BagusNews.Co – Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten, Ahmad Nuri, menyampaikan pandangannya jelang perayaan hari lahir (harlah) NU ke-103 tahun, yang diperingati setiap tanggal 31 Januari.
Menurutnya, lebih dari satu abad NU telah menorehkan sejarah panjang mulai dari mendidik, mempertahankan, hingga mengisi republik ini dengan berbagai kontribusi nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai salah satu organisasi agama terbesar dan bahkan keberadaan NU sudah cukup lama sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 31 Januari 1926.
“NU hadir bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kekuatan moral dan sosial yang ikut membentuk arah perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Nuri, ditemui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang, Jumat, 9 Januari 2026.
Diketahui, jajaran PWNU Banten telah menggelar istighosah dan doa bersama, pada Kamis (8/1/2026) kemarin, untuk menyambut perayaan harlah NU ke-103.
Nuri menegaskan bahwa istighotsah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk rasa syukur atas usia NU yang telah melampaui satu abad dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
PWNU Banten pun mengajak seluruh warga NU untuk berdoa demi keselamatan bangsa dan umat, atas bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah daerah.
“Dalam situasi seperti ini, NU harus berada di garda terdepan, tidak hanya melalui aksi sosial, tetapi juga melalui kekuatan spiritual,” ucap Nuri.
Nuri mengatakan, refleksi sejarah penting dilakukan agar NU terus berperan dalam membangun peradaban dan berkontribusi di tingkat global, tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai-nilai keislaman.
Ia juga menyinggung dinamika internal PBNU yang sempat mengemuka belakangan ini. Namun pada akhirnya perbedaan pandangan itu telah diselesaikan melalui musyawarah dan islah, yang menjadi ciri khas dan karomah NU.
Menurut Nuri, kemampuan NU menyelesaikan persoalan melalui prinsip tasamuh, tawazun, tawasuth, dan i’tidal menunjukkan kedewasaan organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal.
Lebih lanjut, PWNU Banten mendorong lahirnya Resolusi NU 2026 untuk menegaskan bahwa NU harus tampil sebagai pelayan umat, bukan organisasi yang elitis, melainkan inklusif dan hadir untuk semua lapisan masyarakat.
“Ketika umat membutuhkan penguatan ekonomi, NU harus hadir. Ketika kelompok minoritas membutuhkan perlindungan, NU wajib mengayomi,” tegas Nuri.
Terkait Muktamar, ia menegaskan bahwa PWNU Banten tidak sedang mendorong hal tersebut. Menurutnya, kewenangan itu sepenuhnya berada di tangan PBNU sebagai otoritas tertinggi organisasi.
“PWNU Banten fokus pada islah dan kontribusi nyata. Soal muktamar, kami mengikuti keputusan PBNU,” tutup Nuri. (Red/ Roy)







