Oleh: Lia Mulia Ningsih
Di awal semester empat ini, pikiran saya mendadak terbuka akan satu hal: bahwa kritik ternyata jauh lebih dalam dari sekadar mencari kesalahan. Dulu, saya mengira bahwa kritik hanya bertujuan untuk menunjukkan kesalahan dalam suatu hal, peristiwa, atau objek tertentu. Namun, mengikuti mata kuliah ini justru mengajarkan dan membiasakan mahasiswa untuk berpikir kritis sekaligus mencintai objek yang dikritiknya.
Lantas apa hubungannya mencintai dengan kritik?
“Kritik adalah salah satu bentuk cinta”
Satu kalimat yang diucapkan oleh Pak Arip, dosen pengampu mata kuliah Kritik Sastra yang melekat sampai saat ini meskipun sudah melewati beberapa pertemuan.
Beliau mengatakan bahwa kritik itu merupakan kerja mencintai sesuatu lebih dari orang lain. Mungkin Anda berekspetasi bahwa tulisan ini adalah esai yang mengkritik novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan secara menyeluruh. Jika ada yang berpikir semacam itu, hilangkan dahulu ekspektasi yang besar dalam pikiran Anda, sebelum melanjutkan apa yang ingin saya tulis di sini. Saya bukan kritikus yang andal dalam mengkritik sesuatu termasuk karya sastra. Mengacu pada apa yang dikatakan awal dengan pernyataan dosen saya yang mengatakan bahwa kritik itu salah satu bentuk cinta maka ini menjadi bentuk cinta yang ingin saya berikan terutama pada penulis yang membahas tentang perempuan.
Perempuan, wanita, cewek, dan sebutan semacamnya memang sangat sensitif. Bahkan, dari pemilihan ketiga kata ini, bisa dibedakan untuk siapa sebutan itu diberikan. Menjadi perempuan terlalu banyak hal yang harus dikorbankan, terutama kebebasan. Bahkan, R.A. Kartini, sosok pahlawan perempuan yang memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan untuk mendapat pendidikan berjuang mati-matian.
Perempuan selalu dituntut untuk bisa menjadi pelayan terbaik bagi suaminya, atau biasa dikenal dengan tuntutan 3M (Masak, Macak, dan Manak). R.A. Kartini dulu di usia 12 tahun harus dipingit dan tidak mendapatkan haknya sebagai seorang anak yang seharusnya bisa bermain dan mengejar pendidikan. Tak terbayang jika saya berada di zaman dulu, mungkin pikiran bunuh diri akan selalu ada setiap detik karena hidup seakan hanya untuk memuaskan orang lain sedangkan keinginan dan kebebasan diri itu tidak didapatkan.
Saya sering bertanya sampai detik ini, apakah perempuan tercipta hanya untuk menjadi pemuas kebutuhan laki-laki?
Entah itu yang terjadi di masa penjajahan maupun saat ini. Ada laki-laki yang mencari istri karena kecantikannya, ada pula yang mencari karena andal mengerjakan tugas rumah tangga, entah itu pintar memasak atau bersih-bersih rumah. Mungkin ini akar permasalahan dari beribu-ribu kasus yang melibatkan perempuan, entah itu kekerasan seksual, perselingkuhan, KDRT, pelecehan, dan berbagai hal keji lainnya. Perempuan selalu dijadikan objek dan dipandang lemah sehingga laki-laki yang sifatnya seperti binatang buas, berani untuk melakukan tindakan keji.
Sebelum membahas bagaimana Cantik Itu Luka, saya dadarkan dulu tentang siksaan yang dialami perempuan. Rasanya, perempuan itu entah dari zaman penjajahan dulu hingga saat ini, itu hidupnya tak lepas dari perjuangan, kesakitan, bahkan sulit mendapat kebebasan walaupun tidak semuanya seperti itu. Dulu, pahlawan yang saat ini yang selalu dikenang akan semangat perjuangannya untuk hak, kebebasan, dan kesetaraan itu mulai terasa jika memang untuk pendidikan. Nyaris tidak ada yang melarang perempuan untuk bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, di balik kebebasan mendapatkan pendidikan, ada satu hal yang mungkin akan bersinggungan dengan novel yang akan saya berikan bentuk cinta ini.
