Home / Daerah

Selasa, 17 Desember 2024 - 11:25 WIB

Banjir Rob Ganggu Usaha Tambak di Kabupaten Serang

Toni, seorang pengusaha tambak di Kampung Cerocoh, Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, bersama yang lainnya mengumpulkan tangkapan ikan saat empang mereka dilanda banjir rob I Dok.Dwi MY-BNC

Toni, seorang pengusaha tambak di Kampung Cerocoh, Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, bersama yang lainnya mengumpulkan tangkapan ikan saat empang mereka dilanda banjir rob I Dok.Dwi MY-BNC

BagusNews.Co – Banjir rob kembali melanda Kampung Cerocoh, Desa Domas, serta Kampung Muara Tengah, Desa Susukan, yang terletak di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang.

Fenomena tersebut terjadi sejak Minggu pagi, 15 Desember 2024 dan diperkirakan terjadi hingga 20 Desember 2024. Akibatnya, kerugian signifikan bagi para pengusaha tambak yang berada di kawasan tersebut.

Toni, seorang pengusaha tambak di Kampung Cerocoh, menjelaskan dampak yang dirasakannya akibat banjir rob tersebut.

“Dampaknya ya, kayak begini, pancaroba. Jadi banjir semua. Empang luasnya sekitar 4 hektare,” ujar Toni kepada BagusNews.Co, Senin, 16 Desember 2024.

Ia menambahkan bahwa kondisi ini turut berpengaruh pada penjualan hasil tambak, di mana harga ikan yang semula Rp20 ribu per kilogram kini terjun bebas menjadi Rp10 ribu.

“Rugi banyak,” tambahnya, meskipun masih ada pembeli yang tertarik, namun dengan harga yang jauh lebih rendah.

Baca Juga :  Dorong Masyarakat Bayar PKB Tepat Waktu, Samsat Pandeglang Gelar Undian Patuh Pajak

Toni juga merespons pertanyaan mengenai perhatian pemerintah daerah terhadap situasi ini. Saat ditanya apakah pihak pemerintah daerah sudah ada yang meninjau lokasi banjir rob.

“Belum ada. Sampai sekarang belum ada yang nengok-nengok,” ungkapnya.

Kejadian banjir rob ini bukanlah hal baru bagi warga setempat, Toni menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya terjadi setiap tiga tahun sekali, terutama di saat pancaroba.

Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan harga ikan adalah tingginya pasokan di pasar akibat banyaknya ikan yang tersisa.

“Karena di pasarannya kan lagi banjir nih. Banyak ikan lagi ya. Jadi ambruk harganya juga,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tangkapan ikan saat ini menurun drastis dan dalam menghadapi situasi sulit ini, Toni berharap adanya bantuan dari pemerintah.

“Kalau normal itu, kalau 3 bulan, kayaknya 1,5 ton dapat. Sekarang paling satu kwintal. Jauh banget. Harapan ya. Mudah-mudahan dapat bantuan dari pemerintah,” harapnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Desak Kejati Usut Tuntas Kasus Pembebasan Lahan Situ Ranca Gede

Sayangnya, ia mengaku hingga saat ini belum ada bantuan yang diterima oleh para pengusaha tambak akibat banjir rob yang melanda.

Dampak banjir rob juga dirasakan oleh permukiman dan pembuangan air di desa tersebut, yang kini terendam. Toni menjelaskan bahwa pembuangan air dari tambak biasanya dialirkan ke empang sekitar, namun tidak dibuang ke sawah.

Sebagian besar pengusaha tambak di daerah ini merupakan orang luar, meskipun Toni menegaskan bahwa ia adalah pengusaha asli dari daerah setempat. Pengelolaan tambak tetap melibatkan warga lokal.

Kejadian banjir rob memerlukan perhatian lebih dari pemerintah dalam memberikan bantuan dan solusi untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan. Seiring dengan harapan masyarakat akan perubahan, tantangan bagi pengusaha tambak di Pontang semakin besar. (Red/Dwi)

Share :

Baca Juga

Daerah

Arsitek Asal Jakarta Juara Lomba Desain Masjid Puspemkab Serang, Segini Hadiahnya

Daerah

Perkuat Dokumentasi Layanan Publik, DPK Banten Lakukan Pengawasan Arsip

Daerah

Pastikan PPDB Berjalan Lancar, Al Muktabar Sidak Dindikbud Banten

Daerah

DPRD Banten Singgung Pejabat yang Tidak Standby Di kantor

Daerah

Komitmen Optimalkan Peran Bank Banten, PJ Gubernur Al Muktabar Ajak Seluruh Pemda Berkolaborasi

Daerah

Hasil SUPAS 2025, Kota Serang Jadi Tujuan Utama Penduduk Migrasi di Banten

Daerah

MTQ XX Provinsi Banten 2023, Kabupaten Tangerang Raih Juara Umum

Daerah

Pemkot Serang Dukung Raperda Keolahragaan yang Digagas Dewan