Home / Opini

Kamis, 25 Desember 2025 - 13:21 WIB

Memeluk Persatuan

Memeluk Persatuan

Oleh: Abah Elang Mangkubumi

Pada saat-saat tertentu, organisasi besar tidak memerlukan penjelasan tambahan. Ia memerlukan keputusan moral.
Nahdlatul Ulama (NU) berada pada saat itu hari ini.

Pernyataan Rais ‘Aam PBNU mengenai ketidakhadiran dalam Musyawarah Akbar Lirboyo, patut dihormati sebagai hak personal.

Namun dalam tradisi NU, hak personal selalu berada di bawah amanat kolektif jam’iyyah. Ketika kegelisahan warga telah diformalkan melalui musyawarah, maka ukuran utamanya bukan lagi kelengkapan alasan, melainkan kesediaan untuk merawat persatuan.

Musyawarah Akbar Lirboyo tidak berdiri sendiri. Ia adalah simpul dari ikhtiar panjang para kasepuhan NU, ditempuh melalui sowan, tabayyun, dan pertemuan senyap, yang sejak awal bertujuan satu; menghentikan retak sebelum menjadi belah.

Ketika ikhtiar sunyi itu belum berbuah, jamaah memilih mekanisme paling beradab yang dikenal NU: musyawarah terbuka, dengan rambu, tenggat, dan etika.

Baca Juga :  Geliat Ekonomi Banten Menggembirakan

Amanatnya jelas. Islah didahulukan dan diberi waktu. Jika belum tercapai, ada mekanisme lanjutan. Jika tetap buntu, tersedia jalan konstitusional terakhir.

Ini bukan tekanan dan bukan pula ancaman. Ini adalah tata kelola jam’iyyah; cara NU menjaga marwahnya sendiri agar perbedaan tidak berubah menjadi keterbelahan.

Karena itu, hari ini bukan sekadar penanda waktu. Hari ini adalah batas langkah pertama amanat musyawarah, batas etik, bukan administratif.

Pada titik ini, NU tidak menunggu klarifikasi lanjutan atau penegasan posisi. NU menunggu tindakan yang menenangkan: perjumpaan untuk islah.

Duduk Bersama

Pelajaran dari kasepuhan NU konsisten dan sederhana, islah lebih mulia daripada klarifikasi; duduk bersama lebih tinggi nilainya dari pada menang sendiri.

Dalam tradisi ini, mengalah demi persatuan bukan kekalahan, melainkan kedewasaan. Wibawa ulama justru tumbuh ketika ego menyusut dan umat kembali teduh.

Baca Juga :  Numbu-numbu Umur

Harapan ini tentu ditujukan kepada semua pihak yang berseteru. Namun beban etik terbesar secara simbolik berada pada Rais ‘Aam, bukan karena jabatan, melainkan karena makna teladan yang melekat padanya.

Islah yang dimulai dari seorang Rais, tidak akan dibaca sebagai kelemahan. Ia akan dikenang sebagai keputusan yang menyelamatkan.

Memeluk Persatuan

NU hari ini tidak kekurangan dalil, forum, atau mekanisme. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menghentikan alasan dan memulai persatuan.

Sejarah NU tidak akan menilai panjangnya penjelasan. Ia akan mencatat siapa yang memilih memeluk persatuan ketika amanat jam’iyyah memanggil.

Dan di titik ini, panggilan itu sudah jelas!

Banten, 25 Desember 2025

Penulis adalah Dewan Khos PP Perguruan Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa

Share :

Baca Juga

Opini

Indahnya Orkestra Pembangunan Banten

Opini

Eksotis, Alami dan Memikat : Rahasia Surga Ekowisata Banten yang Jarang Orang Tahu!

Opini

Politik Jejer Wayang

Opini

Pengaruh E-commerce terhadap Pertumbuhan UMKM di Indonesia

Opini

Pemilu Yang Berkeadilan Bagi Lingkungan

Opini

Hukuman Bagi Pelaku Kekerasan Seksual Harus Maksimal

Opini

Berangkat dari Keterusiran Kaum Marhaen, Disitulah Jiwa Sang Pejuang Benar-Benar Diuji

Opini

Polri dan Mendagri, Batas Sehat antara Politik & Hukum