Home / Opini

Rabu, 4 November 2026 - 16:57 WIB

Literasi Bulan Bahasa dan Sastra 2026 

Literasi Bulan Bahasa dan Sastra 2026 

Oleh: Ahmad Supena 

 

Sudah umum diketahui, bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa masih terkait dengan Peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di mana salah satu sumpah (ikrar) para pemuda di Kongres Pemuda Indonesia II 28 Oktober 1928 itu adalah ‘Menjunjung Bahasa Persatuan, yaitu Bahasa Indonesia’. Sudah tentu pula, Bahasa Indonesia tidak-lah lengkap tanpa Sastra Indonesia.

Sebab puncak Bahasa Indonesia ada dalam Sastra Indonesia. Sastra-lah yang menjadikan Bahasa Indonesia lebih hidup dan lebih bernyawa. Lebih menggugah dan mencerahkan, selain sebagai bahasa pemersatu, sebagaimana diikrarkan para pemuda di Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928.

Dengan demikian, perayaan Bulan Bahasa selama satu bulan di bulan Oktober, secara historis, merupakan peringatan sekaligus perayaan kelahiran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sebagaimana telah disebut, yang sejarah kelahirannya tidak terlepas dari hasil putusan akhir Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta (Batavia). Perayaan Bulan Bahasa ini di bulan Oktober dimulai sejak tahun 1980.

Ada tiga tujuan utama diselenggarakannya Perayaan Bulan Bahasa, yaitu: Pertama, dalam rangka meningkatkan rasa cinta, bangga, dan kesadaran masyarakat terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Kedua, sebagai upaya untuk mengajak masyarakat menerapkan Trigatra Bangun Bahasa: utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Dan ketiga, untuk mengatasi berbagai masalah terkait penggunaan bahasa dan sastra Indonesia di tengah masyarakat Indonesia yang multi-bahasa dan multi-etnik.

Umumnya, untuk menyemarakkan Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra itu, diselenggarakan sejumlah program dan kegiatan edukatif, seperti: Lomba kebahasaan dan kesastraan (semisal lomba menulis cerpen, puisi, pidato, deklamasi, hingga lomba debat bahasa). Atau kegiatan berbobot lainnya, seperti seminar bahasa dan sastra, lokakarya, dan festival bahasa dan sastra.

Meski di tahun ini, ada sejumlah kegiatan yang tidak diadakan karena terkendala efisiensi pendanaan dari pemerintah, yang berimbas juga pada berkurangnnya pembelajaran dan penyelenggaran kegiatan kreatif di perguruan tinggi.

Makna Bulan Bahasa dan Sastra

Bagi kita, Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra tak sekedar perayaan bahasa dan sastra. Namun lebih dari itu, Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra merupakan media dan kesempatan bagi para pelajar dan mahasiswa untuk mampu mengaya diri dan memperkaya khazanah ke-bahasa-an sekaligus kapasitas kreatif-produktif mereka dalam ranah seni dan sastra, terutama sastra Indonesia.

Selain tentu saja, dalam rangka menguatkan kecintaan generasi muda pada Bahasa Indonesia.

Saat ini, di era digital yang menyebakan brain rot atau pembusukan nalar dan kemerosotan kemampuan kritis generasi muda, Perayaan Bulan Bahsa dan Sastra setidak-tidaknya bisa ‘memerangi’ kemerosotan rasa dan nalar generasi muda akibat distraksi yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi informasi, yang menciptakan mentalitas instan dan merosotnya daya atensi generasi muda.

Hingga membuat mereka kehilangan daya tahan untuk membaca narasi panjang dan kehilangan daya kritis mereka.

Bahasa Bukan Sekedar Kata-kata

Penting untuk kita pahami bersama bahwa bahasa sebagai human nature yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan lainnya, memiliki kedudukan yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar susunan kata dan aturan tata bahasa.

Bahasa sesungguhnya tak hanya alat atau instrumen komunikasi manusia dengan sesama. Lebih dari itu, melalui bahasa-lah manusia menata pikiran, menyampaikan perasaan, mengungkapkan gagasan dan pengalaman hidup mereka, mewariskan atau mendistribusikan pengetahuan untuk sesama manusia yang sezaman dan sesudahnya, dan juga membangun pengertian bersama tentang kehidupan.

