Home / Daerah

Kamis, 20 Februari 2025 - 21:44 WIB

Sungai Diuruk, Petani dan Nelayan Muncung Geruduk BBWSC3

Poster-poster yang berisi tuntutan warga Desa Muncung yang terdampak pengurukan sungai di wilayahnya dan ditujukan kepada BBWSC3 l Dok. Dwi MY-BNC

Poster-poster yang berisi tuntutan warga Desa Muncung yang terdampak pengurukan sungai di wilayahnya dan ditujukan kepada BBWSC3 l Dok. Dwi MY-BNC

BagusNews.Co – Warga Desa Muncung Bersama Front Kebangkitan Petani dan Nelayan (FKPN) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, dan Cidurian (BBWSC3).

Aksi ini dilatarbelakangi oleh pengurukan Sungai/Kali Malang Muara Selasih yang terjadi di Desa Muncung, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, akibat pembangunan proyek PIK 2.

Dalam demonstrasi yang digelar pada Kamis, 20 Februari 2025 ini, para petani dan nelayan tidak hanya menyuarakan aspirasi mereka, tetapi juga membawa satu ekor monyet sebagai simbol kekecewaan.

Selain warga Desa Muncung, ada juga puluhan massa aksi lainnya yang berasal dari beberapa daerah lain di Kabupaten Tangerang.

Koordinator aksi, Iqbal, menjelaskan bahwa pengurukan yang dimulai pada Juni 2024 ini sangat merugikan warga, terutama dalam hal irigasi untuk 600 hektare tambak.

Baca Juga :  Dampak Proyek PIK 2 Masyarakat Banten Utara Tuntut Keadilan

“Mulai pengurukan sekitar bulan Juni (2024), dan itu sungai vital karena 600 hektare tambak menggantungkan pengairannya dari situ,” ungkap Iqbal.

Pengurukan ini tidak hanya berdampak pada tambak, tetapi juga mengganggu saluran irigasi sawah milik warga.

Iqbal menambahkan bahwa meskipun warga telah mengirim surat kepada BBWSC3 pada 23 Januari 2025, tidak ada respons yang diterima.

“Mereka harus turun lihat ini sungai kalian. Urusan proyek saja mereka saling mengklaim ‘ini kewenangan kami, ini kewenangan kami’ ketika ada masalah seperti ini ke mana mereka?” tuturnya.

Sebagai bentuk ekspresi protes, para demonstran membawa seekor monyet di dalam kandang yang ditempeli kertas bertuliskan ‘Kantor BBWSC3’. Iqbal menjelaskan bahwa monyet tersebut menjadi simbol dari kekecewaan warga.

“Ini disclaimer kalau kami tidak mengkritik individu tapi secara jabatannya, institusinya,” tambahnya.

Baca Juga :  Buka Kejurprov Catur 2025, Wagub Banten Dimyati : Hargai Lawan dan Jaga Sportivitas

Dalam aksi tersebut, juga terlihat sebuah poster besar yang meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan proyek PIK 2 dengan tulisan, “Kami masyarakat Muncung memohon kepada Presiden Prabowo Subianto, untuk menghentikan pekerjaan proyek PIK 2 secara paksa dibayar lunas mengatasnamakan PSN.”

Rajudin, salah satu pemilik tambak, mengungkapkan betapa besar dampak pengurukan tersebut terhadap usahanya.

“Total kerugian kalau dua kali panen Rp100 juta,” keluhnya.

Ia menegaskan bahwa sungai adalah fasilitas publik yang tidak boleh diprivatisasi, dan pengurukan ini telah merugikan banyak warga.

Aksi unjuk rasa ini mencerminkan harapan masyarakat untuk mendengarkan suara mereka dan mengatasi masalah yang dihadapi akibat proyek pembangunan yang dianggap merugikan.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mengatasi permasalahan ini dengan bijaksana demi kesejahteraan masyarakat. (Red/Dwi)

Share :

Baca Juga

Daerah

Banten Darurat Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan, Tertinggi di Kota Tangsel

Daerah

Dinkes Banten Tingkatkan Sinergi Bersama Organisasi Profesi Dalam Inovasi Poster Cetting

Daerah

Awal Tahun 2024, Ini Dua Kecamatan Paling Banyak Kasus Stunting di Kota Serang

Daerah

UMK 2024 di Provinsi Banten Telah Ditetapkan, Kota Cilegon Paling Tertinggi

Daerah

A Damenta Lepas Perwakilan PWI Provinsi Banten Hadiri HPN 2025 di Banjarmasin

Daerah

Persagi Banten Ajak Masyarakat Sadar Gizi Untuk Upaya Mencegah Stunting dan Obesitas

Daerah

Ini Penjelasan Pj Gubernur Banten A Damenta Terkait Seleksi PPPK Provinsi Banten

Daerah

Warga RW 06 Safira Kota serang Gelar Tasyakuran Usai Bangun Jalan Beton Hasil Swadaya