BagusNews.Co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mengajak kepada masyarakat untuk dapat menerapkan pola hidup sehat melalui gerakan masyarakat sehat, sehingga dapat menekan angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular di Provinsi Banten.
“Karena dengan gerakan masyarakat sehat, satu orang bisa mengajak tetangga lainnya untuk berolahraga, atau bisa juga saling mengingatkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi dengan batas-batas tertentu,” ungkap Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, Rabu (1/11/2023).
Lebih lanjut, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, banyaknya kasus angka kematian yang diakibatkan penyakit tidak menular di Provinsi Banten. Disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang tidak sehat, jarang berolahraga serta pola makan yang berlebih.
Bahkan, kata Ati, untuk kasus penyakit tidak menular yang banyak ditemukan di Provinsi Banten, yang pertama adalah Hipertensi, kemudian diabetes, jantung, struk, kanker yang yang terakhir gagal ginjal akut.
Dikatakannya, penyakit Hipertensi biasanya menyerang orang dengan rentang usia di atas 40 tahun. Sama halnya dengan struk, jantung dan diabetes. Namun saat ini, semua itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak.
“Pasa saat pemeriksaan tensi darah sebelum imunisasi serentak kemarin, kita banyak menemukan anak-anak yang menderita Hipertensi. Begitu juga dengan jenis penyakit menular lainnya, itu banyak kita temukan pada anak-anak dan pemuda,” ujarnya.
Dengan begitu, kata Ati, saat ini terjadi sebuah pergeseran pola hidup. Yang dapat disebabkan tingkat stres yang tinggi, gaya hidup dan pola hidup sehat sudah banyak ditinggalkan. Konsumsi gizi yang tidak seimbang dibarengi dengan aktivitas fisik yang sudah banyak ditinggalkan.
“Kekurangan gizi itu tentu tidak baik, bisa menyebabkan stunting dan gizi buruk. Kelebihan gizi juga tidak baik karena itu bisa menyebabkan obesitas. Makanya harus seimbang,” jelasnya.
Selanjutnya, Ati menyampaikan saat ini mayoritas masyarakat memang tidak terlalu menghiraukan dengan jenis penyakit tidak menular ini. Lantaran belum terasa dalam waktu dekat dan ditambah dengan kondisi imun yang masih kuat.
Akan tetapi, ujar Ati, hal itu akan menjadi fatal ketika telah mencapai pada titik stadium tinggi, dan pada saat itu lah mereka baru menyadari bahayanya penyakit tidak menular.
“Makanya banyak yang tidak terselamatkan. Padahal jika mereka rajin melakukan pengecekan kesehatan, itu bisa diantisipasi,” katanya.
Agar angka kematian yang disebabkan penyakit tidak menular itu bisa dikendalikan, Ati saat ini sedang gencar melakukan gerakan screening Penyakit Tidak Menular (PTM) dimulai dari anak usia 15 tahun, “baik di sekolah sampai di usia produktif 50 tahun,” pungkasnya.(Red/Dede)







