Home / Daerah / Hukum / Hukum dan Kriminal / Pendidikan

Selasa, 29 Juli 2025 - 08:41 WIB

Generasi Emas Banten

Refleksi Hari Anak Nasional 2025

Oleh: H. Karna Wijaya

Ratusan anak-anak tumpah ruah, memenuhi Pendopo Gedung Negara yang merangkap rumah Dinas Gubernur Banten pada Rabu, 23 Juli yang lalu.

Wajah-wajah mereka mengguratkan keceriaan dan ekspresi kegembiraan melebur bersama cahaya Matahari yang cerah, pada pagi hari itu, dalam kegiatan Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2025.

Permainan Klasik

Sang Tuan rumah, Ayah (panggilan lazim kepada orang tua laki-laki) Andra Soni dan Ibu (panggilan lazim kepada orang tua perempuan) Tina Andra Soni, serta para tamu undangan larut bersama mereka sembari bernostalgia memutar memori saat masih anak-anak.

Berbagai permainan anak dihelat dan diperagakan diantaranya; Enggrang, Hulahop dan lompat tali karet. Selain itu, masih banyak permainan anak-anak di Provinsi Banten, yaitu Benteng(an), gobag, engkleh, dakon, beklas (bola bekel), kucing sumput dan lain-lain.

Permainan-permainan ini sebagai pengejawantahan local wisdom yang tumbuh dan berkembang di kalangan anak-anak masyarakat Banten dengan kategori Babby Boomers yang lahir 1946-1964), Generasi X yang lahir 1965-1980) hingga Generasi Y yang lahir 1981-1996 (William Straus dan Neil Howe, Generations, 1991).

Filososfi Permainan

Permainan-permainan itu kaya manfaat, bukan hanya hiburan yang menyenangkan bagi anak, tetapi memiliki makna simbolik, self educatif dan filosofis.

Sebagi contoh, permainan ‘Benteng (an)’ (kesukaan Ayah Andra Soni saat masih anak-anak, sebagaimana disampaikan dalam wawancara dengan Jawapos TV), sebuah permainan yang terdiri 2 kelompok anak yang saling berhadapan/berlawanan dengan jarak minimal 20 meter (seperti bermain bola/futsal) dan masing-masing kelompok menjaga batu sebesar kepala sebagai benteng, dimana masing-masing kelompok harus berjuang depensif menjaga batu/benteng agar tidak disentuh lawan) dan sebaliknya, secara opensif berjuang menyentuh batu/benteng lawannya dengan kaki.

Bila si penyerang tersentuh (hanya sentuhan tangan, tanpa mengakibatkan luka) oleh yang diserang (seperti penjaga gawang dalam permainan bola kaki), maka si penyerang akan menjadi ‘tawanan’.

Teman-teman si penyerang yang menjadi tawanan tersebut harus membebaskannya dan/atau (sekaligus) berjuang menginjak batu/benteng tersebut. Bila anggota kelompok berhasil menginjak batu/benteng, maka kelompok itu menjad pemenang.

Deskripsi bentengan tersebut di atas, memiliki tafsir simbolik, edukatif dan filosofis yakni perpaduan gerak fisik dan pikiran, solidaritas, kekompakan, strategi perang/kompetisi (depensif dan opensif), kecepatan gerak, integritas (satunya kata dengan perbuatan) dan konsentrasi pikiran untuk membebaskan kawan-kawan yang ditawan dan sekaligus penetrasi benteng lawan.

Memori masa kecil Ayah Andra Soni dan filosofi bentengan ini, secara intuitif melembaga dalam dirinya, sekaligus modal dasar sebagai politisi hingga memenangkan kompetisi dalam pemilihan Gubernur Banten periode 2025-2030 dan dengan filosofi ini pula mewujudkan visi dan misinya.

Tentu yang menjadi kelompoknya adalah para birokrat dan stakeholders, sedangkan yang menjadi lawannya adalah ‘keterbelakangan masyarakat, ketidakadilan pembangunan, ketidakmerataan pembangunan dan perilaku koruptif hampir di semua segmen kehidupan di Banten.

Era Disrupsi

Revolusi peradaban gelombang ke-4 (ke-1 ditemukan/digunakannya mesin uap, ke-2 ditemukannya listrik, ke-3 ditemukannya komputer) yang memadukan ‘Gadget’ atau (dipadankan dalam bahasa Indonesia) ‘gawai’ (ponsel, laptop, dll) dan jaringan internet, mengubah kehidupan manusia secara universal dan global. Tak terkecuali, permainan anak yang kini hampir punah dan tersubstitusi dengan gawai berupa digital game.

Mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, orang (semua usia termasuk anak-anak) menggunakan gawai dan masuk dunia digital. Sebuah dunia yang tak bertepi, instan, minim gerak fisik dan menjebak dalam dilema (Klaus Schwab, Revolusi Industri Keempat, 2019).

