BagusNews.Co – Hari ke- 2 pasca-Idul Fitri 1447 H, Senin, 23 Maret 2026, menjadi momen yang berbeda bagi remaja usia 20-30 tahun, mayoritas Generasi Z dan milenial. Bagi sebagian mereka, berkumpul bersama keluarga besar bukan lagi prioritas utama setelah hari raya. Survei nasional terbaru menunjukkan tren menurunnya minat mudik tradisional di kalangan generasi muda, yang kian memilih aktivitas petualangan seperti pendakian gunung untuk mengisi libur Lebaran.
Pantauan bagusnews.co di kawasan Pandeglang, Banten, menemukan sekitar 10 orang pendaki gunung yang justru memilih jalur pendakian ketimbang reuni keluarga. Mereka mengungkapkan berbagai alasan menarik, mulai dari keinginan menghindari drama keluarga hingga mencari ketenangan jiwa di tengah alam.
Salah satu pendaki, Dwi (25), mengaku memilih mendaki untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan sensitif yang sering muncul saat silaturahmi Lebaran.
“Ya, daripada sakit hati di hari Lebaran yang merusak momen indah, mending naik gunung buat ciptakan kenangan baru,” ujarnya sambil tertawa ringan saat beristirahat di pos pendakian. Bagi Dwi, pertanyaan seperti “Kapan nikah?” atau “Kerja mana sekarang?” kerap menjadi sumber stres yang tak diinginkan.
Pendaki lain, Faisal (28), memiliki alasan serupa. Baginya, menjauh sementara dari keluarga dengan alasan tertentu justru menjadi pilihan bijak untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual.
“Lebaran itu suci, tapi kalau harus jawab pertanyaan yang bikin capek hati, lebih baik saya recharge di gunung. Alam kasih ketenangan yang nggak bisa didapat di rumah,” katanya.
Faisal menambahkan, pendakian ini juga menjadi cara untuk membangun ikatan dengan teman sebaya yang punya visi sama.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Rina (23), pendaki wanita lain di lokasi yang sama, berbagi pengalaman mirip. “Saya suka Lebaran, tapi tahun ini pilih gunung karena ingin fokus pada diri sendiri. Silaturahmi virtual via video call sudah cukup, sisanya saya isi dengan hiking untuk meditasi alami,” ungkapnya. Tren ini mencerminkan pergeseran nilai generasi muda: prioritas pada self-care dan pengalaman autentik di era media sosial, di mana foto puncak gunung lebih “Instagramable” daripada foto makan opor ayam bersama keluarga.
Para pendaki ini menekankan bahwa pilihan mereka bukan berarti menolak tradisi, melainkan adaptasi modern. “Kita tetap saling doakan dari jauh, tapi kesehatan mental nomor satu,” tegas Dwi. Sementara itu, pakar psikologi sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Rahman, menilai tren ini sebagai respons wajar terhadap tekanan budaya. “Generasi Z tumbuh di era individualisme, di mana batas pribadi semakin dihargai,” katanya.
Kondisi cuaca cerah di Pandeglang pasca-Lebaran turut mendukung lonjakan pendaki, meski petugas himbau keselamatan. Bagi bagusnews.co, kisah ini menggambarkan evolusi cara merayakan Lebaran di tengah perubahan zaman.(Red/Difeni)







