Home / Daerah / Nasional

Sabtu, 1 Juli 2023 - 12:56 WIB

Isi Waktu Libur ke Museum Multatuli, Adian Napitupulu: Sejarawan Bonnie Triyana Harus Teruskan Semangat Multatuli

BagusNews.Co – Anggota DPR RI Adian Napitupulu berkunjung ke Museum Multatuli sebagai bentuk refleksi atas perjuangan masyarakat Lebak dalam melawan kolonial.

Anggota Komisi VII DPR RI tersebut menilai Lebak beruntung memiliki sosok sejarawan seperti Bonnie Triyana yang rela berbagi ilmu dengan membangun oase peradaban lewat Museum Multatuli.

Menurutnya, cerita perjuangan dalam melawan kolonial perlu ditularkan kepada generasi muda. Mengingat, Lebak dapat merubah pikiran dunia dengan kritikan Douwes Dekker melalui karyanya yang terkenal, Max Havelaar.

“Kalau rakyat Banten seperti yang diceritakan Bonnie, mereka harus bangga menjadi orang yang lahir dari Lebak. Lebak ternyata pernah merubah pikiran dunia. Bukan jalan tanah jadi aspal, tapi cara berpikir. Ini baru yang gua dapatkan tadi (di Museum Multatuli),” katanya, Sabtu (1/7/2023).

Ia menerangkan, Douwes Dekker yang memiliki nama pena Multatuli memiliki pemikiran terbuka dengan menyadari kemewahan kolonial hasil dari rampasan masyarakat miskin di Lebak.

“Apa yang kita pelajari dari Mulatulili? Dia orang Belanda, hadir di sini (Lebak), matanya terbuka. Kemewahan di Belanda berasal dari kemiskinan di Lebak, sehingga pemikirannya terbuka dan melawan,” terangnya.

Baca Juga :  Calon Dokter Untirta dan UI Bisa Koas di RSUD Banten, Al Muktabar Resmikan Teaching Hospital

Cerita yang utuh dalam Museum Multatuli, kata Adian, harus diperjuangkan semangatnya demi memajukan Bangsa Indonesia. Sebab, koloniliasme bisa muncul dengan istilah baru dengan keburukan yang sama seperti tempo dulu.

Namun, mempelajari kolonialisme tidak dimaknai ekspesi dendam, tapi mencegah keberulangan peristiwa silam yang tidak baik.

Dengan menceritakan berulang seperti yang dijelaskan Bonnie Triyana, sambung Adian, merupakan salah satu bentuk untuk mencegah penindasan serupa.

“Orang yang mau memperjuangkan, merawat, mengurus dan membagikan cerita semacam ini adalah orang langka. Tidak banyak orang yang mau menginisiasi museum, mengumpulkan barang yang sudah dibawa ke Belanda, lalu dibawa lagi,” ungkapnya.

“Sejarah tidak sederhana, setiap keping peristiwa berharga. Salah satu orang Banten terbaik ada di sini, di samping saya, ya Bonnie ini,” tambahnya.

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia butuh politisi muda yang tidak menampilkan banyak gaya dengan pakaian yang mahal. Tapi Indonesia membutuhkan sosok politisi muda yang memiliki pemikiran dan kepedulian terhadap rakyat serta kemajuan daerah.

“Gua di sini untuk Bonnie. Kita butuh politisi muda yang tidak gaya-gayaan. Nilainya tidak hilang meski tidak pakai jam mahal, gelang mahal, sabuk mahal. Kehormatan kita tidak hilang, kehormatan kita dari keberpihakan kita,” paparnya.

Baca Juga :  Dimyati Natakusumah: Gebrag Ngadu Bedug Momentum Lestarikan Budaya Keislaman

Ia menyebutkan, perlu sosok yang mengerti sejarah dalam tubuh lembaga wakil rakyat untuk melihat Indonesia Lebih baik 25 tahun ke depan.

“Yang dipilih bukan hanya namanya, tapi perilakunya. Kenapa kita harus mendukung caleg muda? Karena dia (Bonnie) mengerti sejarah, karena kita ingin melihat Indonesia 25 tahun ke depan menjadi lebih baik,” ucapnya.

Di tempat yang sama, sejarawan Indonesia Bonnie Triyana memaparkan, Museum Multatuli digagas atas dasar kemanusiaan yang antikekerasan dan antipenindasan.

“Museum membawa gagasan kemanusiaan anti kekerasan, anti penindasan,” paparnya saat menerangkan konsep Museum Multatuli.

Bonnie Triyana yang maju sebagai calon anggota DPR RI Dapil Banten 1 menerangkan, sosok Saidjah-Adinda merepresentasikan perjuangan masyarakat dalam melawan kolonial.

“Saidjah-Adinda berasal dari kampung yang tertindas, merantau, dan melawan kolonial, hingga akhirnya meninggal,” ungkapnya.

Sehingga, pihaknya berharap semangat dan perjuangan dari tokoh-tokoh di dalam Museum Multatuli yang harus diabadikan dalam bingkai keberpihakan terhadap rakyat.

‘Semangat ini yang kita abadikan dan disematkan menjadi nama museum,” tutupnya.(Red/Dede)

Share :

Baca Juga

Daerah

Tidak Ikut Upacara Hari Lahir Pancasila, 9 Lurah di Kota Serang Diberikan Sanksi Ringan

Daerah

Andra Soni Soroti Ketahanan Pangan, Provinsi Banten Tembus Delapan Besar Lumbung Beras Nasional

Daerah

Wakili Banten, Cisauk Masuk 5 Besar Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Nasional 2023

Daerah

Gratis! Disbudpar Kota Tangerang Gelar Pelatihan Perhotelan Bersertifikat BNSP

Daerah

Bupati Serang: Terima Kasih untuk Dedikasi Para Guru

Daerah

Debat Pamungkas Pilkada Kabupaten Serang, KPU: Beda Pilihan Dinamika Demokrasi

Daerah

Dirut PLN Sampaikan Perkembangan Hydropower di Indonesia Kepada Presiden Jokowi

Daerah

Syafrudin Perintahkan ASN Pemkot Serang Belanja di Pasar Tradisional