Home / Opini

Rabu, 15 Oktober 2025 - 16:10 WIB

Ratu Tatu Chasanah: Tak Lekang oleh Waktu

Ratu Tatu Chasanah: Tak Lekang oleh Waktu

Oleh: Abah Elang Mangkubumi

Dalam setiap zaman, ada pemimpin yang meninggalkan warisan lebih dari sekadar pembangunan, mereka meninggalkan keteladanan.

Dan bagi Kabupaten Serang yang pada 2025 usianya telah mencapai 499 tahun, sosok yang meninggalkan keteladanan itu bernama Ratu Tatu Chasanah.

Saya, Abah Elang Mangkubumi, menyaksikan dengan mata hati bagaimana beliau menuntun Kabupaten Serang bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan pengabdian dan kebijaksanaan.

Di tengah derasnya arus zaman dan kepentingan, beliau berdiri tegak; lembut dalam tutur, tegas dalam sikap, dan tulus dalam setiap langkah pengabdian.

Ratu Tatu bukan sekadar pemimpin perempuan; beliau adalah lambang martabat dan kekuatan hati.

Beliau bekerja bukan untuk dikenang, tetapi karena cinta yang dalam kepada tanah dan rakyatnya.

Di tangan beliau, Kabupaten Serang tidak hanya tumbuh dalam infrastruktur, tetapi juga dalam martabat dan kemandirian.

Baca Juga :  Geliat Ekonomi Banten Menggembirakan

Legacy

Sebagai penghargaan atas karya dan dedikasinya, beliau menerima Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia, tanda kehormatan yang hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar membawa perubahan bagi rakyat kecil.

Melalui kebijakan yang berpihak pada petani, beliau menegakkan kembali kemandirian pangan dan ekonomi desa.

Tidak berhenti di situ, kepemimpinannya dalam membina Badan Usaha Milik Daerah melahirkan prestasi beruntun — Top Pembina BUMD Nasional selama tujuh tahun berturut-turut.

Sebuah pencapaian yang menegaskan, bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang banyaknya pidato, tetapi tentang panjangnya hasil kerja.

Dalam dirinya, kelembutan perempuan berpadu dengan keberanian seorang negarawan.

Beliau diakui sebagai Kepala Daerah Perempuan Inspiratif 2022, dan kembali menorehkan sejarah dengan Anugerah PWI 2024 Bidang Kebudayaan, atas perjuangannya melestarikan Jurus Silat Kaserangan, warisan luhur Banten yang menjadi simbol harga diri dan identitas kita.

Baca Juga :  2024 Guru Belum Merdeka

Kini, ketika masa jabatannya usai, bayang kepemimpinan beliau justru terasa semakin hidup.

Karena dari setiap jalan yang diperbaiki, setiap sawah yang kembali hijau, setiap perempuan yang bangkit, dan setiap generasi muda yang berani bermimpi, disana ada jejak Ratu Tatu Chasanah.

Dan hari ini, saya berkata dengan penuh hormat:
Kepemimpinan beliau bukan sekadar masa lalu, melainkan cermin bagi masa depan.

Wibawa

Ketegasan Ratu Tatu menumbuhkan wibawa. Ketulusannya menumbuhkan kepercayaan. Dan dari tangannya lahir contoh bahwa kekuasaan dapat menjadi pengabdian yang suci.

Maka bagi kami, rakyat Kabupaten Serang, Ratu Tatu Chasanah tidak pernah benar-benar pergi.

Beliau hanya berpindah tempat, dari kursi pemerintahan, menuju ruang hati rakyat yang merindukan keteduhan kepemimpinannya.

Cikeusal, 15 Oktober 2025

Penulis adalah Pimpinan Majelis Dzikir Bumi Alit Padjajaran, Kabupaten Serang

Share :

Baca Juga

Opini

Globalisasi Cita Rasa: Fast Food & Gen Z

Opini

Tantangan AI terhadap Dunia Kerja di Indonesia

Opini

Pilkada Menurut Konstitusi Perspektif UUD 1945

Opini

Numbu-numbu Umur

Opini

7 Bulanan Andra-Dimyati dan 25 Tahun Banten

Opini

RAKYAT DISEBUT, TAPI DITINGGALKAN

Opini

Bung Karno dan 80 Tahun Indonesia Merdeka

Opini

Revolusi Kuliner Sehat: Umbi Porang Jadi Bahan Utama Mie Shirataki yang Menyehatkan!