Home / Daerah

Senin, 5 Januari 2026 - 13:52 WIB

Inovasi Warga Serua Ciputat Tangsel, Tong Air Bekas Disulap Jadi Komposter

Semangat swadaya warga di kawasan Serua Ciputat, komposter jadi senjata hadapi darurat sampah Kota Tangerang Selatan l Dok. Dwi MY-BNC

Semangat swadaya warga di kawasan Serua Ciputat, komposter jadi senjata hadapi darurat sampah Kota Tangerang Selatan l Dok. Dwi MY-BNC

BagusNews.Co – Di tengah kepungan masalah sampah yang melanda Kota Tangerang Selatan (Tangsel), warga di kawasan Serua, Ciputat, menunjukkan semangat gotong royong yang menginspirasi.

Alih-alih hanya mengeluhkan tumpukan sampah yang semakin mengkhawatirkan di berbagai titik kota, mereka memilih tindakan nyata dengan menyulap tong penampung air bekas menjadi komposter.

Inisiatif swadaya ini bertujuan untuk mengurai sampah organik di lingkungan mereka, menjadi solusi kreatif di tengah krisis persampahan.

Kota Tangsel saat ini memang tengah bergulat dengan persoalan sampah yang cukup serius. Penampakan tumpukan sampah di akses jalan utama menjadi pemandangan yang lazim terlihat di beberapa area kota.

Kondisi itu menimbulkan keresahan di kalangan warga, yang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan untuk segera mencari solusi permanen.

Namun, warga Serua, Ciputat, memilih jalur yang berbeda. Mereka tidak menunggu solusi dari pemerintah, melainkan berinisiatif mengelola sampah di lingkungan mereka secara mandiri.

Upaya itu tidak hanya terbatas pada pembuatan komposter, tetapi juga mencakup pembuatan lubang biopori. Harapan besar tersemat pada pengelolaan sampah mandiri ini, yaitu agar dapat turut membantu pemerintah dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak.

Bagi mereka, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama demi mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan bersih.

Baca Juga :  Pemkab Serang Godok Regulasi Pengelolaan Sampah: Fokus Pengembangan TPS3R dan Bank Sampah

Program pengelolaan sampah di lokasi ini dirancang untuk menampung sampah organik dari tiga Rukun Warga (RW) yang mencakup 26 Rukun Tetangga (RT).

Pembuatan wadah komposter ini melibatkan para bapak-bapak yang usianya tidak lagi muda, kebanyakan berusia 50 tahun ke atas. Meskipun demikian, kepiawaian tangan mereka dalam menciptakan alat fungsional tidak dapat diragukan.

Dengan menggunakan alat pemotong yang telah disiapkan, mereka bergotong royong menciptakan alat yang berfungsi menguraikan sampah organik, seperti sisa makanan, daun, dan material organik lainnya.

Hasil dari komposter ini nantinya akan menjadi pupuk kompos yang kaya nutrisi, sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.

Selain berperan sebagai pengurai sampah organik, inisiatif ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.

Tidak berhenti pada sampah organik, warga Serua, Ciputat, juga berencana membentuk bank sampah untuk pengelolaan sampah non-organik.

Langkah itu merupakan solusi strategis agar warga dapat mandiri dalam melakukan pengelolaan sampah sekaligus membangun pola hidup sehat dari lingkungan tempat tinggal mereka.

Seluruh pengelolaan sampah yang dilakukan ini sepenuhnya merupakan swadaya masyarakat sekitar, menunjukkan komitmen kuat mereka terhadap kebersihan lingkungan.

Hohan Barazing, seorang pria berusia 60 tahun, yang ditemui di lokasi, menjelaskan tujuan utama di balik inisiatif ini.

Baca Juga :  Reses DPRD Banten, Yudi Budi Wibowo Serap Aspirasi Masyarakat

“Kami membuat ini untuk mengatasi permasalahan sampah di 3 RW. Ini kita lakukan juga sebagai upaya untuk membantu pemerintah melakukan pengelolaan sampah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hohan menekankan bahwa pengelolaan sampah secara mandiri ini akan membentuk budaya masyarakat yang sadar kebersihan.

Ia berpesan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah dalam persoalan sampah.

“Ini berkonsep dari warga untuk warga. Jadi harus bisa mandiri, nanti kami akan sosialisasi dan membuat aturan bersama pak RT dan pak RW,” tambahnya.

Untuk tahap awal, sebanyak 40 unit komposter akan dibuat guna memenuhi kebutuhan tiga RW tersebut.

Biaya pembuatan satu unit komposter diperkirakan mencapai Rp450 ribu.

Hohan berharap ada dukungan dari pemerintah dalam memfasilitasi kegiatan ini.

“Kami berharap pemerintah juga bisa hadir dan memfasilitasi kami, karena ini untuk kepentingan bersama juga jadi ada simbiosis mutualismenya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, konsep pengelolaan sampah ini juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa sampah dan limbah memiliki nilai ekonomis.

“Jadi masyarakat juga harus sadar bahwa sampah dan limbah ini juga memiliki nilai ekonomi dan bisa membuat lingkungan sehat. Untuk komposter sendiri nanti bisa menjadi pupuk cair dan pupuk kompos,” pungkasnya. (Red/Dwi)

Share :

Baca Juga

Daerah

Lantik Tujuh Pejabat Baru, Sekda Kota Serang Tekankan Pentingnya Adab dan Etika

Daerah

Kebijakan BKN Terkait ASN Kerja 3 Hari, Pemkot Serang: Itu Baru Untuk Kementerian

Daerah

Pemprov Banten Dorong Generasi Muda Dalam Berwirausaha

Daerah

Pantai di Pandeglang Jadi Tempat Wisata Para Pemudik 

Daerah

ASN di Kota Serang Rawan Tidak Netral, Pemkot Serang Gelar Ikrar Netralitas ASN

Daerah

Kota Serang Jadi Tuan Rumah Turnamen Bulutangkis Nasional, Syafrudin: Ini Luar Biasa

Daerah

Ketersedian Beras Selama Bulan Ramadan di Kota Serang Capai 1.285 Ton

Daerah

SMP Negeri 1 Majasari Gelar Pentas Seni