Home / Nasional

Kamis, 28 Agustus 2025 - 20:48 WIB

Pengamat Curiga Ada Potensi Platform Digital Digunakan Sebagai Alat Propaganda

BagusNews.Co – Pengamat Intelijen ISESS, Khairul Fahmi menilai pemanggilan TikTok dan Meta oleh Kementerian Komdigi merupakan langkah strategis untuk menegaskan tanggung jawab platform digital dalam menjaga ruang publik.

Dirinya menilai ruang digital memang telah membuka peluang demokratisasi, tetapi jangan lupa, ia juga membawa paradoks, bahwa kebebasan yang tanpa batas sering menjelma menjadi anarki.

“Kekhawatiran soal kepentingan asing lewat TikTok atau Meta dapat dipahami karena platform global memang bisa dimanfaatkan untuk memengaruhi opini publik atau menyusupkan propaganda. Tapi menduga bahwa ada operasi intelijen asing, tentu butuh bukti yang jelas. Yang terpenting justru negara harus memperkuat regulasi, kerja sama internasional, dan literasi digital agar ruang digital kita tidak mudah diacak-acak siapa pun,” kata Khairul, Kamis (28/8/2025).

Baca Juga :  FSPP Banten Kecam Pembunuhan Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, Serukan Salat Gaib di Ponpes

Ia menjelaskan, anonimitas membuat ruang digital mudah berubah jadi arena kebencian, polarisasi, bahkan provokasi. Karena itu, negara tidak bisa absen. Regulasi dan kehadiran otoritas adalah keniscayaan, meskipun tetap harus dijalankan dengan batas dan definisi yang jelas.

“Yang dibutuhkan adalah orkestrasi lintas lembaga. Komdigi, aparat penegak hukum, dan kementerian/lembaga terkait, agar pengawasan ruang digital lebih sistematis, terukur, dan konsisten,” katanya.

“Negara harus bisa menunjukkan diri sebagai regulator yang baik, bukan membungkam kebebasan, tetapi memfasilitasi ruang berpendapat, sekaligus memastikan batas intervensi dilakukan demi kebaikan bersama,” sambungnya.

Selanjutnya, ia menilai pernyataan Wamenkomdigi Angga Raka patut diapresiasi. Ia pun menegaskan bahwa platform perlu lebih proaktif memerangi hoaks berbasis AI serta konten disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK).

Baca Juga :  Kemendagri Bangun Ekosistem Pemilu Sehat Melalui Gerakan Revolusi Mental

“Ini sejalan dengan prinsip bahwa yang ditindak bukan aspirasi publik, melainkan manipulasi yang merusak demokrasi. Dengan pendekatan seperti itu, pemerintah menempatkan dirinya di jalur yang tepat, yaitu melindungi demokrasi sekaligus kebebasan berekspresi,” imbuhnya.

Tapi, lanjutnya, penindakan saja tidak cukup. Demokrasi siber hanya bisa bertahan jika masyarakat juga diperkuat melalui literasi digital. Publik harus dilatih untuk lebih kritis, mampu mengenali hoaks, dan tidak gampang terprovokasi oleh konten manipulatif.

“Tanpa itu, ruang digital akan terus jadi bumerang bagi demokrasi. Inilah pekerjaan rumah besar yang harus diintegrasikan ke dalam strategi jangka panjang negara, menghadirkan ruang digital yang sehat, aman, dan tetap demokratis,” pungkasnya.(Red/Dede)

Share :

Baca Juga

Daerah

Program Desa Antikorupsi Diharapakan Dapat Meningkatkan Budaya Antikorupsi di Provinsi Banten

Nasional

Terbang ke Prancis, Rano Karno Dukung Sineas Indonesia di Festival Film Cannes 2025

Daerah

Bantuan Hewan Kurban Sapi Dari Presiden Untuk Provinsi Banten Mencapai 1,15 Ton

Daerah

DPP PDI Perjuangan tunjuk Bonnie Triyana sebagai LO Pilkada 2024 di Banten dan Aceh

Daerah

Arus Mudik Nataru, Terminal Pakupatan Kota Serang Mulai Sepi H+1 Natal

Daerah

Pastikan DAK Fisik Sesuai Rencana, Kepala Dindikbud Pantau Pembangunan SMKN 1 Curugbitung

Daerah

Dukung Timnas Garuda, PWKS Gelar Nobar Semifinal Indonesia Hadapi Uzbekistan

Nasional

Andra Soni Bersama Wapres Gibran Rakabuming Raka Tinjau Penyaluran BSU di Kota Tangerang