BagusNews.Co – Kerajinan miniatur ikon yang menggambarkan kekayaan budaya daerah mulai menarik perhatian pasar internasional.
Salah satu contoh nyata adalah kerajinan asal Kabupaten Serang, Banten, yang kini mulai mendapatkan banyak pesanan dari luar negeri.
Produk ini tidak hanya barang hias, tetapi juga sebagai media memperkenalkan kekayaan budaya Banten ke dunia.
Suherman, pemilik kerajinan miniatur ikon dari Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, mengungkapkan visinya dalam mengangkat budaya lokal melalui karya seni yang ramah lingkungan.
“Kita menampilkan produk ikon Banten seperti Menara Banten dan Leuit Baduy karena kita ingin mengangkat budaya Banten ke publik yang lebih luas,” ujar Suherman saat ditemui di stan miliknya saat kunjungan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal di Desa Ranjeng, Kabupaten Serang, Rabu, 16 Juli 2025
Dalam proses produksinya, Suherman menekankan penggunaan bahan baku yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Bahan baku yang kita gunakan untuk membuat produk ini menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan yang resik, mendaur ulang bahan-bahan yang tidak terpakai dengan bahan kayu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bahan tersebut berasal dari limbah industri seperti kayu sisa dari palet, sparepart sisa pabrik, dan limbah lain dari perusahaan lokal.
Dengan pendekatan ini, menurutnya, tidak hanya menciptakan kerajinan yang indah dan bermakna, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.
“Jadi, ada pesan yang kita sampaikan ke publik tentang terhadap lingkungan dengan ketelitian teman-teman kreatif kita menampilkan produk mengangkat budaya Banten dengan menggunakan bahan ramah lingkungan,” jelas Suherman.
Ia juga menjelaskan bahwa harga produk mereka pun bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan dan detail dari miniatur tersebut.
Menurutnya, produk seperti miniatur Menara Banten dan Leuit Baduy menjadi favorit dan menjadi simbol kebanggaan budaya daerah.
Dari segi pemasaran, lanjut Suherman, awalnya menjangkau pelanggan melalui berbagai pameran di daerah maupun di luar daerah.
“Dulu kita coba menjaring para konsumen melalui beberapa event pameran yang ada di daerah ataupun di luar daerah,” ungkap Suherman.
Melalui keaktifan di berbagai pameran dan promosi, produknya semakin dikenal dan mendapatkan banyak pesanan.
Keberhasilan tersebut, menurutnya, tidak hanya terbatas di pasar domestik, tetapi juga merambah ke pasar internasional.
“Pemasaran kalau di Indonesia hampir menjangkau seluruh Indonesia, kalau untuk dari luar Indonesia kita sudah ekspor ke luar negeri seperti Timor Leste, Arab Saudi, Qatar, dan Oman,” katanya.
Bahkan, dua tahun lalu, Suherman mengikuti pameran internasional Trans Expo, yang mempertemukan mereka dengan beberapa pelanggan dari luar negeri dan menghasilkan kesepakatan pemesanan besar.
Pengrajin dari desa ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal melalui kerajinan budaya tidak hanya mendukung pelestarian warisan budaya, tetapi juga membuka peluang kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Ini hasil dari pengrajin dari desa kita, jadi dari konsep pemberdayaan masyarakat kita coba menjaring merekrut teman-teman yang membutuhkan lapangan pekerjaan,” pungkasnya. (Red/Dwi)







