Home / Daerah

Senin, 12 September 2022 - 19:56 WIB

Aplikasi E-SAPA Permudah Monitoring dan Perlindungan Perempuan dan Anak

Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Sitti Ma'ani Nina | Istimewa

Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Sitti Ma'ani Nina | Istimewa

 BagusNews.Co – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten berharap aplikasi E-SAPA (Sahabat Perempuan dan Perlindungan Anak) menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam menjamin perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Diketahui, sistem aplikasi E-SAPA baru saja dilaunching pada 13 Agustus 2022 lalu itu langsung mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga yang menyebut, sistem tersebut merupakan yang pertama dari 142 model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Sitti Ma’ani Nina mengatakan, sistem tersebut dibuat guna mempermudah para relawan sahabat perempuan dan anak di tingkat desa membuat laporan.

“Jadi (apabila relawan) sahabat perempuan dan anak menemukan adanya kekerasan terhadap perempuan adan anak bisa langsung melaporkan lewat aplikasi ini. Sehingga masalah (di bawah) terlaporkan ke kami, sehingga dapat mempermudah kami untuk melakukan monitoring dan evaluasi,” kata Nina, Senin (12/9/2022).

Baca Juga :  Dampak Sengketa Pilkada di MK, Pelantikan 3 Kepala Daerah di Banten Tertunda 

Lebih lanjut, Nina mengungkapkan, setiap desa di Banten akan ditempatkan sebanyak 10 orang relawan sahabat perempuan dan anak. Dimana, relawan itu debntuk langsung oleh desa berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa.

“Organisasi relawan ini merupakan kelompok yang (memang) konsen dalam permasalahan perempuan dan anak. Ini merupakan upaya pemerintah melalui Kementerian PPPA dalam melakukan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya.

Menurut Nina, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dimulai dari tingkat bawah. Maka tak ada lagi alasan bagi pemerintah desa, perangkat sesa, tokoh masyarakat untuk tidak pedululi terhadap perlindungan perempuan dan anak.

Baca Juga :  Andra Soni Lepas Keberangkatan Perdana Transjabodetabek Rute Blok M – Alam Sutera

“Jika stakeholder desa sudah peduli, maka otomatis kabupaten/kota tidak ada lagi kekerasan perempuan dan anak,” ujarnya.

“Makanya ujung tombak masyarakat adalah di desa. Jadi di level desa harus menyiapkan Peratutan Desa (Perdes), lalu dalam Musawarah Desa (Musdes) diharapkan ada keterlibatan perempuan dan anak,” sambungnya.

Nina menjelaskan, salah satu metode pencegahan paling dasar adalah edukasi di tengah masyarakat, khususnya terkait pola asuh anak yang benar.

“Dari nol sampai 18 tahun. Pengasuhan, kesehatan, pendidikam dan perlindungan. Yang tentunya mendukung DRPPA yang langsung dilaunching oleh Menteri PPA untuk me untuk mendukung program unggulan dari pusat. Dan kalau di daerah mendukung RPJMD kabupaten/kota,” jelasnya.(ADV)

Share :

Baca Juga

Daerah

Gelar Jambore Santri, KPU Banten Sasar Pemilih Pemula

Daerah

Al Muktabar Dorong Bank Banten Sebagai Piloting Program PanCEK KPK RI

Daerah

KPU Banten Terima Surat Suara 9.156.350 Lembar, Paling Banyak Untuk Kabupaten Tangerang

Daerah

Gardu Ganjar Banten Adakan Pasar Murah, 500 Paket Sembako Diserbu Warga Tangerang

Daerah

BPBD Kota Serang Gelar Mitigasi Bencana di Kasemen

Daerah

Aksi Demo Ribuan Tenaga Honorer Serang Batal, Ini Penyebabnya!

Daerah

Ada Nella Kharisma dan Momonon, Kampanye Relawan Prabowo Meriah di Kota Tangerang

Daerah

Airin-Ade Tak Hadir di Penetapan Andra-Dimyati Sebagai Pemenang Pilgub Banten