BagusNews.Co – Presiden RI Prabowo Subianto bersama Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dijadwalkan bertolak ke Nganjuk, Jawa Timur, setelah puncak perayaan Hari Buruh Internasional di Monas pada 1 Mei 2026 mendatang. Di Nganjuk, rencananya Presiden akan memimpin peresmian Museum Ibu Marsinah sebagai bentuk penghormatan negara terhadap sejarah perjuangan buruh Indonesia.
Demikian hal itu disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, usai menggelar halalbihalal bersama keluarga besar buruh di PT KMK Global Sports, Cikupa, Kabupaten Tangerang Selasa, 14 April 2026.
Andi mengatakan, peresmian museum ini dinilai sebagai peristiwa bersejarah bagi gerakan buruh nasional. Marsinah, buruh pabrik yang menjadi martir perjuangan hak pekerja pada era 1990-an, kini mendapatkan pengakuan resmi melalui sebuah monumen sejarah yang dihadiri langsung oleh pucuk pimpinan tertinggi negara dan kepolisian.
Andi menegaskan, agenda di Nganjuk merupakan bagian dari rangkaian peringatan May Day tahun ini. Menurutnya, peresmian museum ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kuat, pemerintah kini lebih terbuka dalam merangkul sejarah dan aspirasi kaum pekerja.
“Setelah agenda di Monas, kami bersama Bapak Presiden, Bapak Kapolri, dan sekitar 115 pimpinan konfederasi serta federasi buruh dari seluruh Indonesia akan bertolak ke Nganjuk, Jawa Timur. Agendanya adalah peresmian Museum Ibu Marsinah,” jelas Andi Gani.
Kehadiran 115 pimpinan organisasi buruh dalam rombongan kepresidenan ini menunjukkan soliditas yang mulai terbangun antara elemen pekerja dan pemerintah. Langkah ini diharapkan mampu meredam ketegangan industrial dan menggantinya dengan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang dahulu diperjuangkan oleh Marsinah.
Pada kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat KSPSI, memandang peringatan May Day dan peresmian museum ini sebagai momentum untuk menjaga stabilitas nasional. Di tengah krisis ekonomi global yang dipicu konflik Timur Tengah, Kapolri menekankan, keharmonisan buruh dan pengusaha adalah harga mati bagi pertumbuhan investasi.
“Kita sepakat, situasi krisis global akibat konflik di Timur Tengah berdampak pada ekonomi dalam negeri. Indonesia harus mampu menghadapi situasi ini dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif,” ujar Listyo.
Terkait upaya perbaikan regulasi, Listyo juga memberikan ruang terbuka bagi buruh untuk terlibat dalam penyempurnaan aturan hukum ketenagakerjaan secara bermartabat.
“Kami mengajak rekan-rekan buruh dan pengusaha untuk duduk bersama dalam menyusun serta merevisi UU Cipta Kerja ke depan agar tercapai kesepakatan bersama yang kemudian dapat dinormalkan dalam revisi undang-undang tersebut,” tambahnya. (Red/Dwi)







