BagusNews.Co — Prevalensi stunting di Kabupaten Serang menunjukkan tren penurunan yang signifikan dari 2018 hingga 2024. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), angka stunting di Kabupaten Serang mengalami penurunan dari 26 persen pada tahun 2023 menjadi 23 persen di tahun 2024.
Demikian terungkap dalam publikasi data stunting ini diselenggarakan oleh Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Serang di salah satu hotel di Kota Serang pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Usai membuka kegiatan tersebut, Staf Ahli Bupati Bidang SDM dan Kesra Rachmat Setiadi menyatakan, publikasi data ini penting mengingat Kabupaten Serang menduduki peringkat ketiga di Provinsi Banten dalam hal penurunan angka stunting.
“Alhamdulillah sangat bagus sekali dari angka 26 persen ke 23 persen urutan angka stunting menurut e-PPGBM,” ungkap Rachmat.
Rachmat memastikan, jika saat ini rencana sudah disepakati untuk tahun yang akan datang stunting di Kabupaten Serang di angka 14 persen sesuai target nasional meskipun sangat berat untuk Kabupaten Serang.
“Namun, atas dorongan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah yang sangat konsekuen untuk dapat menurunkan angka stunting di angka 14 persen,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rachmat menambahkan, penurunan angka stunting tidak hanya penting untuk kesehatan anak, tetapi juga berdampak positif pada intelektualitas dan kecerdasan masyarakat.
Kepala Bidang Keluarga Berencana DKBP3A Kabupaten Serang Entin Suhartini menambahkan, pihaknya terus mengumpulkan data melalui pengukuran dan penimbangan badan sejak Agustus hingga November 2024.
“Kita aka terus mencari data anak stunting dengan cara pengukuran dan penimbangan badan,” ujarnya.
Sementara itu, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda, Agus Khomeini menjelaskan, untuk pengukuran data stunting, pihaknya menggunakan dua metode: e-PPGBM dan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGI/SKI).
Berdasarkan data yang dimiliki, kata Agus, prevalensi balita stunting di Kabupaten Serang mengalami penurunan yang signifikan dari 24,09 persen pada 2018 hingga hanya 3,35 persen pada 2024. Namun, data dari SSGI/SKI untuk tahun 2024 masih menunggu dari pemerintah pusat.
“Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia dan Survei Kesehatan Indonesia (SSGI/SKI), prevalensi stunting di Kabupaten Serang mengalami penurunan sejak 2019 sebesar 39,43 persen. Lalu pada 2021 turun menjadi 27,2 persen, 2022 turun 26,4 persen dan 2023 turun menjadi 23,9 persen,” ungkapnya.
Agus juga menekankan peran DKBP3A dalam memberikan pelayanan kepada keluarga berisiko stunting dan mengimplementasikan program-program seperti Dapur Sehat untuk mencegah stunting.
“Ada juga TPK atau Tim Pendamping Keluarga yang fungsinya adalah memastikan calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas dan baduta balita mendapatkan pelayanan sehingga mencegah terjadinya kasus stunting baru,” katanya.
Dengan langkah-langkah proaktif ini, Pemerintah Kabupaten Serang dinilai berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan generasi mendatang dan mengurangi prevalensi stunting di wilayahnya.
“Ada juga TPK atau Tim Pendamping Keluarga yang fungsinya adalah memastikan calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas dan baduta balita mendapatkan pelayanan sehingga mencegah terjadinya kasus stunting baru,” pungkasnya. (Red/Dwi)







