Home / Opini

Kamis, 4 Juli 2024 - 10:55 WIB

Dua Wajah Pancasila

Dua Wajah Pancasila

Oleh: Yuliana Sari

Pancasila pernah ditawarkan oleh Soekarno sebagai pemersatu bangsa-bangsa dunia. Bukan tanpa sebab, Presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini pede dan berani, menawarkan lima sila produk bangsa beradab kepada dunia yang sedang berkecamuk trauma perang.

Alasannya tentu saja karena sifat universalitas Pancasila. Artinya Pancasila bernilai umum, sila-silanya ada pada bangsa-bangsa di belahan dunia manapun.

Pancasila juga jadi dasar bangsa dan negara Indonesia merdeka, sebab penjajahan bertentangan dan melecehkan kemanusiaan. Kemanusiaan ada pada sila kedua Pancasila. Singkatnya, Pancasila mengandung nilai-nilai humanis versi bangsa Indonesia.

Benarkah demikian? Bukankah Pancasila juga mengkerdilkan otak bangsa Indonesia. Dimana letak beradabnya bangsa ini, saat mayat-mayat sesama anak bangsa terkubur menumpuk korban kesaktian Pancasila.

Baca Juga :  Anak Terlindungi, Banten Maju

Bukan hendak mempertentangkan siapa yang dahulu mengacungkan bedil diantara anak bangsa. Bukan hendak menuntut permohonan maaf dari pihak tertentu, tapi alangkah naifnya bangsa ini mengagung-agungkan Pancasila sampai ke surga, tanpa mengetahui ada jejak berdarah mempertahankannya.

Pancasila juga tak ada bagi rakyat Papua. Sebagian menganggap bahwa Indonesia menjajah pulau di timur Indonesia itu. Lihat saja tak berdayanya Pancasila dihadapan korporasi yang membabat habis hutan adat mereka.

Bangsa kita beragam, konon katanya dipersatukan Pancasila, tapi sekali lagi dihadapan buldoser dan sawit, Garuda hanya burung tak berdaya.

Baca Juga :  Nestapa Nelayan Labuan dan Misteri Kapal Tongkang

Seakan mempunyai dua wajah, Pancasila jadi humanis dan biadab sekaligus. Humanis saat sosialisasi Pancasila oleh politisi kepada mahasiswa polos yang tak tahu apa-apa. Pancasila tak berdaya menghalangi politisi saat transaksi lancung yang berujung tahanan rompi orange KPK.

Semoga seluruh anak bangsa sadar, bahwa Pancasila itu pedoman berbangsa dan bernegara. Bukan bedil berpeluru ideologi, yang berujung pada gulag dan penyumpal kebebasan berpendapat. Semoga.

Kota Serang, 3 Juli 2024

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Pamulang PSDKU Serang

Share :

Baca Juga

Opini

Numbu-numbu Umur

Opini

Tanaman Herbal dan Industri Farmasi Modern

Opini

MK Izinkan Kampanye di Sekolah dan Kampus?

Opini

RAKYAT DISEBUT, TAPI DITINGGALKAN

Opini

Menekan Kemiskinan Ekstrem dan Perspektif Ekraf

Opini

Banten Itu Benten

Opini

23 Tahun Provinsi Banten, Pengangguran Masih Jadi PR

Opini

Daulat Rakyat