Teruntuk para perempuan terutama yang sudah menikah, apakah Anda pernah bertanya kenapa para suami Anda. Mengapa mereka memilih Anda untuk menjadi pasangan hidupnya? Apakah hanya karena Anda cantik atau karena cocok menjadi istri? Jika memang kedua itu alasannya, patut dipertanyakan kecintaannya.
Di dunia nyata, tidak ada perempuan yang tidak mau menjadi cantik. Bahkan hingga saat ini, banyak perempuan yang berlomba-lomba untuk bisa menjadi cantik. Operasi plastik, perawatan tubuh, dan semacamnya itu, saya yakin tak semua perempuan mempercantik dirinya untuk diri sendiri. Ada yang melakukan karena tuntutan ingin terlihat sempurna di mata suaminya dan agar suaminya senang ketika melihat istrinya cantik.
Cantik itu luka memang benar adanya, bahkan ingin menjadi cantik juga banyak lukanya. Memaksakan kaki untuk menginjak hak tinggi yang sangat tidak nyaman dan menyakiti telapak kaki, menekan perut dengan kain yang dililit agar terlihat lekukan yang rapi semacam gitar spanyol, bahkan menusukkan jarum ke kulit-kulit wajah agar terlihat lebih muda. Banyak orang selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar “cantik”.
Cantik Itu Luka
Tiga kata pasif yang cukup menyayat hati dan menggetarkan dada, ketika membaca satu per satu halaman yang menceritakan bagaimana tersiksanya menjadi seorang perempuan. Novel yang ditulis oleh Eka Kurniawan ini mendapat penghargaan internasional bergengsi, termasuk World Readers’ Award (2016) dan masuk dalam 100 Notable Books of the Year oleh The New York Times. Novel best-seller ini juga diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa dan dipuji kritikus dunia meskipun hanya cerita fantasi atau orang pintar menyebutnya surealisme. Novel yang sarkas, vulgar, dan cerita yang sangat kompleks. Percintaan, kekejaman, keluarga, sejarah, bahkan kebejatan seorang lelaki. Melihat hard cover di cetakan ke-10 yang cukup kompleks dengan berbagai elemen yang menggambarkan isi buku ini memang kreatif, namun terlalu ramai untuk dilihat mata sedangkan font di judulnya yang terlalu kecil, mungkin salah satu alasan saya baru membaca buku ini.
Jika saat ini banyak para perempuan yang berlomba-lomba untuk mempercantik diri, lain halnya dengan tokoh dalam novel fiksi yang ceritanya seakan memang ada. Di novel ini diceritakan bahwa kecantikan itu adalah kutukan. Dewi Ayu yang terlahir cantik dari hasil cinta terlarang dari kakak beradik yaitu Henri Stammler dan Aneu Stammler, tak menginginkan anaknya lahir cantik. Dia sudah merasakan bagaimana terkutuknya menjadi wanita cantik yang hanya bisa dinikmati dan sulit untuk dicintai atau mendapatkan cinta yang benar-benar sejati. Ketiga anaknya yang terlahir cantik, yaitu Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi selalu bernasib buruk. Mereka tak mendapatkan kebahagiaan bahkan sampai anaknya lahir. Kisah percintaan yang absurd saling suka dan bercinta tanpa melihat hubungan saudara, membuat novel ini memang seakan menceritakan kisah turunan kecantikan berupa kutukan dari roh jahat.
