BagusNews.Co – Suasana di RW 12 Kompleks Taman Mangu Indah, Kelurahan Jurang Mangu Barat, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel) pada Jumat, 3 April 2026, tampak lengang dan sunyi. Bukan karena warganya sedang beristirahat, melainkan karena puluhan rumah di kawasan yang bersinggungan langsung dengan Kali Ciputat ini mulai ditinggalkan penghuninya akibat banjir menahun. Jarang tampak keriuhan anak-anak atau derit gerobak pedagang keliling, yang tersisa hanyalah barisan plang ‘Dijual’ yang terpaku bisu di pagar atau jendela rumah yang mulai kusam oleh bekas rendaman air.
Berbatasan langsung dengan kemewahan Bintaro Sektor 9, Kompleks Taman Mangu Indah merupakan perumahan kelas menengah yang membentang di sisi barat dan timur aliran Kali Ciputat. Sungai ini menjadi batas alami antara Kelurahan Jurang Mangu Barat dan Kelurahan Pondok Aren. Namun, denyut kehidupan di wilayah ini perlahan meredup. Pemandangan rumah-rumah kosong dengan rumput liar yang mulai meninggi menjadi bukti nyata, warga mulai kehilangan harapan terhadap masa depan hunian mereka.
Marwoto (71 tahun), salah satu warga yang bertahan sejak tahun 1989, menatap barisan rumah kosong di sekitarnya dengan getir. Saat ditanya mengenai fenomena rumah-rumah yang dilepas pemiliknya, ia hanya bisa berkata lirih. “Ya mungkin, yang jelas ya banjir,” ujarnya. Bagi warga, banjir bukan sekadar genangan, melainkan pemutus urat nadi ekonomi dan mobilitas. “Ya kan kalau banjir, enggak bisa lewat depan. Tahu kan? Depan kan enggak bisa lewat, mobil enggak bisa lewat,” ungkapnya.
Asumsi warga, banjir ini merupakan ‘hadiah’ dari pembangunan di hulu bukanlah isapan jempol belaka. Marwoto mengenang masa-masa awal ia tinggal di sana, di mana Kali Ciputat dikelilingi kebun luas. “Kalau banjir belum lama sih. Banjir itu setelah di Bintaro itu banyak bangunan. Dulu kan di situ kebun semua, mana ada bangunan,” tuturnya.
Keyakinan warga kian diperkuat oleh temuan para Wakil Rakyat baru-baru ini. Dalam inspeksi ke pusat perbelanjaan Mall Bintaro Xchange yang dikelola PT Jaya Real Property, muncul dugaan, bangunan mewah tersebut berdiri tepat di atas jalur lama Kali Ciputat. Hingga kini, dugaan penyerobotan jalur sungai ini masih menjadi polemik di tengah masyarakat.
Bagi Marwoto dan mereka yang tak punya pilihan untuk pindah, hidup adalah tentang kewaspadaan tanpa henti. Meskipun mesin pompa telah dipasang, kekuatannya tak sebanding dengan volume air yang datang dari hulu. Bulan lalu, air setinggi pinggang kembali merendam seisi rumah.
Warga kini memiliki ‘insting bencana’ yang tajam. Begitu langit menghitam, ritual menaikkan barang-barang ke tempat tinggi segera dimulai. Perabotan yang hancur sudah menjadi hal lumrah. “Oh enggak, sudah buru-buru dinaikkan. Yang parah-parah ya sudah dibuang-buang saja, kayak baju,” kata Marwoto.
Kerugian materiel yang menumpuk tanpa adanya kompensasi yang jelas membuat banyak tetangganya memilih mengibarkan ‘bendera putih’. Marwoto tetap bertahan meski di sekelilingnya satu per satu cahaya lampu di jendela tetangganya padam, berganti plang informasi jual rumah. (Red/Dwi)







