BagusNews.Co – Sejak tahun 1980 bergelut dengan saluran irigasi yang rusak, petani di Kabupaten Lebak akhirnya mulai menikmati manfaat pembangunan infrastruktur irigasi yang digencarkan pemerintah melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan.
Sinergi pendanaan antara pemerintah pusat melalui APBN dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui APBD kini menghadirkan perubahan nyata daerah lumbung pangan tersebut.
Kabupaten Lebak selama ini menjadi salah satu sentra produksi padi utama di Provinsi Banten. Pemerintah menempatkan wilayah tersebut sebagai prioritas rehabilitasi jaringan irigasi guna memastikan ketersediaan air bagi ribuan hektare lahan persawahan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten Arlan Marzan mengatakan, Pemprov Banten terus memperkuat pembangunan infrastruktur pertanian melalui dukungan APBD yang disinergikan dengan pendanaan APBN. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci percepatan rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai daerah sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan petani.
“Komitmen Pemprov Banten melalui arahan Pak Gubernur Andra Soni adalah membangun dari desa. Karena itu, APBD kami arahkan untuk mendukung infrastruktur yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, selain Bangun Jalan Desa Sejahtera (Bang Andra), juga rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi. Sinergi dengan pemerintah pusat melalui APBN membuat cakupan pembangunan menjadi lebih luas sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh petani,” ujar Arlan.
Melalui pendanaan APBN Tahun Anggaran 2025, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian melalui SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air melaksanakan rehabilitasi jaringan utama Daerah Irigasi (DI) Cisiih, Cibinuangeun, dan Cibanten dengan pelaksana PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Secara lebih luas, implementasi Inpres Nomor 2 Tahun 2025 di Provinsi Banten diwujudkan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Banten.
Pada 2025, Pemprov Banten mengalokasikan Rp48,91 miliar melalui APBD untuk tujuh paket pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan daerah irigasi, meliputi DI Cibinuangeun, Cilampe, Cikoncang, Cilemer, Cipari-Ciwuni, Cisangu Atas, dan Cisata.
Sementara itu, melalui APBN Tahun 2025, pemerintah pusat melakukan rehabilitasi 12 daerah irigasi di Provinsi Banten, yakni DI Cikalumpang, Cisangu Bawah, Cipari-Ciwuni, Ciwaka Bawah, Cisata, Cilemer, Cisangu Atas, Pasir Eurih, Cikoncang, Cibinuangeun, Cisiih, dan Cibanten.
Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kabupaten Lebak Abeng (60) mengaku konflik perebutan air yang selama puluhan tahun menjadi persoalan utama petani kini mulai hilang.
Dirinya mengatakan, sebelumnya para petani selalu merasakan kekhawatiran saat memasuki musim tanam kedua. Bahkan tak jarang para petani terlibat perselisihan dengan petani lainnya, karena khawatir lahannya tidak memperoleh aliran air.
“Kalau dulu setiap musim tanam kedua, selalu ribut soal air. Yang tidak kebagian air marah,” katanya saat ditemui di Desa Bolang, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Rabu (8/7/2026).
Selain persoalan air, Abeng mengatakan kondisi petani kini jauh lebih baik karena pupuk semakin mudah diperoleh melalui kios pengecer, sementara solar bersubsidi untuk mengoperasikan traktor, combine harvester, maupun alat pertanian lainnya juga lebih mudah diakses.
Namun perubahan yang paling terasa, menurutnya, adalah keberadaan jalan inspeksi yang dibangun di sepanjang saluran irigasi.
“Dulu jalannya masih becek, jelek ongkos angkut gabah sekitar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per karung, bahkan saat musim hujan bisa mencapai Rp40 ribu. Sekarang turun menjadi sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu per karung. Ongkos produksi jauh lebih ringan,” ujarnya.
Meski mengapresiasi pembangunan yang telah dilakukan pemerintah, Abeng berharap rehabilitasi jaringan irigasi terus dilanjutkan hingga seluruh wilayah layanan memperoleh manfaat yang sama.
“Selama sekitar 30 tahun irigasi ini terbengkalai. Baru sekarang benar-benar diperhatikan pemerintah. Mudah-mudahan terus dilanjutkan,” katanya.
Hal senada disampaikan petani Desa Bolang, Aman (62). Ia mengaku sebelum jaringan irigasi diperbaiki, petani bahkan kesulitan melakukan satu kali masa tanam dalam setahun akibat keterbatasan air.
Kini, setelah saluran irigasi berfungsi lebih baik, petani mampu melakukan dua kali tanam, bahkan di beberapa lokasi sudah dapat mencapai tiga kali musim tanam dalam setahun.
“Alhamdulillah, sekarang bisa dua kali tanam, bahkan ada yang tiga kali. Kemarin saya panen sekitar 27 ton dari lahan enam hektare, besok masih ada empat hektare yang mau dipanen,” katanya.
Menurut Aman, keberadaan jalan inspeksi yang telah dibangun juga mempermudah kendaraan mengangkut gabah dari sawah menuju rumah maupun tempat penggilingan. Jika sebelumnya biaya angkut mencapai Rp25 ribu hingga Rp40 ribu per karung ketika musim hujan, kini turun menjadi sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per karung.
Ia juga mengaku tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh pupuk maupun solar bersubsidi untuk kebutuhan alat mesin pertanian.
“Dulu kami susah air, pupuk juga susah, jalan rusak. Sekarang irigasi sudah bagus, jalan juga bagus. Kami benar-benar merasakan manfaatnya. Terima kasih kepada pemerintah, kepada presiden dan Bapak Gubernur Andra Soni,” ujarnya.(Red/Dede)







