Geliat Ekonomi Banten Menggembirakan
Oleh : Sugeng Setyadi
Dinamika perekonomian global saat ini dalam ancaman resesi dan perlambatan ekonomi yang diperkirakan hingga akhir tahun 2023, akibat instabilitas keamanan dan ketegangan dikancah geopolitik global yang berimbas pada perekonomian domestik negara-negara di dunia termasuk Indonesia.
Namun kondisi perekonomian nasional, terutama Provinsi Banten dinilai masih kuat menghadapi gejolak ekonomi global. Hal ini dapat diidentifikasi dari pertumbuhan ekonomi Banten yang terus membaik dan meningkat dengan didorong oleh kenaikan ekspor dan permintaan domestic (impor), tekanan inflasi terus menurun dan lebih rendah dari perkiraan awal serta meningkatnya berbagai sektor termasuk sektor pariwisata.
Pertumbuhan ekenomi tersebut di atas, menjadi modal ketahanan ekonomi Banten untuk bertahan menghadapi risiko resesi global, yaitu dengan terus ditingkatkannya kinerja ekspor agar memberikan pengaruh dalam meningkatkan kondisi pertumbuhan ekonomi di Banten.
Dilansir oleh Badan Pusat Statistik (4/07/23), tercatat kinerja ekspor Provinsi Banten pada Bulan Mei 2023 senilai US$1,12 miliar. Nilai tersebut tumbuh positif dan mengalami peningkatan sebesar US$0,24 miliar atau 27,61 persen dibandingkan April 2023 (US$0,88 miliar).
Pangsa ekspor non-migas Banten ke negara-negara tujuan ekspor utama cenderung stabil dan mengalami peningkatan pada semua sektor, yakni sektor industri, sektor pertanian, sektor pertambangan dan lainnya, dibandingkan periode sebelumnya.
Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan pangsa sebesar US$147,71 juta. Menurut komoditasnya, komoditas utama ekspor Provinsi Banten yaitu komoditas alas kaki (pangsa 18,45%) dengan nilai barang tertinggi melalui Pelabuhan Tanjung Priok sebesar US$930,27 juta. Secara kumulatif, total ekspor Banten bulan Januari-Mei 2023 mencapai US$5,07 miliar, atau terkontraksi 18,61 persen dibandingkan Januari-Mei tahun lalu. Oleh karena itu, ekspor merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi yang mana jika ekspor meningkat maka pertumbuhan ekonomi juga meningkat.
Selain kinerja ekspor, adanya kinerja impor juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten. Kegiatan memasukkan barang dari suatu negara (luar negeri) ke dalam wilayah pabean untuk memperkuat neraca pembayaran dan mengurangi keluarnya devisa ke luar negeri. Tercatat kinerja impor Provinsi Banten pada Bulan Mei 2023 senilai US$3,15 miliar.
Nilai tersebut tumbuh atau meningkat sebesar US$0,61 miliar atau 23,99 persen dibandingkan April 2023 (US$2,54 miliar). Berdasarkan jenis barang yang diimpor, peningkatan ini terjadi terutama pada golongan barang terbesar pada peralatan listrik (HS 85) sebesar US$525,43 juta (20,28%) dengan pemasok barang terbesar ke Tiongkok sebesar US$392,28 juta.
Adapun nilai impor menurut golongan penggunaan barang Mei 2023 dibanding bulan sebelumnya seluruhnya mengalami peningkatan nilai pada bahan baku/penolong sebesar US$375,72 juta (19,55 persen), barang modal naik sebesar US$128,83 juta (28,32 persen) dan barang konsumsi sebesar US$104,81 juta (63,92 persen). Secara kumulatif, total impor Banten bulan Januari-Mei 2023 mencapai US$14,64 miliar, atau terkontraksi 9,56 persen dibandingkan Januari-Mei tahun lalu.
Kenaikan barang impor akan menaikkan barang produksi yang diimpor dari luar negeri sehingga produktivitas dalam negeri semakin menurun. Oleh karena itu, diperlukan upaya mengendalikan harga pangan agar tetap stabil dengan terus mendorong dan memanfaatkan ekspor.
Di sisi lain, peningkatan kualitas perekonomian Provinsi Banten tercermin dari tingkat inflasi yang stabil. Menurut teori Keynes, proses inflasi adalah perebutan pendapatan pada kelompok-kelompok sosial yang ingin mendapatkan bagian yang lebih besar dari yang dapat disediakan oleh masyarakat.
