BagusNews.Co – Indonesia menargekan pada 2030 bebas rabies, sedangkan untuk pulau Jawa ditargetkan bebas pada tahun 2029. Akan tetapi Pemerintah Provinsi Banten menargetkan bebas rabies di tahun 2026.
Target itu dinilai realistis, sebab saat ini Provinsi Banten telah mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat atas prestasinya selama 14 tahun bebas rabies.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, upaya tersebutbukan hasil dari Distan semata, melainkan kolaborasi dengan seluruh stackholder, termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
“Karena rabies ini merupakan bagian dari Kesehatan masyarakat dan ventiliner yang erat kaitannya dengan Dinkes,” kata Agus Tauchid, ditulia Junat 18 Oktober 2024.
Dikatakannya, upaya 14 tahun Banten bebas rabies itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika tahun 2008 itu, Pemprov Banten masih memiliki banyak keterbatasan, salah satunya kita hanya mempunyai satu dokter hewan. Kemudian pada tahun berikutnya kita tambah satu lagi.
“Terus setiap tahun kita perbanyak SDM atau paramedis dalam bidang bentiliner. Sampai pada akhirnya kita memiliki laboratorium pakan dan Kesehatan Hewan serta Ventiliner yang saat ini menjadi menjadi kekuatan utama kita dan rujukan banyak daerah,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena rabies ini jangan dianggap enteng. Pasalnya jika tidak ditangani dengan serius, maka dampaknya akan luar biasa, terutama pada sektor perekonomian yang pasti akan mengalami penurunan.
“Bali pernah mencatatkan kasus rabies yang cukup tinggi, sehingga membuat para wisatawan enggan untuk berlibur ke sana,” imbuhnya.
Selain itu, pada tahun 2021-2024, Distan Banten telah melakukan survailen untuk rabies di Kota Tangerang, Kab Tangerang, Serang dan Cilegon. 2025-2026 kita juga akan melakukan survilen di seluruh Pemda dengan didukung para medis dan ditopang dengan vaksin yang cukup memadai.
“Sehingga kita optimis tahun 2026 Banten menjadi daerah yang bebas rabies,” jelasnya.
Sementara, Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Distan Provinsi Banten Ari Mardiana menuturkan, untuk daerah Pulau Jawa, Banten dan Jawa Barat menjadi daerah dengan resiko tinggi potensi sebaran rabies. Hal itu dikarenakan Banten menjadi daerah penghubung dengan Pulau Sumatera.
“lalu lintas hewan yang berpotensi menyebarkan rabies itu cukup tinggi dari wilayah Sumatera melalui Banten. Misalnya anjing,” katanya.
Untuk itu, kemungkinan kedepannya kegiatan pencegahan rabies dari pemerintah pusat itu akan banyak dikonsentrasikan di Banten dan Jawa Barat. Adapun untuk titik lokasinya saat ini Pemprov masih menunggu.
“Roadmap-nya sedang disusun. Gerakannya disebut Jawara, Jawa Bebas Rabies. Kemudian, kenapa Banten masih beresiko tinggi rabies, di pulau Jawa kasus rabies terakhir ditemukan pada tahun 2017. Dan itu masih sangat rentan,” ucapnya.
Dikatakan Ari, hewan yang menyebarkan rabies itu 95 persen dari anjing. Walaupun tidak menutup kemungkinan dari yang lainnya seperti kera atau kucing. Tapi kucing, meski persentase penularannya sedikit hanya satu persen. Yang paling besar risiko penularannya itu itu adalah anjing.
Pencegahannya tidak ada lain selain melalui vaksinasi rabies. Vaksinasi itu kita upayakan untuk mencapai coverage sekitar 70 persen persen, sehingga 30 persen lainnya akan secara alami terlindungi.
“Sekarang vaksinasinya baru 20 persen, belum maksimallah tapi kita sih berupaya untuk memaksimalkan,” pungkasnya. (Red/Dede)