Dilema Disrupsi

Era digital disatu sisi, memberikan keuntungan atau kemudahan dalam berbagai hal dengan munculnya pasar digital, kecepatan informasi, menyambungkan banyak orang dari tempat yang berbeda nan jauh berupa zoom meeting, dan lain-lain.

Baca Juga :  Tingkatkan Indeks Pembangunan Literasi, DPAD Kabupaten Pandeglang Gelar Festival Gemar Mambaca

Disisi lain membawa mudarat, banyak kejahatan diawali dari ruang digital (penipuan, judol, pembunuhan/pencabulan yang bermula kenalan dari media sosial dan sejenisnya). Termasuk ketergantungan anak-anak kepada gawai dan permainan-permainan digital yang menimbulkan dampak psikologis : gampang marah, malas (dalam term ‘mager=malas gerak’).

Kemudaratan ini secara regresif berpuncak kepada ‘Brain Rot (pembusukan otak)’ yakni penurunan fungsi kognitif dan mental akibat terlalu sering terpapar konten digital yang tak berkualitas.

Disrupsi negatif terhadap anak misalnya dikeluhkan oleh Sri Haldoko, guru sastra Inggris di SMAN 2 Brebes, yang mengekspresikan keprihatan dalam sebuah artikel: ‘anak-anak yang tak lagi bisa membaca dunia’.

Dalam tulisannya, ia mengeluhkan kemalasan anak-anak didiknya membuka kamus, meski kamus digital sekalipun (Kompas, 21 Juli 2025), sehingga mereka miskin vocabulary (kosa kata), malas mendalami teks (sastra, opini, narasi dll), minimnya kesabaran dalam belajar dan sejenisnya. Keluhan ini adalah puncak gunung es dari problematika universal anak-anak kita, termasuk di Banten.

Viktimasi Anak

Sangat miris dan menggelisahkan ulasan Sonya Hellen Sinombor (Kompas, 21 Juli 2025), bahwa anak-anak kita dalam kepungan bahaya digital. Hellen memaparkan data yang dikumpulkan End Child Prostitutions, Child Pornography and Traficking Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia bekerja sama dengan Internet Watch Foundation (IWF) menunjukan bahwa pada tahun 2024, terdapat 707 laporan konten kekerasan seksual anak di dunia daring.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 318 laporan terbukti sebagai konten kekerasan seksual anak, dan yang lebih mengejutkan, 236 laporan ditemukan tersimpan di server yang di-hosting di Indonesia. Data dari National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) di tahun 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar ditemukannya insiden kejahatan seksual anak melalui internet (cybertipeline), dengan total 1.450.403 kasus yang dilaporkan melalui platform digital dan laporan masyarakat.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam laporan tahunannya juga mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, mereka menerima 2.057 pengaduan kasus perlindungan anak, dimana 954 kasus telah ditindaklanjuti hingga tahap terminasi. Dari jumlah tersebut, 41 kasus merupakan anak korban pornografi dan kejahatan dunia maya (cybercrime), sementara 265 kasus lainnya adalah kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara di Provinsi Banten hingga awal semester 2 ini (sumber: DP3AKB Provinsi Banten), tercatat 406 kasus dengan berbagai varian kekerasan (fisik, psikis, seksual, ekploitasi anak, traficking/perdagangan, penelantaran dan lainnya) dan locus (di sekolah, di pesantren, dalam keluarga dan lain-lain), yang paling dominan adalah ‘kekerasan seksual’ sebanyak 299 kasus dengan sebaran terbanyak kawasan Tangerang Raya.

Menilik dominasi data kekerasan seksual terhadap anak, sangat logis dan faktual bila hampir semua media masa lokal Banten sepanjang pekan lalu terutama pada Kamis (24/07/2025) melansir ‘Banten Darurat Kekerasan Seksual Anak’.

Ancaman Kesehatan

Selain jebakan disrupsi, anak-anak kita juga dalam ancaman kerusakan kesehatan fisik melalui makanan dan/atau jajanan yang tidak higienis dan berbahaya : makanan panas berkemasan plastik (mengandung mikro plastik yang larut dalam makanan dan berbahaya bagi saluran pencernaan), junk food (makanan tinggi kalori, lemak, gula, garam dan rendah nutrisi), pewarna, dan pemanis buatan.

Disrupsi makanan ini dalam jangka panjang, menggerogoti kesehatan dan kecerdasan anak. Tak heran, bila kita sering menemukan (banyak) berita, kasus anak yang menderita obesitas, ginjal, gangguan jantung, diabetes dan penyakit kronis berbahaya lainnya (yang biasanya diidap orang dewasa dan berusia tua).

