Home / Daerah

Senin, 20 April 2026 - 19:13 WIB

Harga LPG Non-Subsidi di Tangsel Naik Drastis, Penjualan Diprediksi Menurun

Kenaikan harga LPG non-subsidi di sejumlah pangkalan gas di Tangsel l Dok. Dwi MY-BNC

Kenaikan harga LPG non-subsidi di sejumlah pangkalan gas di Tangsel l Dok. Dwi MY-BNC

BagusNews.Co – Sejumlah pemilik pangkalan gas di Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), mulai merasakan dampak signifikan dari kenaikan harga LPG non-subsidi ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram pada Senin, 20 April 2026, meski ketersediaan pasokan di tingkat pengecer dipastikan masih dalam kondisi aman.

Kenaikan harga yang mendadak ini menjadi sorotan para pelaku usaha pangkalan di wilayah tersebut. Bobi Hartanto, salah satu pemilik pangkalan LPG di Ciater, mengungkapkan lonjakan harga terjadi pada dua jenis tabung non-subsidi utama. Untuk tabung ukuran 12 kilogram, harga melonjak sebesar Rp40.000, dari harga semula Rp215.000 menjadi Rp255.000 per tabung. Sementara itu, untuk tabung ukuran 5,5 kilogram, terdapat kenaikan sebesar Rp20.000, yang mengubah harga jual dari Rp120.000 menjadi Rp140.000.

Meskipun nominal kenaikan tergolong tinggi, Bobi memastikan bahwa distribusi dari agen ke pangkalannya tetap berjalan lancar tanpa adanya hambatan pasokan.

“Untuk stok di pangkalan saat ini masih aman, tidak ada kendala. Hanya saja memang harga yang naik cukup tinggi,” ujar Bobi kepada wartawan di pangkalannya, Senin, 20 April 2026.

Dinamika harga baru ini memicu reaksi yang beragam dari masyarakat selaku konsumen akhir. Menurut pengamatan Bobi, para pelanggan setianya memberikan respons yang bervariasi; ada yang merasa terkejut dengan selisih harga yang mencapai puluhan ribu rupiah, namun ada pula yang tetap membeli tanpa banyak bertanya karena sudah menganggapnya sebagai kebutuhan pokok.

Baca Juga :  Walikota Serang Tutup Tambang Ilegal di Umbul Tengah Taktakan

“Kalau dari pelanggan, ada yang kaget, ada juga yang biasa saja,” katanya.

Hingga saat ini, fenomena kenaikan harga tersebut belum memicu migrasi besar-besaran dari pengguna LPG non-subsidi ke LPG subsidi 3 kilogram atau yang sering disebut “tabung melon”. Namun, Bobi memprediksi daya beli masyarakat akan sedikit terkoreksi dan berdampak pada volume penjualan hariannya dalam beberapa waktu ke depan.

“Untuk sementara ini (pelanggan) belum ada yang beralih dari non-subsidi ke tabung melon, tapi kemungkinan penjualan akan agak menurun,” ujarnya.

Bobi mengaku tidak terlalu merisaukan masalah ketersediaan barang. Fokus utamanya justru tertuju pada besaran kenaikan harga yang dirasa cukup membebani masyarakat dalam waktu yang singkat. Ia mempertanyakan alasan di balik lonjakan yang cukup signifikan tersebut.

“Kalau soal stok kita tidak khawatir, cuma memang pertanyaannya kenapa naiknya cukup tinggi,” ungkapnya.

Sebagai pengusaha kecil di sektor energi, ia berharap stabilitas ekonomi nasional dapat segera membaik. Harapannya, daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga kebutuhan energi rumah tangga tidak terganggu oleh fluktuasi harga.

Baca Juga :  Keluarga Almarhumah Terima Santunan dan Perbaikan Rumah Rp10 Juta dari Pemkot Serang

“Mudah-mudahan ekonomi kita lebih baik lagi ke depannya, supaya kebutuhan masyarakat tetap bisa terpenuhi,” tuturnya.

Kondisi serupa terpantau di pangkalan LPG lain di kawasan Kelurahan Ciater. Rendi, seorang penjaga pangkalan, memberikan perincian data stok yang masih tersedia di tempatnya bekerja. Ia menegaskan ketersediaan gas dalam berbagai ukuran masih sangat mencukupi untuk melayani permintaan warga sekitar.

Berdasarkan data stok harian, pangkalan tempat Rendi bekerja masih menyimpan 18 tabung LPG ukuran 12 kilogram dan 4 tabung ukuran 5,5 kilogram. Sementara itu, untuk stok LPG subsidi 3 kilogram, jumlahnya masih aman yakni mencapai 180 tabung.

“Stok masih aman. Hari ini juga masih ada pembeli yang beli LPG non-subsidi, ada sekitar enam orang tadi,” ujar Rendi.

Meski mengetahui kondisi stok di pangkalannya, Rendi mengaku tidak memiliki informasi mendalam mengenai ketahanan stok di tingkat agen besar, mengingat hal tersebut merupakan ranah manajemen pemilik usaha atau bos pangkalan.

“Kalau untuk stok keseluruhan di agen, itu yang lebih tahu bos,” kat Rendi.

Hingga berita ini diturunkan, aktivitas transaksi di sejumlah pangkalan di Serpong masih terpantau normal meski masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan bahan bakar non-subsidi. (Red/Dwi)

Share :

Baca Juga

Daerah

Fasilitasi Perekaman KTP-el Pemilih Pemula, Disdukcapil Kabupaten Serang Buka Layanan Busami

Daerah

Terus Berkolaborasi dengan Mitra Kerja, Direktur Distribusi PLN Sambangi PT Smart Meter Indonesia

Daerah

Resmikan Gedung 8 Lantai RSUD Banten, Wahidin Halim: Jangan Membiarkan Masyarakat Sakit

Daerah

Rawan Banjir Akibat Sampah, Yedi Rahmat Minta Camat Se-Kota Serang Turun Tangan

Daerah

Bawaslu Kabupaten Serang Limpahkan ke Polisi Terkait Dugaan Kasus Politik Uang di PSU

Daerah

Air Bersih dari Relawan Ganjar untuk Semua Bantu 3 Ribu Keluarga di Kabupaten Serang Hadapi Krisis Air

Daerah

DPMD Banten Gelar Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) 2023 di Kampus ITI

Daerah

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Jadi Program Prioritas TP PKK Banten Tahun 2026