Meja Redaktur vs AI, Menjaga Ruh Menulis di Era Digital
Oleh: Agus Iryana
Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa selain menyimak, berbicara, dan membaca.
Menulis tidak dapat dilakukan seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus melalui proses. Dari empat keterampilan berbahasa, menulis termasuk keterampilan yang kompleks karena harus memperhatikan keselarasan ide di tiap paragraf dan ketepatan berbahasa.
Menurut Dalman (2012: 5), menulis dalam prosesnya akan menggunakan kedua belahan otak. Menulis adalah sebuah proses mengaitkan kata, kalimat, paragraph, maupun antara bab secara logis agar dapat dipahami.
Proses ini mendorong seorang penulis harus berpikir secara sistematis dan logis sekaligus kreatif.
Sedangkan Hasani (2013: 5) berpendapat bahwa kemampuan menulis adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam mengungkapkan perasaan yang berkenaan dengan pokok masalah secara jelas, lugas, dan tuntas dengan menggunakan bahasa tulis.
Kemampuan menulis bukanlah keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Kemampuan menulis merupakan hasil belajar dengan cara berlatih menulis. Untuk mencapai kemampuan ini, seseorang harus memahami benar tentang menulis.
Apa yang disampaikan kedua ahli di atas tentang menulis ada benarnya juga. Menulis merupakan sebuah proses dan hasil belajar menulis.
Saat penulis kuliah medio 2000-an, mahasiswa yang namanya kerap terpampang di media cetak merupakan mahasiswa yang mengikuti komunitas menulis.
Ada yang aktif di Komunitas Kubah Budaya, Forum Lingkar Pena, Rumah Dunia, dan komunitas lain.
Ketika itu, mendapatkan byline (nama penulis) di koran cetak terasa seperti kelulusan ujian kualifikasi. Tulisan kami saat itu harus melewati “pintu gerbang” berupa meja redaktur yang ketat.
Kriteria seleksinya jelas: keaktualan isu, ketajaman analisis, kerapian bahasa, dan kepatuhan pada keterbatasan ruang halaman cetak.
Era Media Cetak
Ya, ruang untuk unjuk gigi cukup kompetitif karena bergantung pada media cetak lokal (seperti Radar Banten, Kabar Banten, Banten Pos). Pintu masuk tulisan dipegang penuh oleh redaktur media.
Saat itu, banyak mahasiswa berlomba mengirim tulisan berupa artikel, puisi, dan cerpen ke media masa lokal seperi Radar Banten dan Kabar Banten. Ketika itu, media lokal terbit hingga Minggu.
Di hari Minggu biasanya memuat karya sastra berupa cerpen dan puisi. Tentu saja, saban Minggu kami menyempatkan beli koran, sekadar mengecek tulisan yang dikirim dipublikasikan atau tidak.
Era Kecerdasan Buatan
Saat ini, setiap orang bisa menerbitkan tulisannya sendiri secara instan tanpa kurator (self-publishing). Tantangannya bukan lagi “bagaimana bisa terbit”, melainkan “bagaimana tulisan kita dibaca dan tidak tenggelam di tengah samudra informasi”.
Tanpa adanya redaktur yang menyeleksi, disiplin dan kontrol kualitas tulisan kini sepenuhnya berada di tangan penulis itu sendiri.
Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan terbesar para akademisi dan mahasiswa saat ini bukanlah kekurangan referensi, melainkan bagaimana mengemas ide dan riset ilmiah agar berdaya guna bagi masyarakat luas.
Menulis tidak lagi sekadar urusan menuangkan gagasan ke atas kertas, melainkan sebuah keterampilan mengelola spektrum bahasa dan objektivitas.
Kemudahan era digital ini kian terakselerasi dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI). Saat ini, mahasiswa tidak lagi dihadapkan pada rasa takut akan kertas kosong atau kerumitan berburu referensi fisik.
Kecerdasan buatan mampu menyusun draf, merapikan tata bahasa, hingga merangkum gagasan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini membawa tantangan baru yang tidak kalah krusial: pergeseran dari krisis referensi menjadi krisis kedalaman berpikir (critical thinking).
Ketika teks dapat diproduksi secara instan oleh mesin, nilai sebuah tulisan tidak lagi terletak pada sekadar kemampuan menyusun kata secara rapi.
Nilai tertinggi bergeser pada keautentikan rasa, ketajaman analisis, dan keberanian gagasan yang melatarbelakanginya.
Kecerdasan buatan mungkin bisa meniru struktur argumentasi, tetapi ia tidak memiliki “suara pribadi’, empati, serta pemahaman atas konteks sosial-budaya tempat tulisan itu berakar.
Tanpa daya kritis dan kesadaran metodologis, tulisan yang dihasilkan berisiko menjadi dingin, seragam, dan sekadar menjadi sampah informasi baru di ruang siber.
Reorientasi
Di sinilah letak urgensi reorientasi pengajaran Keterampilan Menulis di perguruan tinggi. Tugas saya sebagai pengajar bukan lagi sekadar melatih mahasiswa menyusun kalimat yang komunikatif atau menghafal aturan EYD dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), melainkan membentuk mentalitas kurator dan pemikir tangguh.
Mahasiswa perlu dilatih untuk menguasai spektrum menulis secara utuh: dari ketatnya standar ilmiah murni hingga keluwesan tulisan ilmiah populer yang mampu menyapa masyarakat luas.
Pada akhirnya, di era ketika siapa saja bisa terbit dan mesin bisa menulis, ruh dari sebuah tulisan tetaplah manusia itu sendiri. Disiplin diri, ketajaman nalar, dan integritas yang dulu ditempa oleh ketatnya meja redaktur koran, kini harus ditanamkan sebagai kesadaran mandiri.
Menulis tetaplah sebuah proses panjang; sebuah ikhtiar mengasah budi dan nalar, agar gagasan yang disebarkan tidak hanya meramaikan ruang publik, tetapi juga benar-benar memberi dampak dan kecerahan bagi peradaban. Wallahu a’lam bishawab!
Kota Serang, 7 September 2026
*) Penulis adalah Dosen Keterampilan Menulis, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta






