Home / Daerah

Jumat, 20 Juni 2025 - 17:00 WIB

Musim Tanam Kedua, Serangan Penyakit Kresek Ancam Puluhan Hektare Sawah di Kabupaten Serang

Salah satu petani di Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Rasyid (58) saat diwawancarai wartawan l Dok. Dwi MY-BNC

Salah satu petani di Desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, Rasyid (58) saat diwawancarai wartawan l Dok. Dwi MY-BNC

BagusNews.Co – Memasuki musim tanam padi kedua di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, sejumlah petani menghadapi tantangan serius akibat serangan penyakit kresek yang menyerang tanaman padi berumur sekitar 20 hari.

Penyakit ini, yang secara ilmiah dikenal sebagai hawar daun bakteri, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas Oryzae dan dapat menyerang padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari bibit hingga tanaman dewasa.

Pantauan di lapangan menunjukkan adanya perubahan warna secara signifikan pada daun padi yang seharusnya masih hijau segar. Puluhan hektare lahan sawah di daerah tersebut tampak menguning di bagian ujung daun, memperlihatkan gejala awal serangan.

Wilayah yang paling parah terkena adalah di desa Kadikaran, Kecamatan Ciruas, di mana kondisi tanaman kini hampir menyerupai pemandangan menjelang panen, padahal usia tanaman masih sekitar 20 hari.

Baca Juga :  Zakiyah Tekankan Pentingnya Sinergi dalam Penyusunan RPJMD 2025-2029

Salah satu petani setempat, Rasyid (58), mengungkapkan kekhawatirannya. “Awalnya ujung daun padi akhir pekan lalu tampak subur menghijau, sekarang sudah berubah warna menjadi kuning,” ujarnya saat diwawancarai wartawan, Jumat, 20 Juni 2025.

Ia menambahkan bahwa petani telah melakukan berbagai upaya seperti penyemprotan dengan berbagai jenis pestisida dan saprodi, namun tanda-tanda tanaman kembali subur belum terlihat.

“Saya khawatir kalau serangan terus berlanjut dan tidak teratasi, hasil panen akan menurun drastis. Ini berpotensi mengancam ketersediaan beras di daerah ini, yang selama ini bergantung pada hasil panen dari sawah,” ujarnya.

Baca Juga :  ‎Panen Jagung di Bantarpanjang Tigaraksa, 99 Persen Tanaman Tumbuh tapi Belum Pasti Berbuah

Ia menegaskan bahwa persoalan ini menjadi tantangan besar, terutama saat memasuki musim tanam kedua yang biasanya mengandalkan hasil dari panen sebelumnya untuk modal dan keberlanjutan kehidupan petani.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha tani dan ketahanan pangan lokal. Pemerintah daerah dan dinas terkait di Kabupaten Serang diharapkan dapat segera melakukan langkah-langkah strategis untuk memitigasi penyebaran penyakit ini agar tidak semakin meluas dan merugikan petani serta masyarakat luas.

“Lebih sulit lagi menghadapi musim tanam kedua yang biasanya bermodal dari hasil panen kali ini. Ini persoalan serius kelangsungan dan keberlanjutan pendapatan petani,” pungkasnya. (Red/Dwi)

Share :

Baca Juga

Daerah

Kejar Predikat UHC Prioritas, Kota Serang Butuh 7 Persen Lagi Peserta PBI BPJS Kesehatan

Daerah

Jelang Pemilu 2024, Al Muktabar Ajak Masyarakat Banten Pererat Silaturahmi

Daerah

BKPSDM Serang: Proses Open Bidding Eselon II Tak Bisa Ditunda, Ini Alasannya!

Daerah

Polres Cilegon Bangun 16 Jembatan Merah Putih Presisi untuk Warga

Daerah

BPOM Temukan Penggunaan Bahan Berbahaya pada Sejumlah Produk Pangan di Pasar Serpong

Daerah

Menteri Yandri Susanto Perintahkan Pengadaan Paving Block FABA dari Dana Desa 2026

Daerah

Pemprov Banten Siapkan Rangkaian HUT Ke-23 Provinsi Banten

Daerah

Sebelum Tertibkan 6,3 Ribu APK dan BK, Bawaslu Kabupaten Serang Telah Kirimkan Surat Imbuan Kepada Parpol