BagusNews.Co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang berkomitmen mempercepat akses keuangan di daerah sebagai fondasi penting untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Program ini difokuskan pada perluasan layanan perbankan hingga ke desa, penguatan UMKM, serta peningkatan literasi keuangan khususnya di kalangan pelajar.
Penjabat Sekretaris Daerah Pandeglang, Asep Rahmat, menyatakan bahwa Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) diharapkan mampu mengatasi tantangan inklusi keuangan, terutama kemudahan akses bagi masyarakat pedesaan.
“Kami ingin UMKM dan masyarakat desa mendapatkan layanan produk keuangan yang mudah dijangkau, mulai dari edukasi satu rekening satu pelajar hingga kemudahan pembayaran bagi pelaku usaha,” ujarnya, pada Rabu, 1 Oktober 2025.
Menurutnya, TPAKD tidak hanya memperluas layanan perbankan, tetapi juga mengedepankan peningkatan literasi keuangan. Edukasi dimulai sejak dini melalui program satu rekening satu pelajar, diikuti dengan skema pembayaran yang lebih sederhana bagi UMKM, serta pengembangan desa wisata sebagai upaya mendukung sektor lokal.
Meski begitu, Asep mengakui masih terdapat kendala terutama terkait data perekonomian yang belum terhimpun secara lengkap dari perangkat daerah. Kondisi ini menjadi hambatan dalam perencanaan dan pelaporan program.
“Data perekonomian sangat penting, bukan hanya untuk pelaporan ke DDAKD, tapi juga sebagai dasar perencanaan. Tanpa data yang kuat, pelaksanaan program bisa terhambat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Pandeglang, Erik Widhaswara, menambahkan, sektor investasi dan pelayanan publik memerlukan dukungan administrasi yang akurat agar program percepatan akses keuangan berjalan optimal.
Selain masalah data, keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan, terutama di wilayah pelosok yang belum memiliki layanan keuangan. Beberapa kecamatan di Pandeglang minim akses kantor perbankan maupun layanan digital, sehingga masyarakat masih mengandalkan jalur informal yang berisiko tinggi.
“Kami terus berupaya memperbaiki kualitas layanan, tapi ketersediaan data tetap menjadi tantangan besar. Hal ini berpengaruh pada percepatan investasi yang sebenarnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Meski menghadapi berbagai rintangan, ia optimis program TPAKD mampu memberikan dampak positif. Dengan kolaborasi bersama OJK, Bank Indonesia, perbankan, dan lembaga jasa keuangan lain, diharapkan jaringan layanan dapat diperluas serta edukasi keuangan dilakukan secara masif di seluruh wilayah Pandeglang. (Red/Difeni)