Baca Juga :  Al Muktabar Minta OPD Ambil Langkah Strategis Tindaklanjut Rekomendasi Perbaikan

Paduan brain rot dan ancaman kesehatan adalah potential demage (potensi perusak) generasi emas Banten.

Kita tidak bisa menahan laju revolusi peradaban yang terus bergerak dan tidak bisa meng-alienasi anak-anak dari teknologi informasi dan disrupsi. Selaku orang tua, kita harus bijak dalam mendidik dan membina anak-anak, sebagai mana satire Kahlil Gibran.

“Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu//Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu/ Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri/ Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka/ Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu.

Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka, tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu//Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin//Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup//Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga, dan Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat cepat dan jauh//Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan//Sebab, seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat//Ia pun mencintai busur yang kuat” (Kahlil Gibran, Taman Sang Nabi, Bentang Pustaka, 2017:120)

Generasi Emas Banten

Peringatan hari anak nasional telah usai, namum api semangatnya ‘melindungi dan menyayangi’ anak-anak harus tetap dinyalakan. Kita (orang tua) adalah busur yang melesatkan panah (anak-anak) ke masa depan melintasi ruang dan waktu menuju Indonesia Emas (tahun) 2045.
Dilema disrupsi, viktimasi, ancaman kesehatan dan alienasi sosial anak, dapat diantsipasi dengan:

Pertama, solusi simbolik yakni kembali kepada filosofi kearipan lokal (local wisdom) sebagaimana permainan ‘enggrang’ dan ‘lompat tali karet’ yang dipertunjukan Ayah Andra Soni dalam peringatan HAN tersebut.

Bermain ‘enggrang’ sebagai pralambang keseimbangan agar tidak jatuh dan terus maju menjalani fase-fase kehidupan, dan ‘lompat tali karet’ yang menggambarkan ketangkasan fisik dan konsentrasi pikiran agar kaki dan/atau kepala tidak tersangkut.

Artinya Ayah Andra Soni telah menyiratkan solusi simbolik (komunikasi verbal bukan hanya lisan dan tulisan, tetapi juga dalam bentuk simbol), karena Bangsa Indonesia senang dengan simbol, sebagaimana identifikasi Soekarno dalam biografinya- Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Kedua, menggelorakan gerakan religius yakni gerakan Magrib Mengaji dan Gerakan Sholat Subuh Berjamaah dikalangan anak-anak dengan lebih intens dan masif, agar melembaga dalam diri dan jiwa anak-anak Banten.

Ketiga, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfosp) Provinsi Banten, telah berpartisipasi sesuai tugas dan fungsinya menyiapkan generasi Emas Banten dengan memfasilitasi jaringan internet di SMA/SMK/SMKh disertai program bimbingan ‘Internet Sehat’ sebagai katup pengaman (agar internet digunakan untuk menunjang dan mengakselerasi ilmu pengetahuan), bukan sebaliknya, membuat mereka menjadi bodoh, debat kusir dan instrumen bullying (Tom Nichols, The death of expertaise/Matinya Kepakaran, 2018). Namun program ini terhenti akibat efesiensi anggaran.

Selain itu, dalam kontek fungsi negara sebagai pelindung dan pemelihara anak-anak, Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemen Komdigi) telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak di Ruang Digital yang baru dikeluarkan Maret 2025.

Upaya-upaya komprehensif dan sistematis tersebut di atas adalah ikhtiar pembangunan Gubernur Anda Soni dan Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah, untuk menyiapkan Generasi Emas Banten sebagai satu titik dalam mozaik “Anak Hebat, Indonesia Kuat, menuju Indonesia Emas 2045”.

Kota Serang, 28 Juli 2025

Penulis adalah Doktor Hukum dan Sekretaris Dinas Kominfo Provinsi Banten

Share :

Baca Juga

Daerah

Sopir Truk Dukung Ganjar Berikan Bantuan Lampu Jalan untuk Pangkalan di Pandeglang

Daerah

Pj Gubernur Al Muktabar : Pemprov Banten Melestarikan dan Memperkenalkan Seni Budaya Banten

Daerah

Kopdes Merah Putih di Kabupaten Pandeglang Masih Terkendala Lahan

Daerah

Gubernur Andra Soni Sambut Kolaborasi Industri dan Pariwisata dari Dubes Prancis

Daerah

Ramai Pengunjung, Sekda Kota Serang Usulkan Bentuk UPT Khusus Royal Baroe

Daerah

Ulama dan Pemuda Banten Deklarasikan Pemilu Damai

Daerah

Provinsi Banten Raih 2 Kategori Penghargaan Nasional di Gelar TTGN ke XXV di NTB

Daerah

Sekda Kabupaten Tangerang Dorong Percepatan Kinerja dan Empati Sosial di Tengah Bencana Banjir