BagusNews.Co – Di berbagai daerah termasuk Kota Tangerang, campak masih menjadi perhatian menyusul lonjakan kasus pada awal 2026. Oleh karenanya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mengimbau anak-anak yang mengalami gejala campak untuk tidak berangkat ke sekolah.
Kepala Dinkes Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni mengimbau, masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengenali siklus penyakit ini sejak awal infeksi hingga masa pemulihan. Pengetahuan yang baik tentang tahapan penyakit campak diharapkan dapat mempercepat penanganan dan mencegah penularan yang lebih luas.
Menurut Dini, siklus campak terdiri dari beberapa fase yang memiliki ciri khas masing-masing. Untuk itu, masyarakat perlu memahami setiap tahap agar dapat mengenali gejala sejak dini dan melakukan langkah pencegahan secara tepat.
“Hal ini, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan penularan dapat dicegah,” katanya dalam rilis yang diterima BagusNews.Co, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, fase pertama adalah fase awal, yaitu ketika virus masuk ke dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala.
“Penularan campak tidak hanya terjadi melalui kontak langsung, tetapi juga lewat udara dari percikan batuk dan bersin,” kata Dini.
Pada hari ke-0 hingga ke-10, virus masuk melalui percikan droplet dari batuk atau bersin penderita dan menempel pada saluran pernapasan.
Virus tersebut kemudian berkembang biak dan menyebar melalui aliran darah ke organ-organ vital seperti kelenjar getah bening, limpa, dan sumsum tulang. Pada tahap ini, biasanya tidak ada gejala yang muncul, padahal virus sudah mulai berkembang dalam tubuh. Masa inkubasi campak umumnya berlangsung sekitar 10 sampai 14 hari, bahkan bisa mencapai 21 hari.
Memasuki fase kedua, yaitu fase prodromal, gejala awal mulai muncul antara hari ke-10 hingga ke-14. Pada tahap ini, penderita biasanya mengalami demam tinggi yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, disertai batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Tiga gejala ini dikenal sebagai “3C”: cough, coryza, dan conjunctivitis. Selain itu, muncul bercak putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spots, yang menjadi tanda khas penyakit campak dan seringkali menjadi indikator awal yang penting.
Selanjutnya, pada fase ketiga yaitu fase ruam, gejala memuncak sekitar hari ke-14 hingga ke-18. Ruam merah mulai muncul di belakang telinga dan garis rambut, kemudian menyebar ke seluruh wajah, leher, tubuh, dan kaki. Pada fase ini, kondisi penderita biasanya sangat lemas dan demam dapat kembali meningkat.
Pada kasus tertentu, terutama anak dengan daya tahan tubuh lemah atau kekurangan vitamin A, campak bisa menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, bahkan radang otak atau ensefalitis.
Setelah fase ruam, tubuh mulai melakukan proses pemulihan. Pada fase keempat, yakni hari ke-18 dan seterusnya, warna ruam biasanya berubah menjadi kecokelatan dan secara bertahap memudar. Kulit juga mengalami pengelupasan ringan sebagai tanda bahwa tubuh sedang memerangi virus. Dalam proses ini, tubuh membentuk antibodi yang akan membantu melawan virus, sehingga penderita secara perlahan pulih dalam beberapa minggu.
Di Kota Tangerang, kata Dini, sejak akhir 2025 hingga awal 2026 kasus campak mengalami tren peningkatan dan masih bersifat fluktuatif setiap minggunya. Jumlah kasus mencapai ratusan setiap bulan.
“Kondisi ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan sektor kesehatan,” ungkapnya.
Dalam upaya mencegah penyebaran penyakit campak, masyarakat Kota Tangerang diimbau untuk melakukan vaksinasi MMR dan menjaga daya tahan tubuh. Meskipun sebagian besar kasus dapat sembuh dengan sendirinya, langkah pencegahan sangat penting agar tidak terjadi wabah yang meluas.
“Selain itu masyarakat diminta melakukan isolasi mandiri apabila terdapat anggota keluarga yang terindikasi campak,” ujarnya. (Red/Munjul)







