Oleh: Abah Elang Mangkubumi
Di zaman yang penuh pekerjaan rumah
Ketika harga hidup menanjak lebih cepat dari harapan
Ketika kerja menjadi doa yang tak selalu terkabul
Ketika hukum terasa jauh dari rasa adil
Kekuasaan justru sibuk merapikan satu ironi:
Mengatasnamakan rakyat, sambil menyingkirkan haknya.
Rakyat disebut dalam pidato
Diulang dalam slogan, dipajang dalam baliho
Namun ketika tiba pada inti kedaulatan
Hak memilih pemimpin; Rakyat diminta menepi
Memberi jalan bagi kesepakatan segelintir
Gagasan eksekutif dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat
Dibungkus kata stabilitas dan efisiensi
Padahal ia adalah pengerdilan yang rapi
Seolah rakyat terlalu gaduh untuk dipercaya
Terlalu sederhana untuk menentukan arah
Hingga harus ‘diwakili’ sepenuhnya
Tanpa hak mengoreksi
Pemilihan langsung bukan sekadar prosedur
Ia adalah pengakuan martabat
Ia lahir dari luka sejarah yang mahal
Mengembalikannya ke ruang tertutup
Adalah mengulang masa silam
Dengan bahasa yang lebih halus;
Namun niat yang sama
Negeri ini memiliki terlalu banyak tantangan
Untuk dipimpin oleh kekuasaan
Yang lahir tanpa mandat jujur
Krisis menuntut legitimasi yang kuat
Dan legitimasi hanya lahir dari kepercayaan rakyat;
Bukan dari lobi dan kalkulasi
Rakyat disebut, tapi ditinggalkan
Dan di situlah bahaya kekuasaan bermula
Sejarah dunia telah memberi pelajaran yang kejam
Lihat Venezuela,
Ketika pemilu kehilangan makna dan kepercayaan
Negara runtuh perlahan, ekonomi hancur;
Rakyat pergi, kekuasaan tinggal simbol
Lihat juga Mesir pasca Arab Spring
Stabilitas dipaksakan, demokrasi disempitkan
Tenang di permukaan,namun rapuh di dasar
Tak pernah benar-benar selesai dengan rakyatnya sendiri
Kemudian lihat Myanmar
Ketika suara rakyat dibatalkan oleh kekuatan
Negara langsung tenggelam dalam perang dan kehancuran
Hak yang dirampas hari ini;
Menjadi konflik panjang esok hari
Dan kita Lihat Sri Lanka
Ketika legitimasi menguap
Istana pun tak lagi sakral
Kekuasaan tumbang bukan oleh senjata
Melainkan oleh kelelahan rakyat
Tak ada satu pun dari negara itu
Jatuh karena rakyat terlalu bebas
Mereka runtuh, karena kekuasaan terlalu takut
Pada suara warganya sendiri
Maka ini bukan ancaman gaduh,
Melainkan peringatan dini:
Kekuasaan yang menjauh dari rakyat
Akan kehilangan pijakan.
Legitimasi yang dipaksakan, akan runtuh oleh waktu.
Rakyat mungkin bersabar, tetapi mereka tidak lupa
Dan ketika suara yang sah terus dikecilkan
Diam rakyat bukan tanda tunduk
Melainkan jeda panjang sebelum menentukan
Arah baru bagi negeri ini.
Banten, 10 Januari 2026
*Penulis adalah tokoh masyarakat Banten, tinggal di Kabupaten Serang