Baca Juga :  Menakar Pengaruh Globalisasi pada Penyiaran Lokal

Dalam hal demikian, bahasa adalah bagian dari rasa dan sekaligus pikiran manusia itu sendiri. Dan sastra mewujudkannya sebagai puncak eksistensi bahasa manusia, dalam pengertian yang demikian.

Pengertian esensial dan substantif bahasa yang telah disebutkan itulah, yang contohnya, digambarkan dengan indah dan tepat oleh salah-satu puisinya Sulaiman Djaya yang berjudul Kita Seperti Kata:

‘Kita selalu kesulitan untuk mengemukakan kata yang tepat saat ingin berbicara, dan karenanya puisi ada.

Kita juga seringkali ingin berdamai dengan keindahan dan karenanya kita ingin menyimak nada dalam bahasa.

Kita sesekali ingin akrab dengan burung-burung yang berlesatan, ketika merasa bosan dan kesepian di dalam rumah,

memandang langit selepas hujan –seakan kita ingin tinggal di sana. Sesungguhnya kita selalu ingin menggambar dunia.

Dengan kata-kata yang ada di dalam diri kita. Kau menulis dan membaca apa yang juga kutulis dan kubaca dengan dan dari kata-kata yang sama, meski menghasilkan gambar dan dunia yang berbeda –dan karenanya keindahan pun ada.

Engkau menulis dan bicara tentang cinta dan kesepian, aku pun demikian. Kita tinggal di rumah yang sama dengan pintu-pintu dan jendela-jendela lembab dan lengang namun usia kita tak pernah sama ketika memahaminya. 

(Lihat: Sulaiman Djaya, Kita Seperti Kata, Media Edukasi Indonesia, Agustus 2026, h. 1).

Puisi Kita Seperti Kata karya Sulaiman Djaya itu menginformasikan kita bahwa bahasa adalah juga perasaan dan pikiran manusia.

Bukan sekadar alat atau instrumen komunikasi belaka. Puisi itu menggambarkan dengan tepat dan indah bahwa bahasa pada dasarnya adalah cerminan jiwa manusia.

Bahasa Indonesia Sebagai Sejarah Bangsa 

Tidak lupa juga, bahwa Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra adalah peringatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia itu sendiri. Sejarah bagaimana para pemuda, berani mengambil langkah ke masa depan untuk menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama dan bahasa persatuan, dalam rangka menjembatani ragam etnik dan ragam bahasa daerah masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Karena itulah, tak bisa kita ingkari, sebuah bangsa justru dapat membaca perjalanan sejarahnya melalui bahasa yang berkembang, berubah, termasuk sejarah perkembangan dan kemajuan intelektual dan kreatifnya, semisal dalam sastra dan pencapaian penerbitan buku-buku seni, sastra, dan sains dalam Bahasa Indonesia, yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Singkatnya, Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Bulan Bahasa dan Sastra tidak mungkin diceraikan dari sejarah kebangsaan Indonesia itu sendiri, terutama dari visi masa depan dan semangat Sumpah Pemuda di Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta.

Melalui ikrar atau sumpah setia mereka pada satu tanah air tanah Indonesia, satu bangsa Indonesia, dan satu bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia, para pemuda di Kongres Pemuda II itu menegaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan rumah bersama bagi masyarakat Indonesia yang beragam atau majemuk, terdiri dari ratusan etnik dan bahasa daerah.

Baca Juga :  Tantangan AI terhadap Dunia Kerja di Indonesia

Bahasa persatuan tersebut tentunya tumbuh dan berkembang, bukan semata karena seluruh penduduk atau masyarakat multi etnik Indonesia memiliki bahasa ibu yang sama, melainkan karena terdapat kesadaran untuk membangun jembatan di antara berbagai perbedaan, demi cita-cita dan kebaikan bersama untuk kemajuan di masa depan.

