BagusNews.Co – Di tengah suasana pasar yang sedang meroket, harga cabai mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram, Neng Sri, petani cabai pemula dari Kampung Balagendong, Kelurahan Juhut, Pandeglang, justru belum menyadari sepenuhnya tentang keluhan yang tengah dirasakan oleh para pedagang dan konsumen.
Saat ditemui di lahan perkebunannya pada Rabu, 10 Desember 2025, Neng Sri yang juga seorang wedding organizer menyampaikan kegembiraannya yang tulus.
“Wah, alhamdulillah kalau sampai harganya Rp90.000 sampai Rp100.000,” ujarnya dengan riang.
Ia mengaku tidak mengetahui secara langsung tentang kenaikan harga cabai di pasaran, tetapi merasa bahwa peluang ini sangat menguntungkan baginya.
Neng Sri mengungkapkan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menanam cabai. Awalnya, ia hanya menanam sekitar 200 batang sebagai percobaan kecil dari keisengan semata.
Namun, kini tanaman cabainya telah berkembang menjadi sekitar 1.000 batang, menandai keberhasilan awal dalam bercocok tanam.
“Ini memang baru percobaan pertama saya menanam cabai, awalnya iseng saja. Alhamdulillah tanaman tumbuh hampir sempurna, tinggal menunggu warna merahnya saja,” katanya.
Ia juga menyampaikan rasa syukurnya karena lahan yang digunakan adalah warisan dari orang tuanya yang sudah lanjut usia. Tanah tersebut kini mulai membuahkan hasil, dan ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
“Lahan ini milik orang tua saya, mereka sudah lanjut usia, jadi saya yang melanjutkan. Alhamdulillah, dengan harga cabai yang sedang naik ini, impian saya untuk membahagiakan orang tua bisa terwujud. Saya sangat senang,” pungkasnya. (Red/Difeni)







