Oleh Nisa Nurfadilah
Pada 2012, dunia sastra Indonesia digemparkan oleh sosok Denny Januar Ali (selanjutnya disebut Denny JA) yang menerbitkan buku antologi puisi esai pertama di Indonesia berjudul Atas Nama Cinta. Buku ini memperkenalkan genre baru yang memadukan bahasa puitis dengan data atau fakta sosial serta dilengkapi dengan catatan kaki.
Buku puisi esai Atas Nama Cinta karya Denny JA berisi lima kisah naratif yang mengangkat isu diskriminasi sosial, konflik agama, dan percintaan tragis di Indonesia. Lima puisi esai panjang dan berbabak yang terhimpun dalam antologi tersebut di antaranya berjudul Sapu Tangan Fang Yin, Romi dan Yuli dari Cikeusik, Minah Tetap Dipancung, Cinta Terlarang Batman dan Robin, serta Bunga Kering Perpisahan.
Sejak kemunculannya, buku ini memicu banyak perdebatan dari berbagai kalangan. Penolakan besar-besaran terjadi setelah puisi esai mulai diwacanakan sebagai genre baru dalam sastra Indonesia dan semakin menguat dengan terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit KPG (2014) dan diluncurkan di Jakarta pada 3 Januari 2014 oleh tim 8 Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dengan koordinator penyair Jamal D.
Nama Denny JA dinilai berpengaruh oleh Tim 8 karena dianggap sebagai penggagas dan perintis penulisan puisi esai. Karena memang buku antologi puisi esai yang pertama kali ada di Indonesia adalah bukunya Denny JA. Kemudian setelahnya, Denny JA melakukan banyak pergerakan dan menyebarluaskan puisi esai.
Sebetulnya, ada beberapa nama dalam buku 33 tokoh tersebut yang patut dipertanyakan pengaruhnya, namun yang diprotes justru hanya Denny JA. Kontroversi ini, menurut saya, dipicu oleh beberapa faktor sekaligus, yakni: (1) adanya penolakan terhadap penggabungan puisi dan esai, (2) ketidaksetujuan terhadap klaim puisi esai sebagai genre baru dalam sastra Indonesia, dan (3) latar belakang Denny JA sebagai konsultan politik serta pendiri LSI (Lingkaran Survei Indonesia) yang dinilai belum lama berkecimpung dalam dunia sastra, tetapi justru malah dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh.
Yang menarik, menurut saya, adalah banyaknya pihak yang merasa “kepanasan” terhadap kemunculan puisi esai, sementara Denny JA sendiri cenderung menanggapi kontroversi tersebut dengan santai, tetap teguh pada pendiriannya, dan memilih terus berkarya di tengah berbagai penolakan. Banyak sastrawan yang mengecam Denny JA. Salah satunya adalah Saut Situmorang dalam debat sastra yang diselenggarakan oleh Isti Nugroho pada 2018. Ia mengatakan, “Bagaimana mungkin bisa mengharapkan sebuah esai yg penuh kesadaran sejarah dan teori sastra dari seseorang yg cuma tertarik dengan dunia bisnis demi mengeruk keuntungan finansial? Bagaimana mungkin bisa mengharapkan seseorang yang cuma promotor industri hiburan untuk paham apa itu seni, apa itu sastra?”
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap yang cenderung meremehkan dan bersifat personal, sehingga kurang objektif. Justru, adanya puisi esai ini dapat menjadi metode dan jembatan yang lebih luas bagi berbagai kalangan. Dengan gaya narasi yang lebih mudah diakses serta tema-tema yang relevan, puisi esai membuka ruang bagi mereka yang sebelumnya merasa terasingkan dari dunia sastra. Dalam hal ini, tidak menjadi masalah jika seorang “promotor industri hiburan” seperti yang dikatakan Saut di atas, turut terjun ke dunia sastra. Dunia sastra pada dasarnya luas dan bebas, sehingga tidak semestinya dibatasi dan dipersempit seperti itu.
Polemik puisi esai masih terus berlangsung hingga kini. Bahkan, ketika Denny JA mendapatkan nominasi dalam Konferensi Pers BRICS Literature Award yang diumumkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin pada 27 Oktober 2025, penolakan keras kembali terjadi. S. Mahayana dan Remmy Novaris menyampaikan penolakan tersebut saat acara berlangsung. Tindakan tersebut, menurut saya, justru sangat aneh dan malah membuat mereka mempermalukan diri sendiri, mengingat penilaian terhadap Denny JA dilakukan oleh juri dari sembilan negara luar yang tergabung dalam ajang tersebut.
Melalui tindakan itu, terlihat adanya ketidakmenerimaan terhadap fakta bahwa Denny JA menjadi satu-satunya penyair Indonesia yang lolos dan memeroleh nominasi. Kembali pada polemik sejak awal, masih banyak pihak yang menganggap Denny JA kurang layak. Padahal, daripada terus mempertanyakan kelayakan orang lain, akan lebih baik jika masing-masing memperbaiki diri. Karena jelas sebenarnya Denny JA tak tinggal diam ketika dirinya terus menerus diragukan. Ia justru sedang berusaha membuktikan kelayakannya melalui produktivitas karya serta berbagai penghargaan yang terus mengiringi langkahnya.
Dalam hal ini, menurut saya, kritik dan kecaman terhadap Denny JA justru malah semakin memperluas pengaruhnya. Secara sadar maupun tidak, hal tersebut menjadi semacam taktik promosi yang memperkenalkan puisi esai kepada khalayak yang lebih luas. Terlebih lagi, Denny JA tidak terpancing emosi dan tidak menyerah menghadapi berbagai penolakan. Pihak-pihak yang sebelumnya mengecam dan mempertahankan masuknya nama Denny JA dalam buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia seharusnya merasa malu. Karena dapat dilihat bahwa polemik tersebut justru membuktikan pengaruh besar Denny JA.
Kini, pengaruh puisi esai bahkan semakin meluas hingga ke luar negeri. Pada 2024, Denny JA bersama tokoh sastra di Sabah, Malaysia, khususnya Datuk Jasni, mengadakan Festival Puisi Esai ASEAN sekaligus membentuk Komunitas Puisi Esai ASEAN. Dari kegiatan tersebut lahirlah “Angkatan Puisi Esai” yang pertama kali dideklarasikan oleh Agus R. Sarjono pada Festival Puisi Esai ASEAN ke-3 di Sabah, Juni 2024.
Meskipun dalam perjalanannya puisi esai mengalami banyak polemik, tapi puisi esai tetap berkembang pesat hingga kini. Dalam hal ini, sejauh pembahasan dan pengamatan saya, saya sangat tidak setuju jika kritik dicampuradukan dengan rasa emosi pribadi.
Kota Serang, 6 April 2026
Penulis adalah mahasiswi semester 4 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Selain aktif di dunia akademik, penulis juga aktif di organisasi kampus yaitu UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra).