Visi dan semangat para pemuda di Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 tersebut mengandung pelajaran bahwa bahasa membutuhkan kesediaan untuk saling memahami, bukan sekadar kecakapan menyusun kalimat atau kata-kata belaka, persis seperti yang telah dikiaskan puisinya Sulaiman Djaya yang berjudul Kita Seperti Kata di buku antologi keduanya tersebut.

Dengan demikian, merayakan Bulan Bahasa dan Sastra sesungguhnya dalam rangka merawat kembali cita-cita kebangsaan melalui penggunaan bahasa yang bertanggung jawab, bernalar, dan menghargai kemanusiaan, serta mengedepakn prinsip resiprokal dan kesetaraan.

Bahasa dan Sastra Sebagai Jiwa Manusia

Pujangga besar Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, menegaskan bahwa bahasa adalah cerminan ragam aspek dan dimensi manusia dalam dirinya dan dalam kehidupan mereka.

Mengiyakan pandangan dan pemikiran Herder, Goethe memandang bahasa bukan sekadar alat komunikasi mekanis, melainkan organisme hidup yang tumbuh bersama pengalaman, sejarah, dan jiwa (Volksgeist) suatu bangsa. Sejatinya, bahasa adalah jiwa manusia yang bisa tumbuh dan berkembang bersama perkembangan sejarah dan kebudayaan manusia itu sendiri.

Dalam hal demikian, bahasa menurut Goethe merupakan media atau wahana artistik tertinggi yang mampu menyelaraskan bentuk dan isi, ujaran (bunyi) dan makna.

Pandangan Goethe tersebut tidak terlepas dari kekagumannya yang mendalam pada keindahan bahasa Al-Qur’an yang dipuji Goethe karena keselarasan gaya bahasanya dengan pesan spiritual yang disampaikan secara indah dan menggugah atau mencerahkan jiwa dan pikiran.

Pada segi atau dimensi intelektual dan kebudayaan, Goethe mempercayai bahwa bahasa dan sastra dari berbagai belahan dunia (baik Barat maupun Timur) sesungguhnya saling terhubung melalui penerjemahan dan dialog yang setara dan saling berendah-hati.

Goethe memandang sastra sangat bisa menjadi jembatan untuk melampaui batas-batas budaya yang sempit dan memerangi kecurigaan dan prasangka Timur-Barat yang acapkali berujung pada kebencian dan kekerasan yang melukai kemanusiaan.

Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini, kita baca saja puisinya Goethe yang mencerminkan pandangannya tentang bahasa dan sastra tersebut:

“Apakah Al Qur’an abadi? 

Itu tak kupertanyakan! 

Apakah Al Qur’an ciptaan? 

Itu tak kutahu! 

Bahwa ia kitab segala kitab, 

Sebagai muslim wajib kupercaya. 

Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, 

Tiada lah ku sangsi; 

Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, 

Mungkin juga bukan cuma puisi. 

Sang peminum, bagaimanapun juga, 

Memandang wajahNya lebih segar belia.” 

Diterjemahkan oleh Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono.

Dari puisi Goethe itu kita jadi tahu bahwa sastra pun mengandung spiritualitas dan religiusitas.

Sebuah puisi yang mencerminkan kerendah-hatian dan kedalaman rasa dan pikiran seorang pujangga besar.

Semoga, melalui Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan satu bulan penuh di setiap bulan Oktober, kita bisa belajar darinya.

 

Kota Serang, 3 November 2026

*) Penulis adalah Ketua Jurusan PBI FKIP Untirta

 

 

Share :

Baca Juga

Opini

Banten Itu Benten

Opini

Revolusi Kuliner Sehat: Umbi Porang Jadi Bahan Utama Mie Shirataki yang Menyehatkan!

Opini

Banten dan Masa Depan Anak

Opini

Penipuan Proyek Laptop Bukan Tanggungjawab Pemprov Banten

Opini

7 Bulanan Andra-Dimyati dan 25 Tahun Banten

Opini

Menakar Pengaruh Globalisasi pada Penyiaran Lokal

Opini

Pariwisata: Antara Banten dan NTB

Opini

Soekarno dan Banten