BagusNews.Co – Dalam upaya menekan angka penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia, pemerintah pusat telah menetapkan program utama sebagai bagian dari strategi nasional.
Program lainnya, yaitu cek kesehatan gratis (CKG). Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh masyarakat tanpa terkecuali, agar mereka dapat melakukan pemeriksaan kesehatan secara mudah dan tanpa biaya.
Selanjutnya, program makan bergizi gratis diinisiasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat, sehingga mereka lebih mampu melawan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan penderita TBC.
Demikian disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Istianah Hariyanti saat membahas langkah-langkah penting dalam pengendalian TBC.
“Kenapa ini jadi program prioritas nasional karena memang angka penemuan kasus TBC itu kita masih tinggi,” kata Istianah saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 23 Desember 2025.
Ia mengatakan bahwa program penanganan TBC merupakan satu dari tiga program strategis nasional bidang kesehatan yang dicanangkan pemerintah pusat.
Lebih lanjut, Istianah menjelaskan terkait program penuntasan tuberkulosis, yang sebelumnya dikenal sebagai eliminasi, namun saat ini lebih diarahakan untuk benar-benar menuntaskan seluruh kasus TBC di Indonesia.
“Kalau TBC itu adalah karena memang angka penemuan kasus TBC itu kita masih tinggi. Indonesia itu nomor dua di dunia, setelah India. Negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak, pertama India, kedua Indonesia, ketiga baru China.”
Ia menambahkan, sebelumnya Indonesia menduduki peringkat ketiga terbanyak dengan urutan tertinggi India, China, dan Indonesia.
“Kita mengikuti peringkat, karena China programnya ini sudah bagus ya, sudah tepat sehingga mereka bisa turun. Kita (Indonesia) justru naik ke peringkat kedua, makanya itu jadi program prioritas nasional supaya TBC itu benar-benar bisa tuntas,” tuturnya.
Di tingkat Kabupaten Serang, lanjut Istianah, target pemeriksaan mencapai 37.000 warga yang diduga terinfeksi TBC. Hingga saat ini, Kabupaten Serang telah melampaui target tersebut dengan pencapaian pemeriksaan lebih dari 117 persen.
Ia menjelaskan, dari jumlah pemeriksaan itu, ditemukan lebih dari 5.000 kasus positif, namun angka tersebut masih belum mencapai target penemuan kasus yang sekitar 7.500.
“Karena di Indonesia kan masih ada stigma-nya, masih ada orang malu. Kemudian kalau sakit, dia mungkin tidak segera berobat, sehingga yang kekurangan tadi itu memang belum kita dapatkan,” ujar Istianah.
Selain tantangan dari faktor sosial, kendala lain adalah keterbatasan alat diagnostik seperti tes cepat molekuler (TCM), yang saat ini baru tersedia di 22 puskesmas.
“Misalnya di Desa Pematang itu kan enggak ada TCM, jadi spesimen dahaknya itu nanti dikirim ke puskesmas yang ada TCM, Kragilan misalnya. Karena pemeriksaan diagnosa TBC itu tidak hanya dari gejala saja tapi harus diperiksa dahaknya dicek sama alat namanya TCM yang sampai periksa DNA, kayak alat untuk COVID-19,” jelasnya.
Ia menuturkan, dalam rangka mengoptimalkan penanganan di tingkat desa, Pemerintah Kabupaten Serang sudah menerbitkan SK Desa Siaga Tuberkulosis di seluruh 326 desa. Kebijakan ini diharapkan mampu menyusun perencanaan penganggaran yang memadai agar program TBC tetap berjalan, meski dana dari pusat dan APBD terbatas.
“Jadi tahun ini semua desa itu di 326 desa kita sudah punya SK Desa Siaga Tuberkulosis. Nah, dengan adanya SK itu kan berarti nyambung nih dengan perencanaan penganggaran,” kata Istianah.
Ia membeberkan, teknis pelaksanaan di tingkat desa meliputi investigasi kontak, sosialisasi pencegahan, serta pemantauan minum obat.
“Misalnya, kegiatan itu pertama untuk namanya investigasi kontak. Kita cek sekitarnya, yang serumah ataupun kontak erat, diperiksa kesehatannya,” ungkapnya.
Selain itu, sosialisasi bertujuan agar masyarakat yang memiliki gejala segera berobat dan menjalani pengobatan lengkap selama 6 bulan guna memastikan kumannya benar-benar hilang.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, lanjutnya, Pemkab Serang tetap berkomitmen menjalankan program ini secara berkelanjutan.
“Dengan strategi ini, diharapkan program TBC bisa berjalan efektif dan target eliminasi bisa tercapai,” tutup Istianah. (Red/Dwi)