Eka Kurniawan mengemas isi dan makna keseluruhan dalam novel 505 halaman ini dalam satu tokoh anak keempat yang bernama Cantik namun buruk rupa. Cantik yang biasanya orang lihat bisa menarik perhatian bahkan membangunkan gairah binatang buas yang punya akal dan pikiran, justru membuat semua orang ketakutan karena wajahnya yang tak seperti manusia. Tidak ada yang mau mendekatinya. Jangankan laki-laki, anak kecil saja justru kabur. Bahkan, para orang tua sering menakuti anak-anaknya bahwa dia adalah monster di dunia nyata. Si Cantik mengalami banyak hinaan dan siksaan, diperlakukan tidak adil untuk mendapatkan haknya terutama pendidikan. Bahkan pengasuhnya rela membiarkan tubuhnya dinikmati kepala sekolah hanya agar si Cantik diterima.
Saya salut dengan imajinasi penulis yang bisa mengaitkan dan menggambarkan berbagai peristiwa dan tokoh itu memiliki kesinambungan dan problematika yang turun-temurun. Novel ini memang menceritakan tentang berbagai luka yang dialami perempuan di zaman penjajahan, tetapi hal yang ingin saya kritik sebagai salah satu bentuk cinta terhadap novel ini dan para perempuan yaitu gaya bahasanya. Gaya bahasa yang vulgar, sarkas, dan blak-blakan memang bisa menjelaskan secara jelas bagaimana kondisi yang terjadi. Namun, yang menjadi permasalahan yaitu tidak semua orang kuat membaca hal-hal tragis. Sakit dan badan gemetar ketika membaca kisah menyakitkan terutama tentang perempuan yang berkaitan dengan seks, entah itu mendapatkan kekerasan ataupun hanya dinikmati oleh anjing-anjing liar berkepala manusia.
Pembaca yang mungkin memiliki trauma itu akan sulit melanjutkan bacaannya, terutama pada beberapa kalimat yang mengerikan walaupun tokoh berbicara sesuai kenyataan.
Contoh dialog di halaman tiga yang membuat sesak di dada, yaitu ketika Dewi Ayu disuruh oleh dukun untuk menyusui anaknya, si Cantik yang buruk rupa.
“Kau perempuan tua, aku yakin kau bisa menyusui bayimu.”
“Itu benar, sudah habis oleh tiga anak sebelumnya dan ratusan lelaki. Seratus tujuh puluh dua lelaki. Yang paling tua berumur sembilan puluh dua tahun, yang paling muda berumur dua belas tahun, seminggu setelah disunat. Aku mengingatnya dengan baik.”
Saya tidak ingin mengkritik penulisan angka dalam pernyataan yang diucapkan Dewi Ayu. Namun, yang ingin saya sampaikan yaitu walaupun ini hanya cerita fiksi, tetapi hal ini memang berkaitan dengan sejarah Indonesia pada masa penjajahan Jepang, yaitu para perempuan dijadikan budak seksual atau disebut Jugun Ianfu untuk memuaskan nafsu dan kebutuhan seksual mereka. Dialog lain yang cukup mengerikan dan menggambarkan kekejaman laki-laki terhadap perempuan yaitu ketika Ma Gundik dan Ma Iyang bertemu, setelah 12 tahun Ma Iyang menjadi budak seksual tentara penjajah.
“Apakah kau masih mengharapkanku?” tanya Ma Iyang. “Seluruh tubuhku telah dijilati dan dilumuri ludah orang Belanda, dan kemaluanku telah ditusuk kemaluannya sebanyak seribu seratus sembilan puluh dua kali.”
“Aku telah menusuk dua puluh delapan kemaluan perempuan sebanyak empat ratus enam puluh dua kali, dan menusuk tanganku sendiri dalam jumlah tak terhitung, belum termasuk kemaluan binatang, apakah kita berbeda?”
Dari dialog di atas, mungkin mengarah pada bagaimana kisah cinta yang saling menerima meski sudah banyak luka yang ada. Namun, yang ingin saya pertegas bahwa dalam buku ini yaitu perempuan selalu dijadikan objek dan sasaran para pemburu dan penjahat di bumi. Laki-laki yang berselingkuh badan dengan perempuan lain bahkan binatang, itu menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini.
