Home / Daerah / Ekonomi

Sabtu, 29 November 2025 - 14:44 WIB

Gen Z & Petani Masa Depan

Oleh : Azzura Asya Firujah

Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan struktural yang penting. Salah satu yang paling kritis adalah isu regenerasi petani.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata usia petani di Indonesia berada di kisaran 40–50 tahun, mengindikasikan krisis regenerasi yang mendesak.

Namun, di tengah tantangan ini, muncul tren revolusioner yang didorong oleh Generasi Z. Gen Z, yang terbiasa dengan teknologi dan isu sustainability, mengubah citra pertanian dari pekerjaan subsisten menjadi profesi high-tech yang menjanjikan.

Penurunan minat generasi muda terhadap sektor primer telah lama menjadi perhatian. Tetapi, laporan studi terbaru dalam bidang sosiologi pedesaan menyoroti pergeseran motivasi.

Gen Z tidak hanya melihat pertanian sebagai sumber pendapatan, melainkan sebagai jalan untuk mencapai kemandirian finansial (financial independence) dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan mitigasi perubahan iklim.

Mereka adalah agen perubahan yang membawa semangat start-up ke sektor agraris. Terutama dalam merevitalisasi pertanian melalui adopsi teknologi 4.0, penerapan praktik berkelanjutan, dan inovasi pemasaran digital.

Menjadi Agripreneur

Seringkali Gen Z memandang petani sebagai pekerja fisik yang kotor dengan pendapatan yang minim. Stigma negatif tersebut dapat diubah menjadi stigma positif oleh Gen Z itu sendiri, bahwasanya profesi petani menjadi hal yang krusial untuk menciptakan pangan yang keberlanjutan.

Pada akhirnya, Gen Z sukses mengubah narasi. Mereka mendefinisikan kembali petani bukan sebagai pekerja fisik, tetapi sebagai agripreneur pengusaha yang cerdas dan berwawasan luas.

Menurut survei tren wirausaha, Gen Z lebih termotivasi untuk memiliki kontrol penuh atas bisnis mereka. Dalam konteks pertanian, ini berarti mengelola rantai nilai secara independen, dari budi daya hingga branding akhir.

Mereka menekankan storytelling tentang asal-usul produk, meningkatkan nilai jual, dan menolak sistem tengkulak yang merugikan.

Baca Juga :  Tekan Angka Pengangguran, Buruh di Kota Serang Dukung Penuh Investasi

Peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi (baik dari latar belakang agribisnis maupun teknologi) yang terjun ke pertanian secara langsung, merupakan indikasi nyata booming pada generasi saat ini.

Inovasi dan Teknologi

Gen Z merupakan pionir dalam mengadopsi konsep precision agriculture (pertanian presisi) yang mengandalkan data untuk optimalisasi sumber daya.

Adanya adopsi teknologi Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian di Indonesia, meskipun masih bertahap, mulai didominasi oleh petani berusia muda.

Mereka menggunakan sensor kelembaban tanah dan suhu yang terintegrasi dengan smartphone, untuk mengaktifkan irigasi otomatis, menghemat penggunaan air hingga 30% dibandingkan metode tradisional.

Di kota-kota besar, Gen Z memelopori vertical farming dan hidroponik. Teknik ini menghasilkan panen yang konsisten sepanjang tahun, dengan penggunaan air yang minimal.

Dilaporkan bahwa satu sistem vertical farm dapat menghasilkan volume panen setara dengan hektaran lahan konvensional.

Gen Z menggunakan drone untuk pemetaan multispektral, memungkinkan identifikasi dini penyakit tanaman dan optimasi dosis pemupukan.

Ini tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga meminimalkan dampak lingkungan akibat penyebaran bahan kimia yang tidak merata.

Green Agriculture

Komitmen Gen Z terhadap sustainability bukan hanya tren, tetapi inti dari model bisnis mereka. Pada Tren global menunjukkan peningkatan permintaan produk organik.

