Home / Daerah / Health

Kamis, 7 September 2023 - 22:35 WIB

Penggunaan Antibiotik Berlebihan Sebabkan Kematian, Dinkes Banten Diminta Tingkatkan Pengawasan

BagusNews.Co – Penggunaan antibiotik untuk menyembuhkan berbagai penyakit sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia, padahal antibiotik diciptakan bukan untuk semua jenis penyakit.

Agar tidak terjadi penyalahgunaan antibiotik, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memperingatkan antibiotik merupakan obat keras dan butuh resep dokter untuk mengkonsumsinya. Karena jika berlebihan mengkonsumsi antibiotik, akan terkena resistensi antibiotik (Antimicrobial resistance /AMR) yang bisa menyebabkan kematian.

Menyikapi ancaman kematian akibat mengkonsumsi antibiotik berlebihan, DPRD Banten melalui Komisi V meminta Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan Dinkes Kabupaten/Kota untuk meningkatkan pengawasan antibiotik.

“Angka kematian yang disebabkan resistensi antibiotik akibat mikroba atau antimicrobial resistance (AMR) mengalami lonjakan di 204 negara termasuk Indonesia. Bahkan, belakangan kasus kematian akibat AMR juga disebut sebagai pandemi tersembunyi,” kata Wakil Ketua Komisi V Fitron Nur Ikhsan kepada wartawan, Kamis, 7 September 2023.

Politikus Golkar ini meminta Dinkes provinsi dan kabupaten/kota untuk melakukan langkah konkret dalam menekan angka kematian akibat AMR di Provinsi Banten, terutama pengawasan peredaran antibiotik di delapan kabupaten/kita se- Banten.

“Data global menyebutkan 1,2 juta kematian itu terjadi karena antibiotik yang tidak mempan lagi terhadap infeksi tertentu. Ini sudah diserukan oleh Kementrian Kesehatan,” tutur Fitron.

Ia melanjutkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi karena protokol pengobatan yang sembarangan. Akibatnya infeksi pada pasien bertambah parah dan ini yang menyebabkan angka kematian meningkat.

Baca Juga :  Bantuan Hewan Kurban Sapi Dari Presiden Untuk Provinsi Banten Mencapai 1,15 Ton

“Kami sudah sempat membicarakan hal ini dengan BPOM dalam sela-sela acara kedinasan. Namun demikian perlu adanya pembahasan yang serius tentang hal ini di daerah. Pembahasan ini diperlukan untuk mengatur dan melakukan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik yang lebih rasional, sehingga kematian akibat kesalahan penggunaan antibiotik menjadi berkurang,” jelasnya.

Agar tidak semakin banyak kasus kematian akibat AMR di Banten, Fitron mengajak semua pihak untuk duduk bersama.

“Kami minta Dinkes dapat memfasilitasi kami untuk dapat duduk bersama dengan pemangku kebijakan lainnya, agar menentukan langkah strategis ditingkat hulu,” bebernyam

Lebih lanjut, Fitron mengungkapkan, hampir dua tahun pandemi Covid-19 mengajarkan masyarakat bahwa kegagalan dalam kesiapsiagaan akan mengakibatkan kegagalan di berbagai bidang. Hal yang sama berlaku untuk resistensi antimikroba.

“Kita harus bersiap secara kolektif untuk mencegah bencana akibat AMR. Tidak ada satu industri pun yang dapat menghadapi ancaman ini sendirian. AMR membutuhkan banyak partisipasi dari berbagai pemangku kepentingan. Termasuk kita di daerah,” urainya.

Menurut Fitron, di tingkat nasional Kemenkes RI telah berkomitmen untuk bekerja sama dengan kementerian teknis lainnya dan secara bersamaan melakukan transformasi sistem kesehatan.

“Saya bukan orang kesehatan, tapi pengawasan terhadap penggunaan antibiotik tidak bijaksana harus di lakukan secara baik. Saya juga tidak memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup tentang hal ini. Namun ancaman silent pandemic harus kita antisipasi. Coba cek kematian yang terjadi akibat resistensi ini, saya rasa di rumah sakit datanya sudah mulai terlihat menanjak,” pungkasnyam

Baca Juga :  Komisi V DPRD dan Dinkes Banten Sosialisasi Penguatan Komitmen Dalam Prioritas Kesehatan Masyarakat

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut resistensi antibiotik akibat mikroba atau antimicrobial resistance (AMR) sebagai pandemi yang tersembunyi sebab angka kematian yang cukup tinggi serta deteksi kasus yang masih terbatas.

“Data yang kita dapatkan cukup mengagetkan, bahwa 1,2 juta kematian per tahun di dunia disebabkan AMR atau penggunaan antibiotik yang tidak relevan,” ujar Dante.

Dante menambahkan resistensi antibiotik akibat mikroba terjadi karena protokol pengobatan yang sembarangan hingga infeksi pada pasien bertambah parah dan menyebabkan angka kematian yang tinggi.

“Kebanyakan orang menggunakan antibiotik untuk mencegah kuman yang sebenarnya belum tentu itu disebabkan oleh kuman,” bebernya.

Menurut Dante, kejadian kematian akibat pengaruh AMR umumnya dialami sejumlah negara tropis, termasuk Indonesia dan India memiliki angka infeksi yang tergolong tinggi.

Tapi, Dante tidak menyebut berapa jumlah kasus kematian akibat AMR di Indonesia maupun India.

“Pemetaan resistensi antibiotik tidak sesederhana yang dipikirkan, bahwa pemetaan ini butuh beberapa hal salah satunya evaluasi ulang terhadap angka infeksi tidak sembuh dan meningkat di beberapa negara,” pungkasnyam (Red/Dede)

Share :

Baca Juga

Daerah

Resmikan Pos Warga, Gardu Ganjar: Semoga Warga Makin Produktif

Daerah

Bawaslu Kabupaten Serang Larang Angkot One Way Peserta Pemilu Masuk Area Sekolah

Daerah

Retribusi Tenaga Kerja Asing di Lebak Capai Rp947 Juta, Didominasi Pekerja dari Tiongkok

Daerah

Sekda Apresiasi OPD dan Masyarakat Kota Tangerang yang Sigap Tangani Banjir

Daerah

Harga Kelapa Muda di Pandeglang Melonjak Usai Lebaran, Pengusaha Es Mengeluh

Daerah

Lantik Pengurus MWC NU Taktakan, KH. Saifun Nawasi: Khidmat Organisasi untuk Kemajuan Daerah

Daerah

Pemprov Banten Ajak Semua Pihak Menjaga Kondusivitas Dalam Menyambut Pemilu 2024

Daerah

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten Tumbuh, Tingkat Pengangguran Terbuka Turun