BagusNews.Co- Panglima Padepokan Mande Macan Guling Joni Maulana, sekaligus ketua panitia penyelenggara Keuceran Mande Macan Guling mengungkapkan, kehadiran Jokowi ke Kota Serang, Provinsi Banten sebagai orang tua, sekaligus menjadi bagian dari Macan Guling untuk menjadi pembina.
“Kita bersilaturahmi dalam rangka keuceran Macan Guling bersama putra bangsa, yang notabenenya beliau Presiden ketujuh dua periode Bapak Jokowi. Dan diluar itu tidak ada seperti kepentingan politik, safari politik, apalah bentuknya. Kita murni mengundang beliau itu sebagai orang tua dan menjadi bagian daripada Macan Guling untuk menjadi pembina,” beber Joni kepada awak media, di Sekretariat Pokja Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Curug, Kota Serang, Senin, 7 September 2026.
Ia juga memastikan, kehadiran Jokowi pada acara Keuceran Mande Macan Guling yang diselenggarakan di Plaza Aspirasi, KP3B, Curug, Kota Serang, pada Kamis 10 September 2026 akan dihadiri ribuan anggota Macan Guling.
Keuceran Mande Macan Guling adalah tradisi membersihkan mata khas pencak silat aliran Cimande. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun di akhir bulan Mulud.
”Setiap setahun sekali. Ini yang ke 69 kalinya. Keuceran Mande Macan Guling dilaksanakan terpusat di Banten. Jadi setiap DPW dan DPC mengirimkan utusannya. Ada 18 provinsi. Diperkirakan yang hadir kurang lebih 10 ribuan,” urai Joni Maulana.
Joni menegaskan, kehadiran Joko Widodo murni undangan tidak membawa muatan atau kepentingan politik praktis, karena untuk terus menjaga hubungan baik dengan berbagai elemen masyarakat di tanah jawara.
Joni juga tidak mempersoalkan penolakan sekelompok orang terkait kedatangan Jokowi ke Banten. Menurutnya, acara Keuceran murni dirancang sebagai ruang temu silaturahmi sekaligus penguatan tali persaudaraan antar tokoh bangsa dengan masyarakat.
“Penolakan itu sah-sah aja menolak mah, saya tidak pernah keberatan, tidak pernah usil, tapi juga harus berpikir ulang karena ini kita yang mengundang, bukan tujuan beliau datang kesini,” jelasnya.
Seni tradisi keuceran yang digelar Macan Guling tahun ini diharapkan mendapatkan perhatian khusus, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah maupun pusat.
Joni menambahkan, tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini bukan sekadar ritual internal organisasi, melainkan warisan budaya yang memiliki daya tarik budaya serta pariwisata yang sangat besar.
“Kenapa tempatnya di Gedung Plaza Aspirasi KP3B ini yang notabene dekat dengan Pemprov Banten, sehingga bisa menangkap kegiatan kita ini, jadi kan salah satu agenda tahunan untuk Pemerintah Provinsi Banten bahwa keuceran ini adalah bagian daripada budaya dari Cimande. Cimande itu bukan macan guling saja banyak, cimande itu adalah satu aliran ada cimande TTKDH, Banten Girang, Singandaru, kami Macan Guling, dengan adanya keuceran ini pasti mereka akan bantu dan mendukung penuh agenda ini,” Tandasnya.
Pencak Silat Mande Macan Guling berasal dari rumpun Pencak Silat Cimande. Mande Macan Guling diperkenalkan oleh Abah Jahari sekitar tahun 1957-an. Lalu dikembangkan secara terstruktur dan dipublikasikan secara luas oleh Abah Rahman di tahun 1976.
Di tahun itu juga, Mande Macan Guling berkoordinasi dengan PPPSBBI, wadah Peguron Senin Budaya Banten. Di saat itu lah, nama Mande Macan Guling resmo dibedakan dari Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH). (Redaksi)







