Oleh: Sri Nengsih
Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar impian masa depan, melainkan kenyataan yang sedang mengubah dunia kerja di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan kemajuan teknologi seperti ChatGPT dan berbagai model AI lainnya, banyak profesi tradisional terancam punah, namun di sisi lain, peluang baru juga bermunculan. Meskipun demikian, tantangan ini sebenarnya dapat menjadi kesempatan untuk inovasi dan pendidikan yang lebih merata. Lalu, bagaimana sebaiknya kita sebagai masyarakat menghadapi situasi ini?
Mari kita mulai dengan mengakui kenyataannya: AI telah mulai mengotomatisasi pekerjaan sehari-hari di banyak sektor. Di Indonesia, sektor manufaktur, pertanian, dan layanan pelanggan telah mulai merasakan dampaknya. Sebagai contoh, robot dan sistem AI dapat menggantikan tugas di pabrik atau pusat layanan, yang memang dapat membuat proses lebih efisien, tetapi juga berisiko menyebabkan pengangguran. Menurut laporan dari World Economic Forum, hingga tahun 2025, AI diperkirakan akan menciptakan sekitar 97 juta lapangan kerja baru, namun pada saat yang sama, akan menghapus 85 juta pekerjaan lainnya. Di tengah tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda di Indonesia, ini jelas merupakan sinyal peringatan yang serius.
Namun, beruntungnya, masalah ini tidak tanpa solusi. Sistem pendidikan kita perlu disesuaikan. Sekolah dan universitas harus mulai mengintegrasikan pelatihan AI ke dalam kurikulum, dengan fokus pada keterampilan seperti pemrograman, analisis data, dan kreativitas manusia yang tidak dapat ditiru oleh mesin. Pemerintah Indonesia, melalui inisiatif seperti Kartu Prakerja, dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mencakup kursus AI gratis bagi semua. Selain itu, kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi, misalnya dengan mendukung startup AI lokal yang dapat menyerap tenaga kerja baru.
Dari segi etika, penting bagi kita untuk memastikan AI dimanfaatkan demi kepentingan bersama. Ada risiko bias dalam algoritma dan kesenjangan akses teknologi yang bisa memperlebar jurang sosial. Sebagai ilustrasi, di wilayah pedesaan Indonesia, keterbatasan internet membuat banyak orang kesulitan mengikuti perkembangan ini. Karena itu, investasi pada infrastruktur digital harus jadi prioritas utama, supaya AI tidak cuma menguntungkan kalangan elit di kota-kota besar.
Pada akhirnya, nasib dunia kerja di era AI bergantung pada kemauan kita untuk berubah. Daripada cemas, lebih baik kita anggap ini sebagai peluang emas untuk menciptakan masyarakat yang lebih pintar dan setara. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia punya kans besar untuk jadi pionir di Asia Tenggara dalam mengintegrasikan AI ke dalam perekonomian. Jadi, ayo mulai sekarang, sebelum gelombang perubahan ini melampaui kita.
* Penulis adalah mahasiswi semester 3 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).







