BagusNews.Co – Dalam upaya menanggulangi maraknya kasus kekerasan dan pelecehan di dunia pendidikan tinggi, anggota DPR RI dari Komisi X, Adde Rosi Khoerunnisa, menggelar kegiatan sosialisasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan langkah preventif di lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut berlangsung di aula STKIP Syekh Manshur, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 8 Desember 2025, sebagai bagian dari respons terhadap meningkatnya insiden kekerasan seksual dan perundungan yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Dalam sambutannya, Adde Rosi mengucapkan rasa terima kasih kepada Ketua Yayasan STKIP Syekh Manshur atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
Ia menegaskan bahwa pendidikan harus menjadi ruang aman dan nyaman bagi semua pihak, serta menegaskan pentingnya kolaborasi semua elemen untuk mengatasi persoalan kekerasan di lingkungan akademik.
“Saya berterima kasih kepada Ketua Yayasan STKIP Syekh Manshur karena telah menerima program saya untuk sosialisasi pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di perguruan tinggi,” ujarnya.
Adde juga menyoroti sejumlah kasus kekerasan yang belakangan ini mencuat di media, seperti insiden di SMA 72 Kepala Gading, Jakarta Utara, serta pencopotan rektor dan dosen yang diduga terlibat pelecehan seksual terhadap mahasiswa dan staf perempuan di beberapa universitas.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa sekolah dan universitas masih menjadi zona merah yang membutuhkan perhatian serius.
“Ini artinya, sekolah dan perguruan tinggi masih menjadi zona merah tindak pidana kekerasan baik itu kekerasan perundungan atau kekerasan seksual,” ungkapnya.
Berdasarkan data dari Komnas Perempuan tahun 2024, tercatat ada 97 pengaduan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan sepanjang tahun ini.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42 kasus terjadi di perguruan tinggi, menempatkannya sebagai kategori tertinggi, diikuti pondok pesantren dan pendidikan Islam, serta SMP dan SMA di posisi ketiga.
Melalui kegiatan ini, Adde berharap kesadaran akan pentingnya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan dapat terus diperkuat.
Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan agar tercipta lingkungan belajar yang aman, sehat, dan ramah perempuan serta anak.
“Saya berharap kegiatan ini bisa membawa manfaat bagi kita para pemerhati pendidikan tinggi di Kabupaten Pandeglang, dan nantinya, upaya ini harus mendapatkan apresiasi berupa penghargaan dan insentif sebagai bentuk motivasi,” pungkasnya. (Red/Difeni)







