BagusNews.Co – Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Serang, Edy Irianto, mengungkapkan perkembangan terbaru upaya pencalonan Banten dan Lampung sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-23 tahun 2032.
PON yang digelar setiap empat tahun sekali, selanjutnya akan dihelat pada tahun 2028 di Nusa Tenggara Timur.
Sementara untuk edisi 2032, Banten dan Lampung telah mengajukan diri sebagai kandidat tuan rumah, bersaing dengan provinsi lain seperti Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Barat.
Edy menjelaskan bahwa proses pendaftaran telah diselesaikan dengan total biaya sebesar Rp9 miliar, di mana Banten telah memenuhi kewajiban sebesar Rp4,5 miliar.
Setelah pendaftaran, tim dari KONI Pusat dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah melaksanakan proses penilaian dan peninjauan lokasi penyelenggaraan atau venue selama tiga hari berturut-turut.
”Peninjauan dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap fasilitas di Banten Internasional Stadium (BIS) maupun berbagai venue olahraga yang tersebar di wilayah Provinsi Banten, meliputi Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang, dan Tangerang Raya. Demikian pula dengan peninjauan yang dilakukan di wilayah Lampung,” ungkap Edy, saat dikonfirmasi wartawan, Senin, 20 April 2026.
Hasil dari rangkaian kunjungan dan penilaian tersebut menyatakan bahwa Banten bersama Lampung dinyatakan layak untuk menjadi tuan rumah PON 2032.
Namun, keputusan akhir mengenai penetapan tuan rumah akan ditetapkan melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) KONI Pusat yang rencananya akan digelar pada bulan Mei 2026 mendatang.
”Berkaitan dengan itu, melihat gelagatnya, Banten dan Lampung menjadi calon tunggal. Sementara yang lain, hasil dari bidingnya tidak memenuhi syarat tetapi keputusan nanti di Munaslub ketika rapat dengan seluruh provinsi di Indonesia,” katanya.
Sekretaris Satgas Pemenangan Banten-Lampung sebagai tuan rumah PON 2032 ini menyampaikan bahwa berdasarkan perkembangan yang ada, kedua provinsi tersebut berpeluang menjadi calon tunggal. Hal ini dikarenakan kandidat lain dinilai belum memenuhi syarat yang ditetapkan.
”Kita memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat. Menjadi tuan rumah PON bersama Lampung merupakan sejarah baru dalam dunia olahraga nasional, mengingat Banten ini belum pernah menghelat ajang olahraga terbesar di Indonesia tersebut,” tambah Edy.
Apabila terpilih menjadi tuan rumah, Edy menegaskan akan ada berbagai manfaat yang dapat diraih. Dari sisi prestasi, diharapkan kontingen Banten dapat menembus peringkat 5 besar, mengingat selama ini posisinya selalu berada di atas peringkat 10.
Selain itu, dari sisi pengembangan olahraga, akan dibangun berbagai fasilitas baru di kawasan Banten Internasional Stadium (BIS) yang memiliki luas sekitar 80 hektar.
Rencananya akan dibangun kolam renang, gedung bulu tangkis, gedung basket, lapangan hoki, serta fasilitas pendukung lainnya seperti hotel dan mal.
Pembangunan 15 sarana olahraga tersebut akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun depan, sesuai komitmen Gubernur Banten yang telah disampaikan di hadapan Wakil Ketua KONI Pusat.
”Kurang lebih akan dibangun 15 sarana olahraga secara bertahap setiap tahunnya. Banten Internasional Stadium kita alokasikan menjadi tempat upacara pembukaan PON,” ungkap Edy.
Edy menambahkan, manfaat lain yang tidak kalah penting saat menyelenggarakan PON adalah dari sisi ekonomi dan pariwisata.
Penyelenggaraan PON diprediksi akan mendatangkan puluhan ribu pengunjung, sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian, menyerap produk UMKM, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di setiap kabupaten dan kota.
Dari sektor pariwisata, berbagai destinasi unggulan seperti Banten Lama, Pantai Anyer, Tanjung Lesung, dan kawasan adat Baduy akan semakin dikenal oleh masyarakat dari seluruh Indonesia, yang pada gilirannya akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan pendapatan daerah. (Red/ Roy)







