Home / Health / Opini

Selasa, 2 Desember 2025 - 15:12 WIB

Musim Hujan dan Risiko Makanan Berkuah

Oleh: Stefani Nathania Sinaga

Tidak terasa akhir tahun kembali tiba, musim hujan mulai menerjang hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Banten.

Cuaca dingin membuat makanan berkuah seperti soto, bakso, sop, mi ayam hingga seblak, menjadi makanan yang difavoritkan banyak kalangan.

Selain memberikan rasa hangat pada cuaca yang dingin, makanan berkuah memang selalu menjadi daya tarik tersendiri setiap memasuki musim penghujan.

Sejumlah ahli pangan menyebut, jika hidangan panas cenderung meningkatkan sensasi termal tubuh, sehingga diminati saat cuaca dingin.

Selanjutnya menurut University Of Queensland, cuaca dingin cenderung meningkatkan rasa lapar dan membuat masyarakat ingin mengonsumsi comfort food, seperti makanan berkuah atau sup.

Namun, tidak semua makanan berkuah selalu aman dikonsumsi. Ada beberapa risiko yang dapat timbul dari makanan berkuah, karena makanan berkadar air tinggi yang rentan mengalami kontaminasi, apabila pengolahan atau penyajiannya tidak dilakukan dengan tepat.

Mulai dari kontaminasi bakteri, kualitas kuah yang berubah, hingga potensi keracunan makanan. Maka dari itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi keamanan makanan, supaya kita dapat menikmati makanan berkuah dengan tenang.

Rentan Terkontaminasi

Kandungan air tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa makanan berkuah termasuk kategori pangan berkadar air tinggi (high moisture food), di mana kondisi ini disukai oleh mikroorganisme untuk berkembang biak.

Baca Juga :  Dua Wajah Pancasila

Baik itu kuah berlemak, kaldu, maupun sayur dapat rentan terhadap pertumbuhan mikroorganisme jika kebersihan dan suhu tidak dijaga.

Suhu kuah menurun dapat meningkatkan risiko kontaminasi.

Berdasarkan pedoman keamanan pangan USDA FSIS menyebutkan bahwa makanan pada rentan suhu 4°C–60°C tergolong berada di “danger zone”, kondisi di mana bakteri seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella dapat berkembang pesat pada makanan.

Pemanasan berulang dan penyimpanan kurang tepat

Menurut pakar dari IPB University, pemanasan berulang dapat menimbulkan risiko kontaminasi bakteri.

“Pada prinsipnya, setiap makanan yang dimasak dengan benar bisa dipanaskan kembali. Namun, ada beberapa kategori makanan yang sebaiknya dihindari untuk dipanaskan ulang karena mengandung senyawa tertentu atau dapat menimbulkan risiko kontaminasi bakteri,” ujar Dr Karina.

Selain itu, penyimpanan serta proses pendinginan yang tidak dilakukan dengan tepat, memiliki risiko kontaminasi mikroba yang tinggi.

Tips aman menikmati makanan berkuah saat musim hujan yaitu memastikan kuah disajikan dalam keadaan benar-benar panas. Pilih kedai atau warung makan yang menyajikan kuah mendidih dan mengepul atau dimasak langsung, supaya membantu dalam pembunuhan bakteri patogen.

Hindari Makanan berkuah yang telah lama dibiarkan yang dapat meningkatkan kontaminasi oleh bakteri, serta perkembangannya lebih pesat, karena masuk dalam “danger zone”.

Idealnya makanan yang telah matang dapat disimpan dalam waktu maksimal 2 jam, apabila tidak segera dikonsumsi.

Baca Juga :  DP3AKKB Maksimalkan Serapan Anggaran 95 Persen di Akhir Tahun

Kemudian periksa kebersihan lingkungan dan peralatan makanan, pastikan lokasi tempat makan yang dituju memiliki lingkungan yang bersih dan tidak berbau.

Kondisi peralatan makan seperti sendok, panci, mangkuk juga harus dalam keadaan bersih untuk mengurangi kontaminasi mikroba.

Hindari Pemanasan Berulang

Apabila ingin menyimpan makanan berkuah di rumah, dinginkan dengan menyimpan di kulkas dengan suhu kurang dari 4°C, dan jika ingin dipanaskan kembali maka panaskan hingga mendidih.

Hindari pemanasan berulang tanpa pengaturan suhu.

Pemanasan berulang dapat dilakukan dengan memastikan keseluruhan makanan dipanaskan secara merata dan bukan sekadar hangat.

Makanan berkuah memang menjadi pilihan yang tepat disaat cuaca dingin melanda, terutama pada musim hujan. Selain memberi kehangatan, makanan berkuah juga mengenyangkan dan memberi rasa nyaman.

Namun kelezatan tersebut patut dibarengi dengan kehati-hatian. Dengan memperhatikan suhu penyajian, kebersihan, dan cara penyimpanan yang benar, kita dapat menikmati kehangatan makanan berkuah tanpa mengkhawatirkan risiko kesehatan yang mungkin terjadi.

Kita sebagai konsumen perlu mengetahui dan menerapkan hal tersebut baik di rumah, maupun di tempat makan lainnya, sehingga kenikmatan memakan bakso atau mie ayam di kala hujan, menjadi sesuatu yang terasa aman.

 

Kota Serang, 1 Desember 2025

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta

 

Referensi:

https://www.fsis.usda.gov/food-safety/safe-food-handling-and-preparation/food-safety-basics/how-temperatures-affect-food

https://public-health.uq.edu.au/article/2023/04/3-reasons-you-feel-hungrier-and-crave-comfort-foods-when-weather-turns-cold

https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/09/ipb-university-expert-warns-against-reheating-certain-types-of-food/

Share :

Baca Juga

Opini

Piala Dunia U-17 dan Banten International Stadium

Opini

Kembali ke Barak

Opini

Lebaran Bukan Liburan

Daerah

PMI Pandeglang Gelar Muker 2025, Pelayanan Kesehatan Jadi Salah Satu Fokus Program Unggulan

Opini

Kebangkitan Nasional dan Birokrasi

Opini

Banten dan Masa Depan Anak

Daerah

Pemkot Serang dan Ditjen P2P Kemenkes Kunjungi Satu Keluarga Terjangkit Kusta di Kasemen

Opini

Cermin Kinerja Pimpinan Daerah : PAD