lihat dari segi fisiknya saja, melainkan pengaruh dari lingkungan juga dapat menjadi salah satu faktor munculnya keluarga resiko stunting (KRS).
“Seperti masih minimnya jamban yang dimiliki masyarakat, kemudian mandi di sungai dan sampah-sampah yang menumpuk itu juga masuk dalam kategori KRS,” jelasnya.
Sementara itu, yang saat ini masih banyak KRS di Kota Serang terdapat di Kecamatan Serang.
“Dulu Kecamatan Kasemen, tapi alhamdulillah Kasemen sudah turun. Nah sekarang yang naik di Kecamatan Serang,” pungkasnya.
Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tercatat dari 12 juta lebih penduduk di Provinsi Banten, terdapat 1,3 juta keluarga yang beresiko stunting. Bila tidak dilakukan pencegahan dan penanganan dengan baik, kasus stunting di Banten bisa menjadi yang tertinggi di Indonesia pada tahun 2024.
Dari 1.373.383 keluarga di Banten yang beresiko stunting, rinciannya di Kabupaten Tangerang mencapai 354.731 keluarga, disusul Kabupaten Serang 211.696 keluarga, Kota Tangerang 197.166 keluarga, Kabupaten Lebak 196.053 keluarga, Kabupaten Pandeglang 159,415 keluarga, Kota Tangerang Selatan 121.085 keluarga. Berikutnya 81.569 keluarga di Kota Serang dan 51.668 di Kota Cilegon. (Red/Misbah)