Petani muda di Indonesia merespons dengan mengurangi atau menghilangkan pestisida kimia, berfokus pada kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati. Praktik ini sejalan dengan target pengurangan emisi karbon dari sektor pertanian.

Selain itu, dalam pengelolaan pasca panen, Gen Z menerapkan prinsip zero waste, seperti mengubah limbah pertanian (sekam padi, kulit buah) menjadi pupuk kompos atau pakan ternak.

Pendekatan ini tidak hanya mengurangi polusi tetapi juga menciptakan aliran pendapatan baru. Pada hal ini, untuk memenuhi tuntutan pasar ekspor dan domestik premium, Gen Z mengedepankan sertifikasi keberlanjutan dan transparansi penuh, menggunakan platform digital untuk melacak asal-usul produk (traceability).

Baca Juga :  Swasembada Pangan, Forkopimda Kabupaten Tangerang Tanam Jagung Hibrida di Ranca Iyuh

Branding Digital

Gen Z juga memanfaatkan penguasaan media sosial mereka, untuk menciptakan koneksi langsung dengan konsumen. Riset pasar menunjukkan bahwa saluran penjualan langsung (D2C) produk pertanian yang dikelola Gen Z tumbuh pesat, terutama melalui marketplace dan media sosial.

Mereka berhasil membangun brand pertanian yang unik dan berkarakter, menjangkau konsumen perkotaan tanpa perantara.

Konsep Agrowisata yang dikelola Gen Z tidak hanya berfungsi sebagai rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi.

Melalui konten TikTok atau Instagram, mereka dapat mempermudah pertanian, mendorong minat masyarakat luas, dan menciptakan sumber pendapatan yang meningkat secara luas.

Gen Z telah membuktikan diri sebagai kekuatan transformatif di sektor pertanian. Menggabungkan teknologi presisi, idealisme lingkungan, dan kecakapan digital, mereka telah mengubah sektor ini dari “warisan masa lalu” menjadi “peluang masa depan” yang menjanjikan kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan.

Pemerintah dan lembaga terkait harus memperkuat dukungan, khususnya dalam akses permodalan berbasis teknologi dan pelatihan digital.

Proyeksi menunjukkan bahwa investasi pada petani muda dapat meningkatkan produktivitas pertanian nasional sebesar 15–20% dalam satu dekade mendatang, menjamin Indonesia memiliki sumber pangan yang kuat dan berkelanjutan.

Pangan adalah masa depan, dan masa depan ada di tangan Gen Z. Mari dukung, kolaborasi, dan berpartisipasi aktif dalam gerakan green agriculture.

Dan menjadi petani adalah pilihan karier yang paling strategis bagi masa depan bangsa!

 

Kota Tangerang, 28 November 2025

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta

Share :

Baca Juga

Daerah

Tingkatkan Transparansi Keuangan, Kepala OPD Se-Kabupaten Serang Ikuti Pelatihan Manajemen Risiko Eksekutif

Daerah

Pasca Lebaran, Harga Bawang dan Tomat di Pasar Iduk Rau Alami Kenaikan

Daerah

Pemkot Serang Tunggu Kebijakan Terkait THR PPPK Paruh

Daerah

Dukung Program Prioritas Presiden, AHY: Tata Ruang Jadi Panglima Pembangunan

Daerah

Kesejahteraan Kepsek-Guru SMA/SMK dan Skh Negeri di Banten Jadi Prioritas Pemprov Banten

Daerah

Pantai Baka-Baka Menjadi Pilihan Wisatawan di Liburan Lebaran Tahun Ini

Daerah

Tiga Bulan Memimpin Banten, Fraksi PDIP Ingatkan Penjabat Gubernur Al Muktabar

Daerah

Tingkatkan Indeks Kebahagian, Nizar Ajak Warga Nonton Film Kejar Mampi Gaspol!