Dasar pemikiran inflasi ini terjadi karena masyarakat menginginkan hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Dengan demikian dapat menyebabkan permintaan masyarakat berjalan efektif. Adanya kenaikan harga yang melambung tinggi dan terjadi secara terus-menerus hanya akan mengakibatkan efek buruk dalam kegiatan ekonomi, namun juga berdampak kepada kemakmuran individu masyarakat.
Dalam hal ini Provinsi Banten masih dapat dikatakan memiliki inflasi yang terkendali sehingga dampak negatif pada perekonomian di Provinsi Banten tidak terancam.
Inflasi Provinsi Banten pada Bulan Juni 2023 tercatat sebesar 3,15 persen (yoy), menurun dibandingkan Mei 2023 sebesar 3,67 persen (yoy).
Laju inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan secara nasional pada Bulan Juni 2023 sebesar 4,33 persen. Khusus untuk regional Banten, andil inflasi tertinggi gabungan 3 Kota Bulan Juni 2023 dengan nilai inflasi Kota Serang sebesar 3,72 persen (yoy), Kota Tangerang (2,98% yoy), dan Kota Cilegon (3,54%).
Peningkatan inflasi terjadi pada mayoritas kelompok pengeluaran seperti transfortasi (andil: 1,45%); kelompok makanan, minuman, dan tembakau (andil: 0,47%); perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (andil: 0,46%), menjadi 3 kelompok terbesar yang menyumbang inflasi. Komoditas barang dan jasa berdasarkan andil inflasi (yoy) tertinggi gabungan 3 Kota Juni 2023 tertinggi di komoditas Bensin (andil: 1,13%), Sewa Rumah dan Angkutan antar Kota (andil: 0,23%).
Tekanan inflasi di Provinsi Banten diperkirakan terus menurun. Menurunnya tekanan inflasi salah satunya buah dari kerja tim pengendali Inflasi Pusat dan Daerah yang mengordinasikan upaya pendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta kementerian dan lembaga. Kendati demikian, seluruh pemangku kepentingan tetap perlu mewaspadai lonjakan inflasi akibat kondisi cuaca saat ini yang diperkirakan menciptakan kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen, ini bisa mengganggu pasokan pangan sehingga bisa memicu inflasi dari faktor harga pangan.
Pemprov Banten menggencarkan berbagai strategi dan terobosan, untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Banten pada 2023 ini. Semua sektor akan terus ditingkatkan termasuk sektor pariwisata. Sebab, perkembangan sektor pariwisata berdampak terhadap perkembangan sektor ekonomi lainnya seperti UMKM, restoran, penginapan, transportasi, dan usaha lainnya.
Kinerja pariwisata di Provinsi Banten meningkat tercermin dari salah satunya pada peningkatan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang dan non bintang. Tingkat hunian kamar gabungan tercatat pada Bulan Mei 2023 sebesar 45,69 persen, mengalami kenaikan sebesar 7,55 poin atau 0,15% dibanding April 2023 sebesar 38,14 persen. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel berbintang Mei 2023 mencapai 1,75 hari, naik 0,15 poin dari April 2023 (1,60 hari).
Momen bulan Ramadan, Idul Fitri, dan liburan sekolah ditengah pelonggaran kebijakan mobilitas masyarakat telah mendorong peningkatan TPK. Rata-rata lama menginap tamu di Provinsi Banten akan mempengaruhi jumlah pengeluaran atau spending wisatawan, sehingga diperlukan strategi pengembangan pariwisata yang komprehensif dan end to end sebagai salah satu new source of growth guna menjaga momentum perbaikan ekonomi di Provinsi Banten.
Termasuk menjalankan prinsip ecological sustainability, selain keberlanjutan sumber daya alam dan ekonomi, keberlanjutan kebudayaan merupakan sumber daya yang sangat penting dalam pembangunan kepariwisataan. Pariwisata berkelanjutan akan tercapai bilamana ada kesinambungan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya budaya, dan sumber daya manusia disamping keberlanjutan ekonomi secara adil dan merata.
Upaya dan kebijakan Pemprov Banten sudah dilakukan, tinggal bagaimana menjaga fundamental ekonomi yang kuat dan terus berjalan sesuai track/jalur dan harapan masyarakat Banten untuk bisa terlepas dari ancaman stunting, kemiskinan ekstrim dan problematika pembangunan lainnya.
Serang, 5 Juli 2023
Penulis adalah Doktor Ekonomi Pembangunan dan Dosen Fakultas Ekonomi Untirta







