BagusNews.Co – Komunitas Kembali Indonesia angkatan 2024 akan mementaskan pertunjukan teater di Umah Budaya Kaujon, Serang, Banten pada 31 Agustus dan 1 September 2024. Pertunjukan teater bertajuk Fragmen Segare tersebut akan digelar pada pukul 20.00 WIB hingga selesai.
Para aktor dalam pertunjukan Fragmen Segare adalah peserta program open recruitmen Komunitas Kembali Indonesia tahun 2024, di antaranya Hikmal, Sekar, Selvi, Lia, Yusuf dan Oki.
Sutradara Fragmen Segare, Imaf M Liwa mengatakan bahwa sebelum menggelar pementasan para aktor telah melalui serangkaian workshop penciptaan teater yang difasilitasi komunitas dengan menghadirkan beberapa pelaku seni dari Banten (teater, tari, sastra dan artikstik). Di antaranya, Arip Senjaya (penulis /dosen) sebagai pemateri worksop kepenulisan dan sastra, Putri Wartawati (koreografi / performer) pemateri workshop tari, Qibro Pandam (perupa) – workshop Artistik, dan Irma Maulani (Aktor / Penulis) – workshop keaktoran.
“Workshop keaktoran Fragmen Segare merupakan penutup program open recruitment yang telah dilaksanakan selama kurang lebih enam bulan. Para peserta diinisiasi melakukan pertunjukan sebagai hasil akhir dari kegiatan dengan mempresentasikan karya melalui pementasan teater,” ujar Imaf dalam rilis yang diterima BagusNews.Co.
Lebih lanjut, Imaf menegaskan, sebelumnya mereka (para peserta) ditugaskan mengunjungi wilayah pesisir untuk melakukan observasi dan pengamatan di desa Lontar kecamatan Tirtayasa.
“Pementasan Fragmen Segare mengangkat tema tentang laut dan kehidupan yang berhubungan dengannya. Melalui hasil temuan lapangan, kami mencoba merakit adegan demi adegan menjadi satu pertunjukan yang utuh sebagai fragmen,” lanjutnya.
Dalam pertunjukan ini, lanjut Imaf, Komunitas Kembali berupaya mengajak audiens bersama-sama menumbuhkan kesadaran menjaga serta merawat lingkungan (baca; laut).
“Di mana laut adalah bagian dari kita. Apalagi jika kita merujuk bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan maritim sebagai identitas Nusantara. Melalui wawancara dan pengamatan, observer mencoba menggali kondisi sosiokultural serta isu terkait,” imbuhnya.
Dipilihnya Lontar sebagai lokasi pengamatan, ia beralasan karena itu merupakan wilayah pesisir Serang Utara yang masyarakatnya didominasi oleh nelayan.
“Masyarakat Lontar menggunakan teknologi tradisional seperti jala dan bubu untuk menangkap ikan dan perahu kayu untuk berlayar ke laut. Namun, melalui pengamatan dan observasi yang dilakukan sebagian masyarakat lontar juga bekerja sebagai petani pasalnya di Lontar terdapat aliran sungai sebagai irigasi dan pengairan lahan pertanian padi,” lanjutnya.
Menurutnya, peristiwa pengamatan dan data hasil observasi tersebut menjadi sebuah seni pertunjukan teater dalam persentasi karya nanti, tidak hanya mengolah memori dari data untuk dipentaskan.
“Kami juga mencoba menjadikan tubuh sebagai medium recording, menyelaraskan apa yang kami rasakan di lapangan, mencoba merekam setiap elemen yang bersentuhan dengan tubuh menjadi data yang tercatat meski bukan dalam bentuk teks,” katanya.
Terakhir, ia mengajak masyarakat Serang dan sekitarnya untuk menyaksikan pertunjukan tersebut sebagai upaya dalam menguatkan kesadaran akan pentingnya merawat lingkungan. (Red/Dwi)