Banyak sekali laki-laki yang mengatakan rasa cintanya dan kesetiaannya tetapi tetap saja menikmati tubuh wanita lain. Laki-laki seolah tak merasa bersalah, keganasan dan kebejatan yang dilakukan karena tidak bisa mengontrol diri itu juga digambarkan dalam beberapa tokoh dalam novel ini.
Saya sebagai perempuan hanya ingin mengkritik hal kecil dari segi judul yang dibuat. Penulis mungkin berniat untuk menggambarkan tragisnya kondisi perempuan di Indonesia pada masa itu, walaupun ditulis secara fiksi. Menurut saya, pemilihan judul yang diberi nama Cantik Itu Luka terlalu mengobjektifikasi perempuan. Perempuan yang selalu tersorot dan menjadi objek dari kejahatan. Kenapa hanya perempuan dan kecantikan yang menjadi permasalahan? Apakah perempuan yang terlahir cantik di dunia yang telah Tuhan ciptakan sesempurna mungkin, adalah bentuk siksaan?
Menurut saya, kecantikan adalah anugerah. Semua perempuan bisa cantik sesuai dengan versinya masing-masing. Cantik itu bukan luka, tapi cantik itu kebahagiaan. Perempuan sering kali merasakan perilaku tidak mengenakkan setiap berjalan sendirian. Perilaku seperti pelecehan dan kekerasan seksual saat ini, tidak memandang cantik atau tidak. Jika dilihat dari segi kecantikan yang menjadi luka perempuan, bagaimana dengan kasus-kasus yang terjadi, bahkan orang yang sudah tua, anak-anak dan perempuan tertutup yang tidak terlihat kecantikannya itu sudah banyak yang menjadi korban?
Apakah nenek-nenek terlihat cantik dan menawan? Apakah anak kecil yang berusia di bawah 10 tahun menawan dan menggairahkan? Bahkan yang tidak masuk akal adalah wanita tertutup yang tidak terlihat wajahnya sekalipun, tetap saja diburu oleh binatang paling buas di dunia yang disebut laki-laki. Banyak laki-laki yang mengatakan bahwa kekerasan dan pelecehan yang terjadi saat ini adalah salah perempuan yang tidak menjaga auratnya. Semua seakan salah perempuan, ia dituntut untuk menjaga dan terus menjaga. Sedangkan laki-laki?
Seharusnya saat ini yang harus ditekankan adalah laki-laki yang menjaga pandangan serta kontrol diri, jangan selalu menyalahkan perempuan.
Isi novel ini menggambarkan kebejatan laki-laki dan ketersiksaan perempuan. Namun, judul yang terlalu menjadikan perempuan sebagai objek seakan-akan ia salah jika terlahir cantik, itu sangat kurang sesuai. Secara tidak langsung, orang yang sudah membaca novel ini mungkin ada yang berpikir untuk tidak menjadi cantik karena akan terluka. Bahkan, orang yang terlahir cantik merasa sangat ketakutan dan terkena mental setelah membaca ini. Sebenarnya novel ini sangat bagus untuk dijadikan pembelajaran sejarah dan kisah percintaan. Namun, pemilihan judul yang terlalu menyalahkan kecantikan itu kurang cocok. Saya tidak tahu alasan kenapa penulis memilih judul ini, entah karena penulisnya laki-laki, bisa jadi.
Seharusnya judul yang paling tepat untuk menggambarkan novel ini, bukan Cantik Itu Luka, tetapi Lelaki itu Penjahat. Jika novel ini akan kembali terbit di cetakan selanjutnya, mungkin judul kedua lebih cocok dan lebih sesuai jika dikaitkan dengan kondisi saat ini.
Kebejatan yang dilakukan oleh laki-laki yang buas tanpa memandang bulu, entah bulu kemaluan atau bulu anjing yang mereka jilat, itu cukup menggambarkan sifat laki-laki bejat.
