Oleh: Mubayinnah Zuhruf Sarifudin
Makanan cepat saji (fast food) dan Gen Z tak bisa dipisahkan dari potret kehidupan sehari-hari masa kini. Terlebih trennya dipengaruhi oleh media sosial dan kebiasaan jajan yang praktis.
Perhatikan antrean di gerai cepat saji di sekitar kita atau lihat riwayat pesanan di aplikasi ojek online milik anak muda. Pasti Gen Z mendominasi.
Sejatinya Gen Z dikenal sebagai generasi yang vokal terhadap isu sosial, peduli lingkungan, dan sadar kesehatan. Mereka membaca label, mempertanyakan bahan baku, dan peduli keberlanjutan.
Namun, mengapa ayam goreng krispi tetap menjadi makanan favorit mereka? Jawabannya lebih dari sekadar rasa enak; ini adalah perpaduan antara globalisasi, psikologi generasi, dan tuntutan hidup yang serbacepat.
Di Indonesia, akses terhadap makanan cepat saji semakin luas seiring gaya hidup yang mengutamakan efisiensi dan kecepatan.
Survei Jakpat menunjukkan sekitar 49 persen Gen Z makan fast food 1-2 kali per minggu, 24 persen makan 3-4 kali, dan 12 persen bahkan setiap hari.
Diperkuat dengan Yonatan (2025), menjelaskan bahwa makanan cepat saji telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi banyak kaum muda, untuk mereka yang mencari kepraktisan dan kecepatan yang semakin bergantung pada makanan praktis yang mudah ditemukan.
Konsumsi Global
Ayam goreng krispi telah menjadi ikon konsumsi global berkat kemampuannya beradaptasi. Rasanya yang hampir seragam di mana-mana, memberikan kenyamanan dan nostalgia yang menenangkan di tengah ketidakpastian.
Fungsi praktisnya sebagai sumber energi dengan efisiensi waktu menjadikannya pilihan logis bagi Gen Z yang memiliki jadwal padat dan multitasking.
Rekstur crunchy dan kemasan praktis juga menjadikannya mudah viral di media sosial. Maulyda et al. (2022) menegaskan bahwa konsumsi ayam krispi bukan hanya soal rasa tetapi juga tentang menjadi bagian dari tren global yang instan.
Pemasaran digital menjadi bahan bakar utama kesuksesan fast food di kalangan Gen Z. Merek tidak hanya menjual makanan, tapi pengalaman budaya.
Kolaborasi dengan musisi K-Pop, karakter game, dan influencer menciptakan FOMO (Fear of Missing Out) yang besar. Gen Z merasa harus ikut tren agar tidak ketinggalan. Visual makanan cepat saji dirancang agar menarik foto dan diunggah di media sosial sebagai bagian dari identitas diri.
Faktor utama adalah keselarasan fast food dengan ritme hidup Gen Z yang serba cepat, multitasking, dan padat aktivitas. Yetmi et al. (2021) menjelaskan bahwa waktu adalah aset paling berharga.
Menunggu 30 menit masakan rumahan dianggap kemewahan boros waktu, sedangkan fast food dapat diperoleh dalam hitungan menit. Makan tidak lagi menjadi ritual sakral tapi “bahan bakar” untuk menjalani aktivitas selanjutnya. Fast food adalah solusi fungsional yang paling logis.
Mental Health
Namun, konsumsi fast food berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Studi global menunjukkan pola makan tinggi kalori dan lemak berkorelasi dengan risiko depresi, kecemasan, dan stres.
Meruelo et al. (2024) menemukan hubungan dua arah antara konsumsi fast food dan emosi negatif seperti kemarahan dan impulsivitas pada remaja.
Efek neurobiologis fast food bahkan dapat memicu ketergantungan dan gangguan regulasi emosi jangka panjang.
Oleh karena itu, edukasi dan intervensi dari pemerintah, sekolah, dan keluarga sangat penting agar remaja sadar akan dampak konsumsi fast food dan beralih ke pola makan lebih sehat.
Dominasi fast food di lidah Gen Z adalah hasil perpaduan akses global, pemasaran digital yang canggih, dan gaya hidup cepat mereka.
Merek fast food sukses mengubah “rasa instan” menjadi “cita rasa global” yang wajib dicoba. Pertanyaannya, bagaimana Gen Z bisa menyeimbangkan kebutuhan kenyamanan instan ini dengan kesadaran akan kesehatan jangka panjang?
Saat ini, fast food masih tetap menjadi raja di singgasana lidah Gen Z di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kabupaten Tangerang, 23 November 2025
• Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Untirta
REFERENSI
Yonatan, A.Z. (2025) Seberapa sering Gen Z konsumsi makanan cepat saji?,Goodstats.
Meruelo, A.D. et al. (2024) ‘How Do Anger and Impulsivity Impact Fast-Food Consumption
in Transitional Age Youth?. AJPM Focus. 3(3).
Maulyda, S. N., Nugraha, T. F., Harlina, U., Akbar, N. D.,
Gunawan, E., & Geraldio, S. G. (2022). Pengaruh celebrity endorsement Boyband BTS terhadap purchase intention produk BTS Meal McDonald’s pada generasi Z di DKI Jakarta. Jurnal Kajian Ilmu Komunikasi, 2(2), 154–165.
Yetmi, F., Harahap, F. S. D., & Lestari, W. (2021). Analisis faktor yang memengaruhi konsumsi fast food pada siswa di SMA Cerdas Bangsa Kabupaten Deli Serdang tahun 2020. STUDI: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 6(1), 25-35.