Di kondisi saat ini, banyak laki-laki yang sudah gila. Penggambaran tokoh Ma Iyang yang sudah gila, itu juga terjadi di kehidupan nyata. Bahkan benar-benar ada, laki-laki yang memuaskan nafsu birahinya ke binatang dan sesama kaumnya sendiri. Ada juga laki-laki yang melecehkan perempuan yang sedang beribadah. Bukankah itu bejat, jahat, dan buas?
Mungkin akan lebih tepat lagi jika judulnya ingin menggambarkan realita yang ada, itu lebih cocok jika berjudul Kebuasan Laki-Laki. Kata buas atau kata lain seperti kekejaman, kebengisan, keberingasan, kebiadaban, kebrutalan, keganasan, kegarangan, kekejian, kesadisan, kekasaran, ataupun kekerasan akan lebih tepat untuk menjadi tamparan dan menggambarkan sifat laki-laki.
Saya sebagai perempuan tidak terima jika kecantikan disebut luka, meskipun memang begitu keadaannya saat ini. Bukan salah kami yang cantik dari lahir, tetapi salah laki-laki yang biadab karena sudah melukai anugerah yang Tuhan beri. Bayangkan, seorang ibu yang sudah berjuang susah payah selama mengandung anaknya 9 bulan, melihat hadiah paling indah yang Tuhan berikan melalui kecantikan. Lalu, anugerah dan hadiah dari Tuhan untuk seorang ibu, justru dilukai dan disakiti oleh darah dagingnya sendiri. Bahkan, bapak bejat itu mempunyai grup dan komunitas untuk mengirimkan foto-foto bugil anaknya. Bukan cerita fantasi atau fiksi, tetapi ini memang peristiwa yang pernah terjadi.
Sering kali, saya merasa terganggu dan benci ketika ada orang baru terutama laki-laki yang tidak dikenal memuji kecantikan saya. Terlebih ketika kata cantik itu diucapkan dengan pandangan aneh yang seakan membayangkan sesuatu. Kata cantik yang diucapkan seolah-olah itu adalah pelecehan. Berbeda jika ibu saya yang mengucapkan ketika saya dandan rapi dan dipuji oleh ibu. Siapa yang tidak berbahagia jika seorang ibu dengan penuh ketulusan mengucapkan “Cantik sekali anak Mamah ini, sudah cantik, lucu lagi”. Bukankah itu kebahagiaan dan anugerah yang tak ternilai dari seseorang yang mengucapkan dan memuji kecantikan anaknya sebagai bentuk syukur?
Pandangan ini yang harus dipatahkan terkait perempuan yang selalu menjadi objek dan yang disalahkan. Ubah pandangan ini ke subjek yang menyakiti dan melukai perempuan. Jangan terlalu menyalahkan korban, tapi salahkan pelaku. Jangan hanya menyalahkan perempuan, tetapi salahkan laki-laki yang memiliki sifat kebuasan.
Setiap hari, perempuan merawat dirinya dan selalu melihat dirinya di depan cermin. Ada rasa bahagia ketika jerawat yang muncul sudah mulai membaik, rambut kering yang sudah mulai lembut, pori-pori yang sudah mengecil, komedo yang sudah terhempas, dan berbagai hal membahagiakan lainnya ketika merawat diri agar lebih cantik dan lucu ketika kami bercermin. Bukan untuk dilihat kaum bejat, tetapi sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa syukur yang Tuhan berikan.
Bayangkan, seorang perempuan yang mempercantik untuk dirinya sendiri agar bahagia, atau yang sudah terlahir cantik, lalu dinodai oleh laki-laki bengis yang tak beretika, sudah pasti akan mengalami trauma.
Jadi, siapakah yang salah? Perempuan yang terlahir cantik atau laki-laki yang keji? Pertanyaan ini saya kembalikan kepada Anda: haruskah perempuan terus menanggung luka atas anugerah yang mereka miliki?
Kota Serang, April 2026
Penulis adalah mahasiswa semester empat Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.







